Kalteng optimalkan pemadaman darat dan udara tanggulangi karhutla
Kalteng Perkuat Strategi Pemadaman Gabungan Darat dan Udara untuk Atasi Karhutla
Kalteng optimalkan pemadaman darat dan udara – Palangka Raya menjadi pusat koordinasi upaya pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah tersebut. Melalui sinergi antar berbagai sektor terkait, strategi pemadaman yang menggabungkan kekuatan darat dan udara terus dioptimalkan untuk menekan laju penyebaran api. Pendekatan komprehensif ini dinilai sebagai langkah krusial agar penanganan bencana dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Ahmad Toyib, yang menjabat sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Kalteng, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam operasional penanggulangan. Dalam pernyataannya di Palangka Raya pada hari Senin, ia menjelaskan bahwa integrasi antara pemadaman berbasis darat dengan bantuan udara merupakan wujud nyata komitmen pemerintah. Tujuannya jelas, yaitu memastikan setiap aspek pengendalian karhutla berjalan optimal tanpa ada celah yang terlewatkan.
Dukungan Helikopter dari BNPB untuk Operasi Water Bombing
Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberikan kontribusi signifikan melalui penyediaan dua unit helikopter pengebom air atau yang dikenal dengan istilah water bombing. Dengan tambahan ini, total armada helikopter yang aktif mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah mencapai empat unit. Dua helikopter lainnya selain water bombing berfungsi sebagai alat patroli untuk memantau perkembangan situasi di lapangan secara berkala.
Operasional helikopter water bombing di Kalteng telah dimulai sejak tanggal 7 Juli 2026. Sejak saat itu, bantuan dari udara terus disalurkan ke berbagai titik panas yang teridentifikasi. Beberapa lokasi prioritas yang mendapat perhatian khusus antara lain Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau, Kelurahan Bukit Tunggal di Kota Palangka Raya, serta Desa Eka Bahurui dan Desa Soren yang berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Hingga tanggal 12 Juli 2026, total volume air yang telah digunakan dalam operasi water bombing mencapai 2,36 juta liter. Angka ini mencerminkan intensitas dan konsistensi upaya pemadaman yang dilakukan baik dari udara maupun darat secara bersamaan.
Peningkatan Kejadian Karhutla Masih Terkendali
Ahmad Toyib yang juga berperan sebagai Komandan Harian Posko Penanggulangan Darurat Karhutla Kalteng menyampaikan analisis data terkini. Berdasarkan pemantauan Posko Krisis Karhutla Pusdalops PB Kalteng, terjadi peningkatan jumlah kejadian karhutla selama bulan Juli 2026. Meskipun demikian, respons yang diberikan oleh posko karhutla di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota dinilai masih mampu mengendalikan situasi dengan baik.
Salah satu lokasi yang menjadi sorotan adalah Tumbang Nusa di Pulang Pisau. Tim darat dan tim udara berhasil melakukan blokade terhadap api di wilayah tersebut, sehingga penyebaran api ke area sekitarnya dapat diminimalisir. Upaya ini menunjukkan efektivitas koordinasi antar tim yang beroperasi di lapangan.
Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, sebelumnya telah menegaskan bahwa pemerintah provinsi bersama seluruh elemen terkait berupaya maksimal dalam pencegahan maupun penanggulangan karhutla. Strategi mitigasi bencana yang diterapkan mencakup berbagai aspek, mulai dari penguatan edukasi masyarakat hingga peningkatan frekuensi patroli di wilayah rawan.
Kami bersinergi bersama TNI-Polri, relawan dan lainnya, bersama-sama mengoptimalkan penanganan karhutla, ujar Gubernur dalam kesempatan sebelumnya. Pernyataan ini menegaskan komitmen seluruh pihak untuk bekerja sama tanpa memandang perbedaan sektor atau institusi.
Data Statistik Karhutla Kalteng Per Juli 2026
Berdasarkan rekaman data yang dikumpulkan dari tanggal 1 Januari 2026 hingga 12 Juli 2026, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2.446 titik. Angka ini menjadi indikator penting untuk menilai tingkat keparahan dan sebaran kebakaran di seluruh wilayah provinsi.
Untuk perhitungan luas area yang terbakar, terdapat dua metode berbeda yang digunakan. Pertama, berdasarkan laporan lapangan dari kabupaten dan kota yang disampaikan ke Pusdalops Kalteng, luas area terbakar mencapai 660,12 hektare. Kedua, menggunakan pendekatan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS yang di-overlay dengan data sebaran hotspot, hasil ground check, serta informasi pemadaman oleh Manggala Agni dari KLHK, luas area terbakar tercatat sebesar 2.915,11 hektare.
Kedua angka ini memberikan gambaran komprehensif tentang cakupan dampak karhutla. Perbedaan signifikan antara kedua metode perhitungan mencerminkan kompleksitas dalam memetakan area yang terdampak, terutama di wilayah dengan tutupan awan atau vegetasi lebat yang menyulitkan identifikasi visual.
Upaya terus-menerus dalam pemadaman dan pencegahan diharapkan dapat mengurangi angka-angka tersebut di masa mendatang. Koordinasi yang solid antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan karhutla yang semakin kompleks setiap tahunnya.