PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam pengembangan EBT
PLN Mengakui Potensi Hidrogen sebagai Pilar Energi Masa Depan Indonesia
Pemandanganindah.com – Jakarta, Indonesia — PT PLN (Persero) secara resmi mengakui bahwa hidrogen memegang peranan krusial dalam transformasi sektor energi nasional. Perusahaan listrik negara ini menilai bahwa teknologi hidrogen menawarkan tingkat keandalan dan fleksibilitas yang tinggi, khususnya dalam konteks pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di seluruh nusantara. Potensi ini mencakup berbagai aplikasi, mulai dari fungsi sebagai pembangkit listrik hingga menjadi sumber daya untuk menggerakkan kendaraan ramah lingkungan.
Edwin Nugraha Putra, yang menjabat sebagai Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero), menyampaikan pandangannya di Jakarta pada hari Selasa. Ia menekankan bahwa visi hidrogen dalam sistem ketenagalistrikan masa depan bukanlah untuk bersaing dengan pembangkit baseload konvensional. Sebaliknya, hidrogen diposisikan sebagai penggerak fleksibel yang mampu mendukung penetrasi energi terbarukan variabel (VRE) dalam skala besar.
"Hidrogen adalah pembawa energi. Ia memungkinkan sistem tenaga yang aman, andal, fleksibel, dan rendah karbon," jelas Edwin Nugraha Putra.
Kemampuan Penyimpanan Jangka Panjang dan Musiman
Salah satu keunggulan utama hidrogen yang disorot oleh PLN adalah kemampuannya dalam penyimpanan energi jangka panjang. Teknologi ini melengkapi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) yang memiliki keterbatasan durasi. Hidrogen mampu menyimpan energi untuk periode lebih dari sepuluh jam, bahkan memungkinkan penyimpanan musiman yang secara ekonomis tidak efisien jika menggunakan teknologi baterai konvensional.
Selain aspek penyimpanan, Edwin juga menyoroti peran strategis hidrogen dalam menggantikan fungsi pembangkit listrik yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil seperti diesel atau gas alam. Transisi ini sejalan dengan upaya nasional untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi tidak terbarukan dan menurunkan emisi karbon secara signifikan. Dengan demikian, PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
Proyek Rengit dan Dedieselisasi Daerah Terpencil
Sebagai bukti nyata implementasi teknologi ini, PLN sedang mengembangkan proyek hidrogen di Pulau Rengit, yang terletak di Kepulauan Bangka Belitung. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara PLN dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tujuan utama proyek tersebut adalah untuk mendukung program dedieselisasi, yaitu pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel di wilayah-wilayah terpencil yang selama ini mengandalkan generator diesel.
"Hidrogen juga menggantikan peran pembangkit listrik diesel/gas ketika output VRE rendah, lebih mudah diatur dan lebih andal, serta menjaga keamanan dan keandalan sistem," tambah Edwin.
Absorpsi Kelebihan Energi dan Aplikasi Industri
Lebih jauh, Edwin menjelaskan bahwa hidrogen memiliki kemampuan unik untuk menyerap kelebihan produksi energi terbarukan. Kelebihan energi tersebut dikonversi menjadi hidrogen (H2) yang kemudian dapat digunakan di kemudian hari atau bahkan diekspor ke sektor industri. Hal ini sekaligus mendukung pertumbuhan industri hijau baru di Indonesia. Selain itu, hidrogen dapat berfungsi sebagai bahan bakar tambahan di pembangkit listrik gas dan batu bara yang sudah ada, sehingga membantu mengurangi emisi tanpa harus menunggu pembangunan aset baru.
Green Hydrogen Plant di Kamojang
Salah satu bentuk aplikasi konkret teknologi hidrogen adalah fasilitas Green Hydrogen Plant (GHP) yang berlokasi di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat. Fasilitas ini dikelola oleh PLN Indonesia Power (IP) dan merupakan yang pertama di Asia Tenggara yang berbasis panas bumi. GHP ini memanfaatkan air kondensasi dari proses produksi listrik untuk menghasilkan hidrogen hijau murni.
Hidrogen yang dihasilkan kemudian disalurkan ke Hydrogen Refueling Station (HRS) yang berada di kawasan Senayan, Jakarta. Proses ini memastikan bahwa hidrogen yang diproduksi benar-benar berasal dari sumber energi terbarukan tanpa emisi karbon tambahan.
"Sehingga di sini kita menghasilkan hidrogen 100 persen dari energi hijau," pungkas Edwin Nugraha Putra.
Dengan berbagai keunggulan dan proyek percontohan yang sedang berjalan, PLN optimis bahwa hidrogen akan menjadi komponen vital dalam ekosistem energi Indonesia yang berkelanjutan dan rendah karbon di masa depan. Pendekatan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mewujudkan visi energi bersih yang andal dan fleksibel untuk generasi mendatang.