Robby/Desak sabet perak estafet campuran World Climbing Series Krakow

Robby/Desak Sabet Perak Estafet Campuran World Climbing Series Krakow

Robby Desak sabet perak estafet campuran – Jakarta, ANTARA — Pasangan atlet panjat tebing dari kontingen Indonesia, Robby Al Hilmi dan Desak Made Rita Kusuma Dewi, berhasil meraih medali perak dalam babak estafet campuran World Climbing Series Krakow 2026. Kompetisi yang diadakan di Polandia, Sabtu (3/7), menjadi momen penting bagi dua atlet yang berjuang keras untuk menorehkan prestasi. Hasil ini memperkuat posisi Indonesia di papan atas dalam ajang internasional tersebut.

Dalam pertandingan final, pasangan Robby/Desak mencatat waktu 11,48 detik. Angka ini cukup baik, namun masih kalah dari pasangan Amerika Serikat, Samuel Watson dan Emma Hunt, yang meraih emas dengan catatan 10,89 detik. Meski demikian, pencapaian perak tetap menjadi bukti kompetensi atlet Indonesia di level global. Selain itu, ada kejutan di babak perunggu yang diraih oleh Raharjati Nursamsa dan Raji’ah Sallsabillah, yang menyumbang medali perunggu setelah melawan pasangan China, Zhao Yafei dan Zhao Yicheng.

“Alhamdulillah, hari ini kami sudah mengoleksi tiga medali, masing-masing satu emas, perak, dan perunggu dari tiga nomor berbeda,” ujar Asisten Pelatih Timnas Panjat Tebing Disiplin Speed Indonesia, Fitriyani, kepada ANTARA dari Jakarta. Ia menambahkan, keberhasilan ini memperlihatkan kemajuan kontingen Indonesia dalam berbagai bidang kejuaraan.

Pada hari pertama turnamen, Desak Made Rita Kusuma Dewi mempersembahkan medali emas dalam nomor speed individu putri. Kemenangan tersebut menunjukkan dominasi atlet wanita Indonesia di babak tersebut. Sementara itu, Raharjati Nursamsa membawa pulang medali perunggu di nomor speed individu putra, menunjukkan bahwa timnas memiliki kekuatan di kedua jenis gender. Pencapaian ini menjadi hasil dari latihan intensif yang telah dilakukan sebelumnya.

Estafet campuran menjadi ajang baru untuk menguji koordinasi dan kemampuan tim. Robby Al Hilmi dan Desak Made Rita Kusuma Dewi memperlihatkan kerja sama yang solid, meskipun kalah dari pasangan AS yang lebih unggul. Namun, perak yang diraih tetap menjadi pencapaian membanggakan. Di babak perebutan perunggu, pasangan Raharjati dan Raji’ah Sallsabillah juga berusaha maksimal, meski kekalahan mereka melawan pasangan China menunjukkan bahwa kompetisi ini sangat ketat.

Timnas panjat tebing Indonesia membawa tujuh atlet untuk mengikuti World Climbing Series Krakow 2026. Mereka terdiri dari empat atlet putra dan tiga putri. Atlet putra yang turun antara lain Raharjati Nursamsa, Antasyafi Robby Al Hilmi, Veddriq Leonardo, serta Aditya Tri Syahria. Sementara untuk atlet putri, Desak Made Rita Kusuma Dewi, Raji’ah Sallsabillah, dan Kadek Adi Asih menjadi representasi kontingen.

Kompetisi ini diadakan pada 3–5 Juli di Rynek Glowny, Krakow Market Grand Square, Polandia. Lokasi yang dipilih memberikan suasana semangat berkompetisi bagi semua peserta. Setiap nomor memiliki tantangan berbeda, mulai dari kecepatan hingga kekuatan teknik. Indonesia pun siap memperjuangkan medali tambahan dalam hari terakhir penyelenggaraan, Minggu (5/7), terutama di nomor speed putra dan putri yang masih terbuka.

Fitriyani menekankan pentingnya dukungan publik untuk kesuksesan atlet. “Mohon doanya untuk tim yang besok (Minggu) akan berjuang di relay putra dan putri,” tambahnya. Ia berharap medali yang telah diraih menjadi fondasi untuk hasil lebih baik di sesi akhir. Dukungan ini sangat berarti karena kompetisi internasional seperti World Climbing Series membutuhkan mental yang tangguh dan konsistensi dalam performa.

Kemajuan Indonesia di ajang ini menunjukkan peningkatan kualitas atlet panjat tebing nasional. Sebelumnya, Timnas telah menorehkan prestasi di beberapa event sebelumnya, dan hasil kali ini menegaskan komitmen untuk terus berkembang. Robby dan Desak menjadi contoh nyata kerja keras yang berbuah keberhasilan. Selain itu, Raharjati dan Raji’ah juga menunjukkan potensi besar dalam nomor-nomor yang berbeda.

Estafet campuran menjadi bagian penting dari format kejuaraan modern yang menggabungkan kecepatan dan kerja sama tim. Di babak ini, setiap atlet harus memperlihatkan kemampuan fisik dan mental yang optimal. Meski Robby/Desak gagal meraih emas, perak yang diperoleh menjadi buah dari persiapan matang dan kepercayaan diri yang tinggi. Keberhasilan ini juga membanggakan karena Indonesia mampu bersaing di kelas internasional.

Dalam rangkaian World Climbing Series, kompetisi di Krakow dianggap sebagai salah satu event yang menantang karena peserta dari berbagai negara mengikuti dengan serius. Medali perak yang diraih menjadi penanda bahwa Indonesia belum menyerah meski menghadapi lawan-lawan tangguh. Para atlet muda pun terus berkembang, memberikan harapan untuk prestasi lebih baik di masa depan.

Kontingen Indonesia juga menyiapkan strategi untuk menghadapi hari terakhir. Dalam nomor speed putra, Veddriq Leonardo dan Aditya Tri Syahria diperkirakan akan memberikan performa terbaik mereka. Sementara untuk putri, Desak Made dan Kadek Adi Asih bisa menjadi andalan. Fitriyani berharap medali yang diperoleh pada hari pertama menjadi motivasi untuk menjaga momentum hingga akhir.

World Climbing Series Krakow 2026 menjadi ajang pembuktian bagi atlet Indonesia. Selama tiga hari kompetisi, timnas menorehkan tiga medali yang beragam jenisnya. Hasil ini juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan dalam berbagai kategori, baik individu maupun tim. Tantangan di babak terakhir pasti lebih berat, tetapi dukungan dan semangat atlet bisa menjadi kunci sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *