New Policy: PTPN I Jaga Praja dan Ekonomi Petani Pemilik Lahan di Jember
PTPN I Menjaga Martabat dan Kesejahteraan Petani Pemilik Lahan di Jember
New Policy – Desa Ajong yang terletak di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, kini telah dikenal luas hingga ke berbagai negara. Reputasi wilayah ini semakin kuat sebagai pusat produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) kelas premium yang dikelola oleh PTPN I (Persero) Regional 5. Potensi ekspor yang sangat menjanjikan membuat perusahaan BUMN perkebunan ini tidak ingin menikmati keuntungan devisa secara sendiri. Sebaliknya, manajemen mengambil pendekatan yang lebih demokratis dan berpihak kepada masyarakat lokal untuk memenuhi permintaan pasar internasional yang terus berkembang pesat.
Strategi ini diimplementasikan melalui program kemitraan yang inklusif, profesional, dan kompetitif dengan masyarakat sekitar. Menurut Direktur Utama PTPN I, Dr. Abdul Rivai Ras, kebijakan untuk bekerja sama dengan masyarakat lokal merupakan amanat negara yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Di Jember, PTPN I mengajak para petani pemilik lahan yang biasanya menanam padi atau palawija untuk bergabung dalam rantai pasok tembakau global melalui model bisnis yang berkelanjutan.
Kolaborasi agribisnis di Ajong, Jember ini dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. Di satu sisi, PTPN I mengukuhkan posisinya di pasar internasional lewat keunggulan TBN, dan di sisi lain, petani lokal menghadirkan potensi aset lahan yang luar biasa. Melalui skema rotasi komoditas, kami melakukan sewa lahan persawahan warga secara kompetitif, dengan komitmen penuh bahwa aktivitas produksi dan penggarapan di lapangan tetap memberdayakan pemilik lahan itu sendiri. Dengan pola ganda ini, petani berhak mendapatkan uang sewa di depan sekaligus menerima upah dari hasil pekerjaannya. Melalui pendekatan ini, ‘praja’ alias harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga seutuhnya. Ini adalah bentuk kolaborasi yang sangat produktif,
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Abdul Rivai Ras di Jakarta pada hari Kamis, tanggal 9 Juli. Skema kemitraan lahan yang diterapkan oleh PTPN I Regional 5 di Ajong diproyeksikan menjadi contoh nasional bagi model kemitraan agribisnis di masa depan. Rivai menyebutkan bahwa nilai kompensasi sewa lahan persawahan yang diberlakukan di Ajong dinilai sangat kompetitif dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Meskipun status lahannya disewakan kepada korporasi untuk budidaya tembakau ekspor, para petani sama sekali tidak kehilangan akses hukum maupun fisik terhadap aset tanah yang mereka miliki. Pemilik tanah tetap berkecimpung langsung di ladang, mengawal keamanan asetnya sendiri, serta berkesempatan memperoleh transfer teknologi budidaya pertanian mutakhir. Hal ini memberikan rasa percaya diri dan kepastian bagi para petani.
Petani pemilik lahan pada dasarnya membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset yang mereka miliki, dan rasa percaya diri di hadapan orang lain. Hal yang jauh lebih penting dari program ini adalah para petani pemilik lahan palawija dan padi ini, yang umumnya masih menerapkan budidaya tradisional, kini bisa menyerap pengetahuan dan pengalaman langsung dari model pertanian modern, seperti smart farming berbasis science farming. Dengan ilmu yang ditransfer ini, PTPN I (Persero) berharap mereka bisa lebih mandiri dan sejahtera di masa depan,
Tambahan penjelasan dari Rivai ini menunjukkan bahwa PTPN I tidak hanya fokus pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Melalui perluasan skala kemitraan yang masif, PTPN I menempatkan para petani pemilik lahan lokal sebagai mitra strategis dalam ekonomi sirkular korporasi. Ikatan kerja sama yang saling menguntungkan ini menempatkan masyarakat Ajong sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di sektor perkebunan nasional.
Manfaat nyata dari rajutan kemitraan ini dirasakan langsung oleh Supardi, seorang petani berusia 48 tahun yang tinggal di Desa Ajong dan sehari-hari biasa menanam padi. Ia menyebut prakarsa PTPN I menyewa sawah milik warga dengan pola padat karya ini sebagai langkah nyata korporasi dalam membangun kolaborasi yang inklusif. Program ini memberikan kepastian finansial bagi keluarganya sekaligus menjadi modal untuk musim tanam berikutnya.
Kami merasa sangat beruntung dengan adanya program kemitraan lahan dari PTPN I Regional 5 ini. Pembayaran kompensasi yang diselesaikan langsung di depan memberikan kepastian bagi kami untuk menjamin kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal bertani di musim berikutnya. Ditambah lagi, kami tidak kehilangan mata pencaharian karena tetap dilibatkan untuk menggarap lahan sendiri dengan upah harian yang sangat layak. Dengan begitu, kami tetap memiliki rasa bangga dan martabat karena mengawal tanah kami sendiri,
Ungkapan Supardi mencerminkan kepuasan masyarakat terhadap program ini. Model kolaborasi inklusif yang digagas oleh PTPN I ini terus mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Jember. Terbukti, dalam setiap sekali musim tanam, antusiasme tinggi dari warga mampu menggerakkan penyerapan ratusan hingga ribuan hektare lahan persawahan untuk disewa dan dikerjasamakan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang berpihak kepada rakyat memang memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal maupun perusahaan.