El Haq Latief Bawa Pengalaman West End ke Koreografi Home Sweet Loan The Musical
Pemandanganindah.com – Adaptasi film “Home Sweet Loan” ke panggung teater musikal menghadirkan kolaborasi menarik antara Visinema, Indonesia Kaya, dan Jakarta Art House. Salah satu elemen penting dalam proyek ini adalah kehadiran El Haq Latief sebagai koreografer yang telah mengukir namanya di panggung West End, London. Pengalaman internasionalnya menjadi nilai tambah signifikan dalam mewujudkan visi artistik pertunjukan ini.
El Haq merupakan alumni program Indonesia Kaya, yaitu Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya Angkatan Pertama. Sebelumnya, ia telah memerankan karakter Helga, salah satu penari ikonik dalam Kit Kat Club, serta berkontribusi sebagai bagian dari pemeran pendukung dalam produksi musikal “Cabaret” yang dipentaskan di London. Perjalanan karirnya di kancah teater internasional inilah yang menarik perhatian produser dan sutradara untuk melibatkan dirinya dalam proyek lokal ini.
Dari London ke Jakarta: Proses Kreatif yang Dimulai Jauh Hari
Keterlibatan El Haq dalam “Home Sweet Loan The Musical” bermula ketika ia masih menetap di London. Produser pentas Fadli Hafizan dan sutradara Lisa Reideka menghubungi sang koreografer dengan sebuah ide sederhana namun penuh potensi. Mereka meminta El Haq untuk mencoba membuat draf koreografi berdasarkan lagu “Berakhir di Aku” dari grup musik Idgitaf.
Untuk prosesnya awalnya tuh Fadli sama Lisa sama Idgitaf kayak ‘Eh sayang koreoin dong ini musikal Home Sweet Loan.’ Terus akhirnya, ya udah coba bikin draf satu koreo gitu dari lagu ‘Berakhir di Aku’. Dengar lagi, ‘Eh, gila’, gitu. Jadi kayak, ‘Wah, lebih berat lagi nih.’ Dan inspirasinya tuh sebenarnya dari liriknya sih. Kayak liriknya tuh benar-benar cantik banget tapi sakit gitu,
Ungkapan tersebut disampaikan El Haq dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada hari Kamis. Reaksi awalnya terhadap lagu tersebut menunjukkan bahwa ia melihat potensi besar dalam karya musik Idgitaf untuk dikembangkan menjadi koreografi yang kompleks dan bermakna.
Eksplorasi Gerak dan Musik: Menggabungkan Berbagai Gaya
Setelah memulai eksplorasi awal melalui “Berakhir di Aku”, El Haq terus mengembangkan konsep koreografinya dengan menggabungkan berbagai elemen gerakan. Ia memadukan gaya kontemporer jazz dalam lagu “Riuh Jakarta” yang juga diciptakan oleh Idgitaf. Sementara itu, lagu “Cukup Nggak Cukup” mendapat sentuhan unsur hip-hop yang groovy untuk memperkuat dinamika pertunjukan.
Proses kreatif ini tidak berjalan sendirian. El Haq bekerja sama dengan koreografer Nudiandra Sarasvati untuk menggambarkan naik-turunnya emosi karakter utama, Kaluna, saat menghadapi kerasnya realitas urban Jakarta. Kombinasi kedua koreografer ini menciptakan bahasa gerak yang kaya dan multidimensional.
Kemarin sempat di pesawat dengarkan semua lagunya, cuman salah satu hal yang keren dari musikal ini adalah kayaknya aku bisa ngegarap semua genre ya. Tapi yang salah satu hal yang enggak mau aku lakuin adalah kotakin musikal ini untuk satu genre aja. Kayak enggak bisa gitu, karena kan kita sebagai manusia, kita mengalami begitu banyak hal berbeda dalam hidup kita, atau bahkan di satu hari, naik turun, naik turun. Seperti perasaan-perasaannya Kaluna kan,
Pernyataan El Haq ini menggarisbawahi filosofi di balik pendekatan koreografinya. Ia tidak ingin membatasi pertunjukan dalam satu genre saja, karena kehidupan manusia sendiri penuh dengan variasi emosi dan pengalaman yang terus berubah.
Inspirasi dari Kehidupan Urban Jakarta
Salah satu aspek menarik dalam proses kreatif El Haq adalah bagaimana ia mengambil inspirasi langsung dari kehidupan sehari-hari di Jakarta. Setelah mendarat di bandara, ia segera merasakan kembali kesibukan Ibu Kota yang khas. Pengamatan sederhana terhadap motor-motor yang berlalu-lalang memberinya gambaran tentang “Riuh Jakarta” yang ia ingin tuangkan dalam gerakan tari.
Kunjungan ke Sambel Setan Benhil juga menjadi momen inspiratif. El Haq memperhatikan perbedaan antara perokok yang sedang istirahat makan siang dari kantor dengan mereka yang bekerja di tempat tersebut. Pengalaman-pengalaman hidup inilah yang menjadi fondasi koreografinya, bukan hanya dari teks atau lirik lagu, tetapi dari realitas kehidupan di Jakarta dan Indonesia secara keseluruhan.
Kemarin aku baru nyampe, dijemput, melihat motor-motor yang gila, itu saja aku kayak, ‘Eh, itu Riuh Jakarta banget tuh.’ Terus habis itu ke Sambel Setan Benhil, ngelihat orang ngerokok lagi lunch time dari kantor tuh beda sama perokok yang emang lagi kerja di situ. Jadi, inspirasinya bukan dari teks juga, tapi kayak pengalaman hidup di Jakarta, di Indonesia, di riuhnya Jakarta,
Kolaborasi dengan Tim Musik dan Vokal
Upaya merefleksikan gerak gubahan tim koreografer diselaraskan langsung dengan penataan musik dari Ivan Tangkulung serta Yandi Brownsu yang menjabat sebagai vocal director. Kolaborasi ini sangat penting untuk memastikan bahwa harmoni vokal para pemain tetap realistis saat dieksekusi oleh aktor di atas panggung sambil melakukan gerakan tari.
Yandi Brownsu menjelaskan bahwa komunikasi intensif diperlukan antara tim vokal dan koreografer. Ada pertimbangan teknis yang harus dipertimbangkan, terutama ketika nada vokal berada di tingkat tinggi. Dalam situasi seperti itu, gerakan tari mungkin perlu disederhanakan agar akurasi vokal tetap terjaga.
Kita kolaborasi sama ‘dancer’ dulu. Aku bisa bilang ke Nudiandra Sarasvati, ‘Nud, bagian sini boleh enggak disederhanakan dikit, karena ini nadanya tinggi, enggak mungkin nadanya begitu sambil nari.’ Karena nadanya untuk nari itu agak susah, gitu,
Ivan Tangkulung dan Yandi Brownsu juga membagi wilayah suara para pemain agar karakter suara berkepribadian perempuan seperti Kaluna dan laki-laki seperti Kanendra dapat sampai kepada penonton dengan jelas. Pembagian ini membantu memperkuat identitas setiap karakter melalui dimensi vokal mereka.
Penutup: Menanti Pertunjukan di Jakarta
Proyek adaptasi panggung ini dijadwalkan hadir dalam 23 kali pertunjukan pada periode 30 September hingga 18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sebagai salah satu venue teater terkemuka di Indonesia, TIM menjadi pilihan yang tepat untuk mempresentasikan karya yang menggabungkan pengalaman internasional dengan akar lokal yang kuat.
Kehadiran El Haq Latief dalam proyek ini bukan hanya tentang membawa pengalaman West End ke panggung Jakarta, tetapi juga tentang menciptakan dialog antara tradisi teater musikal internasional dengan realitas urban Indonesia. Melalui koreografi yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari, “Home Sweet Loan The Musical” diharapkan dapat menyentuh hati penonton dengan cara yang autentik dan bermakna.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tembus West End kini rancang koreografi?
Tembus West End kini rancang koreografi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tembus West End kini rancang koreografi matter?
Tembus West End kini rancang koreografi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

