Pemkab Sigi: Proses penanganan rumah rusak ringan mulai pekan depan
Pemkab Sigi Persiapkan Tahap Baru Penanganan Rumah Terdampak Gempa
Pemkab Sigi – Sigi – Pemerintah Kabupaten Sigi di Provinsi Sulawesi Tengah telah memastikan bahwa proses pemulihan hunian yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang akibat bencana gempa bumi akan segera memasuki fase baru. Wilayah Nokilalaki dan Palolo menjadi fokus utama dalam penanganan ini, dengan jadwal yang telah ditetapkan akan dimulai pada pekan depan. Langkah ini merupakan kelanjutan dari upaya yang telah dilakukan sebelumnya untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyelesaikan tahap finalisasi pendataan kebutuhan hunian sementara atau huntara bagi rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat. Proses ini sangat penting untuk memastikan bahwa setiap keluarga yang kehilangan tempat tinggal dapat segera mendapatkan bantuan yang layak. Samuel menjelaskan bahwa rumah dengan kategori rusak ringan dan rusak sedang akan diakomodasi pada tahapan berikutnya setelah tahap awal selesai.
Untuk penanganan rumah dengan kategori rusak ringan dan rusak sedang akan diakomodasi pada tahapan berikutnya.
Keterangan ini disampaikan oleh Samuel saat ditemui oleh awak media di Dolo pada hari Sabtu. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD setempat akan segera melakukan sosialisasi kepada tim asesmen terkait rumah rusak ringan dan sedang akibat gempa bumi tersebut. Sosialisasi ini bertujuan agar semua pihak memahami prosedur dan kriteria yang akan digunakan dalam penilaian kerusakan.
Pekan depan kita mulai sosialisasi tim yang akan melakukan asesmen yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sigi untuk kategori rumah rusak ringan dan rusak sedang.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Satgas Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempa Bumi Sigi, total rumah rusak mencapai 4.012 unit. Angka ini mencakup berbagai tingkat kerusakan, yaitu 266 rumah rusak berat, 1.195 rumah rusak sedang, dan 2.551 rumah rusak ringan. Jumlah ini menunjukkan skala dampak yang signifikan terhadap masyarakat di wilayah terdampak.
Samuel menjelaskan bahwa fokus utama pada tahap pertama dan kedua adalah untuk rumah dan tempat ibadah yang mengalami kerusakan berat. Sementara itu, tahap ketiga baru akan menangani rumah-rumah rusak ringan dan sedang. Pendekatan bertahap ini memungkinkan pemerintah untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien dan memastikan prioritas terpenuhi sesuai tingkat keparahan kerusakan.
Jadi memang fokus pada tahap pertama dan kedua untuk rumah dan tempat ibadah rusak berat, sedangkan tahap ketiga ini baru kita mengurusi rumah-rumah rusak ringan dan sedang.
Pihak pemerintah berharap agar seluruh warga yang rumahnya mengalami kerusakan, baik ringan maupun sedang, bisa segera terdata dengan baik. Proses pendataan yang akurat sangat penting untuk memastikan bahwa setiap keluarga yang terdampak dapat menerima hak penanganan yang sesuai dengan tingkat kerusakan yang mereka alami. Tanpa data yang lengkap dan valid, distribusi bantuan tidak akan berjalan optimal.
Tim asesmen yang akan dibentuk terdiri dari berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Sigi. Mereka akan melakukan survei lapangan untuk memverifikasi kondisi setiap rumah dan menentukan kategori kerusakan yang tepat. Proses ini memerlukan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, tim teknis, dan masyarakat setempat.
Selain penanganan rumah tinggal, pemerintah juga memperhatikan tempat ibadah yang rusak akibat gempa. Hal ini sejalan dengan kebutuhan spiritual masyarakat yang tidak kalah pentingnya dibandingkan kebutuhan fisik. Dengan pendekatan holistik, diharapkan pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan menyeluruh.
Masyarakat di wilayah Nokilalaki dan Palolo telah menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi bencana ini. Namun, dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak tetap diperlukan untuk memastikan bahwa proses rehabilitasi berjalan sesuai rencana. Dengan adanya jadwal yang jelas dan tahapan yang terstruktur, diharapkan setiap keluarga dapat segera kembali ke kondisi normal setelah bencana.
Pemkab Sigi juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan penanganan rumah rusak hingga tuntas. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan bahwa setiap tahap berjalan dengan baik dan tidak ada keluarga yang tertinggal. Transparansi dalam proses ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program pemulihan yang sedang dilaksanakan.