RI-Swiss kerja sama strategis perkuat industri mineral dan logam
Indonesia dan Swiss Perkuat Kolaborasi Strategis di Sektor Mineral dan Logam
RI Swiss kerja sama strategis perkuat – Jakarta – Indonesia dan Swiss telah menandatangani dokumen penting yang menandai dimulainya fase baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Inisiatif ini dikenal sebagai RI Swiss kerja sama strategis yang bertujuan memperkuat industri mineral dan logam nasional. Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan judul Enhanced Cooperation in the Minerals and Metals Sector, kedua belah pihak berkomitmen untuk meningkatkan sinergi di berbagai bidang strategis.
Proses penandatanganan secara resmi dikonfirmasi di Jakarta pada hari Kamis oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani. Sebelumnya, Presiden Konfederasi Swiss dan Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, telah menandatangani dokumen tersebut secara sirkuler pada tanggal 23 Juni 2026 di kota Basel, Swiss. Acara penandatanganan ini berlangsung bersamaan dengan penyelenggaraan Swissmem Industry Day 2026 yang dihadiri oleh para pelaku industri dari kedua negara.
Nilai Tambah dan Daya Saing Industri Nasional
Rosan Roeslani menekankan bahwa inisiatif ini merupakan tonggak penting dalam memperkuat kemitraan bilateral. Indonesia dikaruniai kekayaan sumber daya mineral yang melimpah, namun ambisi pemerintah tidak berhenti pada ekspor bahan mentah. Fokus utama adalah menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, serta memperkuat daya saing industri nasional melalui proses hilirisasi yang berkelanjutan.
Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi. Dalam upaya tersebut, Swiss merupakan mitra yang ideal dengan keunggulannya di bidang teknologi, inovasi, keberlanjutan, pembiayaan, logistik, dan akses pasar global.
Kerja sama ini sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional yang berfokus pada hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah mineral strategis melalui pengembangan industri pengolahan dan manufaktur berteknologi tinggi. Ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau menjadi bagian integral dari strategi ini untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Momentum 75 Tahun Hubungan Diplomatik
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyampaikan bahwa MoU ini menjadi landasan baru bagi kedua negara. Penandatanganan ini merupakan momentum yang sangat tepat karena tahun 2026 menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Swiss dan Indonesia. Kerangka kerja sama mencakup berbagai aspek penting seperti promosi dan fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam berkelanjutan, pertukaran pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia.
Nota kesepahaman ini memanfaatkan keunggulan yang saling melengkapi antara kedua negara, dengan menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, keahlian, dan modal dari Swiss di sepanjang rantai nilai, mulai dari investasi dan inovasi hingga praktik pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Pihak Swiss berharap kerja sama ini akan semakin mempererat kemitraan ekonomi kedua negara. Manfaat berkelanjutan diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat di Indonesia maupun Swiss. Kerjasama ini juga akan mendorong pertukaran best practices dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan industri hilir yang lebih efisien.
Realisasi Investasi dan Kerangka Kerja Sama
Praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi bagian dari kerangka kerja sama ini. Pengembangan teknologi bersih (cleantech), peningkatan tata kelola industri hilir, serta penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pameran, pelatihan, dan business matching akan dilakukan secara berkala. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap investasi yang masuk memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal dan lingkungan.
Data menunjukkan bahwa selama periode 2021 hingga triwulan I 2026, realisasi investasi Swiss di Indonesia mencapai sekitar 1,33 miliar dolar AS. Sektor industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta industri kimia dan farmasi menjadi kontributor utama investasi tersebut. Penguatan hubungan ekonomi kedua negara turut didukung melalui implementasi Indonesia–European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Kesepakatan ini memberikan kepastian dan kemudahan bagi pelaku usaha kedua negara dalam menjalankan kegiatan bisnis mereka.
Dengan demikian, kerja sama strategis ini diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara, khususnya dalam sektor mineral dan logam yang menjadi salah satu tulang punggung industri nasional Indonesia. Kolaborasi ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi hijau dan inovasi di berbagai sektor industri.