Solving Problems: Maestro tari Betawi Kartini Kisam akui dulunya pemalu
Kartini Kisam: Dari Kecanggungan ke Percaya Diri melalui Seni Tari Betawi
Solving Problems – Di tengah kesibukan menghadiri acara budaya di Jakarta, Kartini Kisam, seorang maestro tari Betawi, menceritakan perjalanan hidupnya yang berubah drastis setelah memulai seni tari. Seorang yang dulu dipercaya sebagai seseorang pemalu, ia kini menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda. “Dari menari ini, saya jadi percaya diri, karena dulunya saya pemalu. Karena belajar nari, saya jadi ‘pede dengan adanya penonton,’” ujar Kartini dalam siniar yang dipantau di Jakarta, Sabtu. Kepercayaan diri yang terbangun dari menari menjadi fondasi penting dalam menjalani hidupnya sebagai pelestari budaya.
Pelajaran Tradisional yang Mengakar
Kartini mengawali perjalanan seni tari sejak usia 13 tahun, saat ia belajar dari neneknya, Mak Kinang. Sebagai generasi ketiga yang menggeluti tari Betawi, ia merasa seni ini telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak dini. “Saya belajar dari nenek saya. Saya itu belajarnya sebagai tari tradisi, jadi bukan dari akademi, jadi turun-temurun,” tambah Kartini. Proses belajar ini tidak hanya mengajarkan gerakan tari, tetapi juga mengakar dalam nilai-nilai budaya Betawi yang kini ia tinggalkan sebagai warisan.
Dalam proses belajar, Kartini menemukan cara unik untuk menggabungkan tradisi dengan modernisasi. Meski berasal dari dunia tradisional, ia terus berusaha memperkenalkan tari Betawi kepada generasi muda dengan metode yang lebih relevan. “Saya selalu memberikan pelajaran-pelajaran dan mengenalkan dari mulai seni tari, budayanya, sejarahnya, sampai juga mengenalkan kebiasaan-kebiasaan sejarah di Jakarta,” tutur Kartini. Hal ini membuatnya merasa bangga, karena seni yang ia pelihara kini bisa diakses oleh berbagai kalangan.
Misi Budaya di Luar Batas Daerah
Kartini tidak hanya memperkenalkan tari Betawi di dalam negeri, tetapi juga secara aktif mengembangkan budaya ini ke luar Jakarta, bahkan ke luar negeri. Berkat dukungan dari dinas kebudayaan dan dewan kesenian, ia diberi kesempatan untuk menyampaikan seni Betawi di berbagai wilayah seperti Jawa, Bali, Sunda, Sumatera, dan Kalimantan. “Mengenalkan tari Betawi ke daerah-daerah, antara lain Jawa, Bali, Sunda, dan Sumatera, serta Kalimantan. Kemudian juga saya pernah diajak ke luar negeri oleh dinas kebudayaan dan dewan kesenian, itu melalui menari,” ujar Kartini.
Kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya Betawi, tetapi juga membuka mata masyarakat luas tentang kekayaan seni lokal. Dengan memperkenalkan tarian secara langsung, Kartini berharap seni ini bisa terus hidup dan dinikmati oleh banyak orang. “Masyarakat sekarang lebih tertarik mempelajari tari dan budaya Jakarta, terutama karena adanya perlombaan tari tradisi yang semakin marak,” imbuh Kartini.
Warisan yang Terus Diteruskan
Kartini, yang telah menggeluti seni tari selama 50 tahun, tetap aktif dalam mengajar dan berbagi pengetahuan. Dari sekolah, sanggar, hingga perguruan tinggi, ia memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tari Betawi. “Saya selalu berusaha menjaga keaslian tari Betawi, sekaligus menggabungkannya dengan konteks zaman sekarang agar lebih menarik,” kata Kartini. Upaya ini terus dilakukan meski ada tantangan dari seni modern yang lebih populer di kalangan anak muda.
Menurut Kartini, tari tradisional tidak boleh ditinggalkan, karena ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. “Tanpa kita mengenalkannya, sejarah dan budaya itu sendiri akan hilang. Tari tradisional merupakan seni budaya yang perlu disayangi, harus dirawat, dilestarikan, dan diteruskan, supaya seni budaya tetap jaya sepanjang masa,” pungkas Kartini. Pandangannya ini menggambarkan komitmen seorang seniman yang ingin memastikan budaya Betawi tidak hanya diabadikan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peluang untuk Kembangkan Seni Budaya
Kegiatan lomba tari tradisi yang semakin banyak memberikan momentum bagus bagi Kartini. Ia melihat adanya keberanian masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengeksplorasi seni tari secara lebih mendalam. “Entah itu dari sekolah, entah itu dari sanggar-sanggar, juga perguruan tinggi, sudah mulai mau mempelajari tentang tari dan budaya Jakarta, serta Betawi itu sendiri,” ujar Kartini. Dalam konteks ini, Kartini merasa seni Betawi tidak hanya bisa dihargai sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas nasional.
Kartini juga menekankan pentingnya konsistensi dalam pelestarian seni. Meski tari modern cenderung mendominasi, ia yakin tarian tradisional tetap memiliki tempat khusus. “Dengan berbagai tantangan, salah satunya tarian modern yang populer di kalangan anak muda, memperkenalkan tari tradisional harus terus dilakukan agar generasi muda lebih mencintai budayanya,” tambahnya. Untuk mencapai hal ini, Kartini berperan aktif dalam menyebarkan pengetahuan dan pengalaman menari ke berbagai penjuru.
Dalam perjalanan hidupnya, Kartini Kisam telah menjadi simbol dari ketekunan dan keberanian. Dari seorang pemalu yang takut berhadapan dengan orang banyak, ia berubah menjadi seorang maestro yang mampu menginspirasi banyak orang. Kini, usia 50 tahun, ia masih bersemangat dalam menjalani tugasnya sebagai penari dan pengajar. “Saya merasa bersyukur karena tari Betawi semakin dikenal, dan masyarakat mulai peduli,” tutur Kartini. Dengan semangat ini, ia terus berusaha memastikan seni budaya Betawi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.