Menteri Pertanian ajak mahasiswa Muhammadiyah berani rugi

12 hours ago  ·  3 min read
By Linda Hernandez
khrisna-edit-1784279587-ad56b658cc

Mentan Amran Sulaiman Dorong Mahasiswa Muhammadiyah Terima Kerugian sebagai Bagian dari Perjalanan Bisnis

Menteri Pertanian ajak mahasiswa Muhammadiyah berani – Malang menjadi saksi sejarah ketika Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan pesan inspiratif kepada ratusan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan yang penuh makna tersebut, Mentan mengajak para generasi muda untuk tidak takut menghadapi kerugian dalam menjalankan usaha mereka. Kehadiran Amran Sulaiman ini tidak lain untuk membuka secara resmi Studentpreneur Bootcamp 2026 yang diselenggarakan di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang pada hari Jumat yang lalu.

Kerugian sebagai Guru Terbaik dalam Berwirausaha

Saat memberikan pandangan bisnis yang out of the box, Mentan Amran menekankan pentingnya mentalitas menerima kegagalan. Ia menyampaikan pesan yang cukup mengejutkan bagi para mahasiswa yang selama ini terbiasa dengan perhitungan matematis di bangku kuliah. Dalam sesi tanya jawab bersama salah satu mahasiswa yang juga merupakan pengusaha mebel dari Jepara, Amran Sulaiman menyatakan:

“Kerugian adalah guru terbaik bagi seorang pengusaha muda, mengalahkan teori keuntungan instan yang didapat di bangku kuliah.”

Alih-alih memberikan trik teknis agar usaha mahasiswa tersebut cepat untung, Mentan secara mengejutkan justru mendoakan agar bisnis mahasiswa tersebut mengalami kerugian terlebih dahulu. Tujuannya jelas, yaitu untuk membentuk mental petarung yang sesungguhnya. Amran menjelaskan bahwa realitas kejam di dunia usaha sangat berbeda dengan hitungan matematis di kampus yang selalu berujung pada keuntungan, sehingga mahasiswa mutlak harus belajar dari kerugian di lapangan.

Mimpi Besar dan Bertindak Besar

Mentan Amran melanjutkan penjelasannya dengan memberikan gambaran tentang bagaimana seharusnya seorang entrepreneur memandang kesuksesan. Ia menekankan bahwa kesejahteraan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan keberanian. Pernyataan pentingnya adalah:

“Kalau ingin sejahtera, harus berani mimpi besar, harus berani bertindak besar dan harus diajari rugi juga. Yang mengajari rugi adalah lapangan.”

Untuk memperjelas konsep tersebut, Amran menggunakan analogi yang menarik. Ia mengibaratkan pembentukan mental seorang pebisnis layaknya pasukan khusus militer yang harus membuang ribuan peluru setiap hari demi mendapatkan insting presisi yang tajam. Menurutnya, pebisnis harus terbiasa babak belur di masa-masa awal membangun usaha untuk memastikan fondasi keuntungannya kokoh bagi generasi mendatang.

Lebih lanjut, Mentan menjelaskan bahwa jika seseorang terbiasa dan terlatih rugi selama lima hingga sepuluh tahun, maka pada titik tertentu ketika berhasil, keuntungan yang diraih akan bertahan hingga anak cucu. Guru terbaik dalam perjalanan bisnis adalah kerugian itu sendiri, bukan kesuksesan yang datang begitu saja.

Fondasi Wirausaha Tangguh dari Lingkungan Kampus

Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik, menyambut baik ajakan Mentan tersebut. Ia melihat hal ini sebagai fondasi penting bagi lahirnya pejuang wirausaha tangguh dari lingkungan kampus. Nazaruddin menuturkan bahwa mental tahan banting dan rekam jejak pekerja keras sangat diperlukan untuk melahirkan kader di sektor ketahanan pangan dan energi.

“Ini nanti menjadi modal penting bagi Muhammadiyah untuk terus menanamkan tekad kuat melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru bagi bangsa melalui program-program inkubasi,” ujarnya.

Ketua MCEBI, Dr Endang Rudiatin, menambahkan bahwa ratusan peserta yang hadir dikader tidak hanya untuk mencari untung, tetapi menjadi pengusaha yang beretika dengan landasan nilai agama. Ia menyebut bahwa MCEBI bertujuan mencetak wirausaha yang mampu menjaga keberlangsungan alam. Mahasiswa diharapkan tidak lagi terjebak pada mentalitas serba instan atau sekadar book smart.

“Pebisnis muda harus membuang jauh-jauh gengsi, berani memulai dari kondisi terendah, dan merangkul kerugian sebagai modal utak membangun karakter, relasi, dan kerajaan bisnis yang bertahan lintas generasi,” ujarnya.

Dengan demikian, Studentpreneur Bootcamp 2026 tidak hanya menjadi wadah pelatihan bisnis, tetapi juga momentum penting untuk membentuk generasi muda yang siap menghadapi tantangan dunia usaha dengan mental yang kuat dan siap menerima segala bentuk kerugian sebagai bagian dari proses belajar. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Muhammadiyah lainnya untuk berani memulai usaha meskipun harus menghadapi risiko kerugian di awal perjalanan.

MORE FROM THIS CATEGORY