GAMAS: Lebih dari sekadar ayah mengantar anak
GAMAS: Makna Kehadiran Ayah yang Lebih Dalam dari Sekedar Mengantar
Pemandanganindah.com – GAMAS - Sebuah insiden mencengangkan terjadi baru-baru ini di Jakarta ketika seorang pria berusia 34 tahun dengan inisial MY mengirimkan pesan ancaman melalui WhatsApp kepada guru di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi. Isi pesan tersebut menyebutkan bahwa teroris akan meledakkan bom di sebelas lokasi sekolah sekaligus meminta pihak sekolah untuk tidak melaporkan kejadian kepada kepolisian. Kejadian ini kebetulan terjadi pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS, saat banyak orang tua laki-laki yang mendampingi anak-anak mereka memasuki lingkungan pendidikan baru.
Ketika ancaman itu datang, polisi segera mengerahkan Tim Gegana bersama dengan anjing pelacak K-9 untuk melakukan pengecekan menyeluruh di area sekolah. Setelah proses pencarian dilakukan, pria tersebut berhasil ditangkap dan ternyata tidak ada bom yang ditemukan di lokasi. Namun, ada sesuatu yang benar-benar meledak dalam hati setiap anak, yaitu perasaan aman yang kadang kali rapuh. Kehadiran seorang ayah pada momen tersebut bukan hanya berfungsi membantu anak beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga menjadi kesempatan emas untuk membangun kedekatan emosional.
Memaknai GAMAS Secara Holistik
Psikolog anak Gloria Siagian menyampaikan pandangannya bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah atau GAMAS seharusnya tidak hanya dipahami sebagai aktivitas fisik mengantarkan anak hingga gerbang sekolah. Menurutnya, kehadiran seorang ayah perlu benar-benar dirasakan secara emosional oleh anak. Terdapat banyak kesempatan bagi seorang ayah untuk mendekatkan diri dengan anak, mulai dari mendengarkan cerita mereka, memahami perasaan saat memasuki lingkungan baru, hingga memberikan rasa aman yang tulus.
Sebaliknya, apabila seorang ayah mengantar anak sambil meluapkan amarah, sibuk dengan telepon genggam, atau tidak memberikan perhatian penuh kepada anak, maka makna kehadiran itu menjadi hilang. Figur ayah kerap dipandang sebagai simbol kekuatan dalam keluarga. Karena itu, keterlibatan ayah pada hari pertama sekolah dapat membantu anak memiliki rasa percaya diri ketika memasuki lingkungan baru.
Tak hanya melalui kebersamaan, anak juga belajar dari cara ayah mengekspresikan emosi. Ayah merupakan percontohan atau role model, terutama bagi anak laki-laki sehingga perilaku sehari-hari akan lebih mudah ditiru dibandingkan nasihat yang disampaikan.
Psikolog tersebut menjelaskan lebih lanjut bahwa apabila seorang ayah terbiasa marah-marah, maka anak akan memodel bahwa cara untuk mengekspresikan emosi adalah dengan marah-marah dan berteriak. Emosi, baik marah maupun sedih, pada dasarnya bersifat netral. Yang perlu dikendalikan adalah perilaku saat emosi itu muncul. Karena itu, orang tua perlu membiasakan diri mengenali emosi yang dirasakan, memahami penyebabnya, lalu mengekspresikannya dengan cara yang sehat.
Ekskspresi emosi itu boleh dan sehat, tapi anak jangan jadi terluka.
Dampak dan Pendampingan bagi Anak
Anak dalam situasi seperti itu berpotensi mengalami kebingungan karena di satu sisi menyayangi orang tuanya, tetapi di sisi lain sekolah merupakan tempat yang selama ini menjadi ruang aman baginya. Selain itu, anak juga berisiko menghadapi stigma dari lingkungan, kehilangan rasa percaya diri, hingga muncul rasa malu dan marah atas peristiwa yang terjadi. Pendampingan perlu dilakukan tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada orang tua agar pola pengasuhan dapat berubah menjadi lebih sehat.
Sementara itu, sekolah juga memiliki peran penting dalam memulihkan hubungan anak dengan lingkungan melalui dukungan guru, guru bimbingan dan konseling, maupun kepala sekolah. Dengan begitu, anak dapat kembali merasa aman, membangun kepercayaan terhadap sekolah, orang tua, dan dirinya sendiri, serta tumbuh tanpa terus dibayangi kesalahan yang bukan dilakukan olehnya.
Hal ini tercermin dari seorang ayah bernama Ridho, setiap harinya dia terbangun jam 05.00 WIB pagi untuk mengantarkan sang anak ke Sekolah Luar Biasa Negeri 02 Jakarta sebelum berangkat ke kantor. Kehadirannya yang konsisten menunjukkan bahwa GAMAS bukan hanya tentang momen pertama, tetapi juga komitmen jangka panjang dalam mendampingi pertumbuhan anak.