Dukungan rasa aman bantu anak untuk melapor kekerasan
Membantu Anak Melaporkan Kekerasan Melalui Rasa Aman dan Dukungan
Pemandanganindah.com – Data terbaru dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 35.131 kasus kekerasan. Dari total tersebut, 23.043 kasus atau setara dengan 65,59 persen merupakan korban anak-anak. Angka ini menyoroti pentingnya upaya pencegahan dan penanganan yang tepat, terutama dalam membantu anak-anak berani mengungkapkan pengalaman buruk yang mereka alami.
Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog menekankan bahwa hubungan hangat dan penuh rasa aman antara anak dengan orang dewasa menjadi salah satu faktor protektif terpenting. Dalam psikologi perkembangan, hal ini dikenal sebagai konsep secure attachment, yaitu hubungan yang responsif, hangat, dan memberikan rasa aman bagi anak terhadap pengasuh atau orang dewasa di sekitarnya.
Mekanisme Anak Bercerita dan Melapor
Menurut Ocha, anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan. Hal ini disampaikan oleh psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut saat memberikan keterangan kepada ANTARA di Jakarta pada hari Sabtu.
"Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan."
Langkah pertama yang perlu dilakukan anak-anak bila mengalami kekerasan maupun perundungan adalah mencari orang dewasa yang dipercaya. Orang tersebut dapat berupa orang tua, guru, anggota keluarga, psikolog, atau orang dewasa lain yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Setelah anak memperoleh perlindungan dan dukungan dari orang dewasa yang dipercaya, kasus dapat diteruskan kepada pihak yang berwenang sesuai kebutuhan.
Faktor Psikologis yang Menghambat Anak Bercerita
Ocha juga menyampaikan bahwa sejumlah faktor psikologis dan perkembangan membuat anak kesulitan mengungkapkan pengalaman kekerasan. Banyak orang mengira anak yang tidak segera bercerita berarti menutupi kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
"Banyak orang mengira anak yang tidak segera bercerita berarti menutupi kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks."
Dalam hal ini faktor psikologis dan perkembangan, kemampuan anak untuk memahami, mengolah, dan menceritakan pengalaman yang dialaminya masih berkembang. Terlebih ketika pengalaman tersebut bersifat traumatis, anak sering kali belum mampu memberi makna atau menyusun kejadian menjadi cerita yang runtut. Tidak jarang mereka hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau menghindari orang tertentu, tanpa mampu menjelaskan penyebabnya.
Ocha menjelaskan bahwa anak ketika mengalami ancaman atau kekerasan, otak secara otomatis mengaktifkan survival response atau mekanisme bertahan hidup. Dalam kondisi tersebut anak dapat menunjukkan respons seperti melawan, menghindar, atau membeku. Pada sebagian anak, sistem saraf juga dapat masuk ke kondisi hypoarousal, sehingga mereka tampak diam, datar, atau seolah tidak bereaksi.
"Akibatnya, ekspresi yang terlihat dari luar tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya dirasakan anak."
Pentingnya Lingkungan yang Aman
Lebih lanjut Ocha mengatakan bahwa anak cenderung akan memilih diam ketika lingkungannya tidak dirasakan sebagai tempat yang aman. Ia mencontohkan seperti anak takut akan ancaman dari pelaku, khawatir tidak dipercaya, merasa akan disalahkan, atau pernah mengalami pengalaman ketika bercerita tetapi justru diabaikan.
Kondisi ini semakin sulit apabila pelaku adalah orang yang dekat dengan anak, seperti anggota keluarga, guru, atau orang yang selama ini dipercaya, karena anak dapat mengalami konflik batin antara rasa takut dan keinginan untuk mempertahankan hubungan tersebut. Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) ini menambahkan bahwa dukungan rasa aman membantu anak untuk melapor kekerasan.
Hari Anak Nasional 2026
Sebelumnya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 mengangkat tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026 bertujuan meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa memenuhi hak anak, memberikan perlindungan dari kekerasan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Melindungi anak bukan hanya tugas keluarga atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan memahami mekanisme psikologis anak dan menciptakan lingkungan yang mendukung, kita dapat membantu lebih banyak anak berani melapor dan mendapatkan perlindungan yang mereka butuhkan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dukungan rasa aman bantu anak?Dukungan rasa aman bantu anak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dukungan rasa aman bantu anak matter?Dukungan rasa aman bantu anak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.