BTN selektif salurkan kredit korporasi saat biaya dana meningkat
BTN Ketat Salurkan Kredit Korporasi di Tengah Tekanan Biaya Dana
BTN selektif salurkan kredit korporasi saat – Di tengah kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN memutuskan untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada perusahaan-perusahaan besar. Langkah ini diambil seiring dengan kenaikan biaya dana yang terjadi, khususnya bagi segmen korporasi dengan imbal hasil yang relatif rendah. Meskipun demikian, perseroan menegaskan bahwa penyaluran kredit untuk berbagai program pemerintah, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan, Kredit Program Perumahan (KKP), serta Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tetap menjadi fokus utama.
Respons Terhadap Kenaikan Suku Bunga dan Likuiditas
Nixon LP Napitupulu, selaku Direktur Utama BTN, menjelaskan bahwa perusahaan telah memilih untuk sangat selektif terhadap korporasi besar dengan yield rendah. Bahkan, beberapa debitur seperti itu cenderung dihapus terlebih dahulu dari pipeline kredit perseroan. Keputusan strategis ini didasari oleh kenyataan bahwa kenaikan biaya dana membuat BTN tidak lagi mampu menawarkan kredit dengan bunga yang terlalu murah kepada para debiturnya.
“Hari ini kita tidak bisa jualan bunga kredit terlalu murah karena memang cost of fund naik. Karena itu, kita memilih segmen yang akan kita masuki. Program pemerintah masih tetap jalan. Tetapi untuk korporasi yang bunganya terlalu murah, mulai kita kurangi,” ujar Nixon dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis.
Kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate, yang diikuti oleh peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), telah menyerap likuiditas perbankan secara signifikan. Hal ini menyebabkan biaya penghimpunan dana menjadi lebih tinggi. Nixon menambahkan bahwa perseroan terus memantau perkembangan BI-Rate maupun suku bunga SRBI yang masih menunjukkan tren meningkat. Selama belum ada sinyal pelonggaran kebijakan moneter, BTN akan tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
Manajemen Likuiditas dan Target Pertumbuhan
Perseroan juga menggelar rapat asset liability committee (ALCO) setiap pekan guna memantau perkembangan likuiditas dan kondisi makroekonomi secara lebih intensif. Nixon menekankan bahwa likuiditas merupakan faktor penentu saat ini, dan perusahaan tidak bisa memaksakan pertumbuhan kredit ketika ketersediaan uang terbatas.
“Game changer hari ini adalah likuiditas. Tidak bisa kita memaksakan kredit tumbuh dalam kondisi uang tidak ada. Likuiditas itu seperti darah dalam tubuh. Kalau darahnya berkurang, ya jangan dipaksa berlari kencang,” kata Nixon dengan analogi yang menggambarkan pentingnya keseimbangan likuiditas.
Di sisi lain, BTN tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8-10 persen tanpa melakukan revisi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB). Perseroan hanya menyesuaikan indikator kinerja internal (KPI) saja. Nixon menjelaskan bahwa keputusan RBB telah disepakati bersama Danantara, sehingga hanya KPI internal yang diubah sementara angka-angka utama tetap tidak berubah.
Biaya Dana dan Pengaruh Saldo Anggaran Lebih
BTN juga mempertahankan target biaya dana pada kisaran 3,1-3,3 persen hingga akhir tahun. Tekanan terhadap biaya dana meningkat ketika penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) berlangsung bersamaan dengan penyerapan likuiditas melalui SRBI dan penerbitan instrumen pemerintah. Kondisi ini memicu persaingan bunga deposito pada akhir Juni. Namun, tekanan tersebut mulai mereda setelah pemerintah mengembalikan sebagian dana SAL ke bank-bank Himbara, termasuk BTN yang menerima tambahan dana hampir Rp13 triliun.
Pascapenempatan kembali SAL oleh pemerintah, tekanan likuiditas dan persaingan suku bunga mulai berkurang. Perseroan berharap pengembalian dana SAL kepada pemerintah selanjutnya dilakukan dengan memperhatikan waktu yang tepat. Nixon menyebutkan bahwa kecuali September yang sudah jelas kapan dana harus dikembalikan, penarikan berikutnya akan dilakukan secara bertahap dengan timing yang sesuai.
Pertumbuhan Kredit dan Kualitas Aset
Per akhir Juni 2026, BTN mencatat kredit dan pembiayaan konsolidasi tumbuh sebesar 11,2 persen secara tahunan menjadi Rp418,11 triliun. Kenaikan signifikan terjadi di sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen menjadi Rp332,88 triliun, sementara kredit non-perumahan melonjak tajam sebesar 46,1 persen menjadi Rp85,22 triliun. Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tetap menjadi mesin pendorong utama dengan kenaikan 8,1 persen menjadi Rp196,96 triliun. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.
Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp433,00 triliun atau tumbuh 6,6 persen secara tahunan. Perseroan terus memperkuat struktur dana murah sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Per akhir Juni 2026, cost of fund BTN berada pada level 3,01 persen. Kualitas aset terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) yang turun dari 3,3 persen pada semester I 2025 menjadi 2,99 persen pada semester I 2026. Perseroan juga berhasil menurunkan loan at risk (LAR) menjadi 18,6 persen, menunjukkan perbaikan dalam manajemen risiko kredit secara keseluruhan.