BPBD Kotawaringin Barat tangani karhutla 113,5 hektare
BPBD Kotawaringin Barat Tangani Karhutla 113 Hektare di Tiga Kecamatan
BPBD Kotawaringin Barat tangani karhutla 113 5 – Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat telah menyelesaikan penanganan kebakaran hutan dan lahan yang mencakup area seluas 113,51 hektare. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kobar, Reneli, menyampaikan informasi ini di Pangkalan Bun pada hari Kamis. Ia menjelaskan bahwa dari total luas lahan yang terbakar, tercatat sebanyak 63 titik kejadian dan 85 titik kemunculan hotspot yang tersebar di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat.
Angka-angka tersebut merupakan hasil rekapitulasi resmi BPBD Kabupaten Kobar selama periode penanganan karhutla yang berlangsung dari bulan Januari hingga pertengahan Juli tahun 2026. Berdasarkan pengumpulan data lapangan, tiga kecamatan mencatatkan jumlah kejadian tertinggi, yaitu Kecamatan Arut Selatan, Kecamatan Kumai, dan Kecamatan Kotawaringin Lama.
Detail Titik Api dan Luas Lahan Terbakar
Untuk kejadian terbanyak di Kecamatan Arut Selatan itu sebanyak 30 titik dengan luasan terbakar 21,61 hektare, Kecamatan Kumai kejadian 25 titik dengan luasan terbakar 62,65 hektare, sedangkan Kecamatan Kotawaringin Lama ada lima titik kejadian dan yang terbakar seluas 24,5 hektare,
Reneli menambahkan bahwa status penanganan karhutla di Kabupaten Kobar saat ini masih berada dalam kategori siaga. Ia menegaskan bahwa tim pemantau terus melakukan pengawasan intensif terhadap perkembangan situasi di lapangan. Meskipun demikian, petugas yang bertugas menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tanggung jawab mereka. Kendati demikian, hal-hal tersebut tidak menghalangi upaya penyelesaian tugas-tugas yang ada.
Salah satu kendala utama yang sering dihadapi adalah kondisi medan yang sulit. Jarak antara sumber air dengan lokasi titik api yang cukup jauh memaksa tim pemadam untuk berjalan kaki sambil membawa peralatan lengkap menuju lokasi kejadian. Selain itu, lahan gambut juga menjadi area yang kerap terbakar. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut memang lebih sulit untuk diatasi dibandingkan dengan kebakaran di area lainnya.
Musim kemarau di Kotawaringin Barat umumnya ditandai dengan cuaca panas disertai angin kencang. Kondisi atmosfer seperti ini menjadi faktor pendorong api yang cepat membesar dan sulit dikendalikan. Reneli menyebutkan bahwa pada bulan ini, petugas menangani dua hingga tiga titik kejadian dalam satu hari. Hal ini menunjukkan intensitas aktivitas pemadaman yang cukup tinggi.
Dalam melaksanakan tugas penanganan karhutla, BPBD tidak bekerja secara sendiri. Berbagai pihak turut memberikan dukungan di lapangan, termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan swasta, serta elemen masyarakat lainnya. Kolaborasi antar lembaga ini memungkinkan proses pemadaman dilakukan dengan lebih cepat dan efektif.
Selain aspek teknis pemadaman, edukasi kepada masyarakat juga menjadi fokus utama. Reneli menyatakan bahwa pihaknya terus memberikan penyuluhan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tujuannya adalah mencegah dampak karhutla berkembang menjadi bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Pengawasan terhadap hotspot juga dilakukan secara berkala menggunakan teknologi satelit dan drone. Data dari berbagai sumber kemudian dikonsolidasikan untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat keparahan dan lokasi strategis. Tim lapangan dilengkapi dengan alat komunikasi modern untuk melaporkan perkembangan situasi secara real-time ke pusat komando.
Koordinasi antar instansi pemerintah daerah dan pusat juga terus ditingkatkan. Anggaran khusus dialokasikan untuk pembelian bahan bakar, peralatan pemadam, serta kompensasi bagi petugas yang bertugas di lapangan. Program rehabilitasi pasca kebakaran juga direncanakan untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan yang terbakar.
Masyarakat sekitar diminta tetap waspada dan melaporkan setiap temuan asap atau api melalui hotline yang tersedia. Partisipasi aktif masyarakat dinilai sangat penting untuk keberhasilan upaya pencegahan dan penanganan karhutla di masa mendatang. Dengan sinergi semua pihak, diharapkan dampak negatif kebakaran dapat diminimalkan secara optimal.