Key Strategy: Wamenaker: Digital skill penting untuk hadapi pergeseran dunia kerja
Wamenaker: Keterampilan Digital Menjadi Kunci Pergeseran Era Kerja Baru
Key Strategy –
Dalam era transformasi teknologi yang begitu cepat, keterampilan digital (digital skill) dianggap sebagai aset penting bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor, yang dalam pernyataannya di Jakarta menekankan bahwa kemampuan digital tidak hanya menjadi persyaratan tambahan, tetapi juga faktor utama dalam menghadapi pergeseran besar dalam dunia kerja. “Dunia kerja sedang mengalami perubahan dramatis karena pengaruh AI dan digitalisasi, sehingga tantangan kita kini bukan hanya tentang jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas dan relevansi keterampilan mereka,” jelas Wamenaker yang kerap disapa dengan nama Ferry.
Pergeseran Profesional yang Memaksa Adaptasi
Menurut Ferry, pergeseran ini memerlukan kesiapan SDM yang lebih kompeten, terutama dalam menguasai teknologi dan kemampuan baru yang segera menjadi standar. Perubahan ini mengakibatkan sejumlah pekerjaan tradisional mengalami otomatisasi, sementara sektor-sektor lain membutuhkan kemampuan digital sebagai prasyarat. “Kita harus memastikan bahwa tenaga kerja mampu beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang, terutama dalam konteks kecerdasan buatan yang kian masif,” tambahnya.
Dalam survei terkini, data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025 menunjukkan bahwa dari total 218,85 juta penduduk usia kerja, sebanyak 7,35 juta orang masih berada dalam kondisi pengangguran. Angka ini memberi gambaran bahwa jumlah penduduk yang belum memperoleh keterampilan sesuai dengan tuntutan pasar kerja terus meningkat. Menariknya, sebagian besar pengangguran yang diungkapkan dalam data tersebut masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang menunjukkan kebutuhan akan pengembangan kurikulum dan pelatihan yang lebih modern.
Penguatan Sistem Digital untuk Penyederhanaan Akses
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah mengambil langkah strategis dengan memperkenalkan platform SIAPkerja. Sistem digital terpadu ini diharapkan menjadi pintu masuk tunggal bagi masyarakat untuk mengakses berbagai layanan ketenagakerjaan, seperti pelatihan, penempatan, dan sertifikasi. “SIAPkerja dirancang untuk memberikan solusi yang lebih efisien dan terintegrasi, sehingga warga negara dapat memperoleh keahlian yang diperlukan tanpa hambatan administratif,” ujar Wamenaker.
Platform ini menjadi bagian dari upaya Kemnaker untuk mempercepat pemberdayaan tenaga kerja. Dengan SIAPkerja, proses perekrutan dan pelatihan menjadi lebih transparan, serta layanan berbasis teknologi bisa diakses secara real-time. “Ini adalah langkah penting untuk menyelaraskan antara kebutuhan industri dan kemampuan SDM, terutama dalam membangun ekosistem kerja yang lebih adaptif,” kata dia.
Kombinasi Kompetensi Teknis dan Kemampuan Non-Teknis
Selain mendorong digitalisasi layanan, Kemnaker juga fokus pada pelatihan yang mencakup dua aspek utama: kompetensi teknis (hard skill) dan kemampuan non-teknis (soft skill). Hard skill, seperti pemrograman, analisis data, dan pengoperasian perangkat lunak, dinilai sangat kritis dalam menghadapi industri modern. Sementara soft skill, seperti komunikasi, manajemen waktu, dan kreativitas, menjadi faktor penentu dalam memperkuat daya saing tenaga kerja di tingkat global.
Program sertifikasi juga menjadi bagian integral dari strategi Kemnaker. Sertifikasi tidak hanya memastikan standarisasi keahlian, tetapi juga memberikan pengakuan resmi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mengajukan pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. “Kemnaker ingin memastikan bahwa semua pelatihan yang diberikan memiliki dampak nyata, baik dalam meningkatkan keterampilan individu maupun mengurangi kesenjangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja,” terang Ferry.
Kolaborasi Multi-Sektor sebagai Kunci Sukses
Peningkatan kompetensi SDM dianggap tidak mungkin tercapai secara mandiri oleh pemerintah. Untuk itu, Kemnaker menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan institusi pendidikan. “Kerja sama ini membantu menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar, serta memastikan pelatihan yang diberikan relevan dan sesuai dengan tren industri,” ujar Ferry.
Dalam mengelola kolaborasi tersebut, Kemnaker juga menekankan peran reformasi ketenagakerjaan. Reforms ini mencakup pemanfaatan teknologi digital secara optimal, sekaligus pengelolaan birokrasi yang lebih cepat dan efektif. “Dengan digitalisasi, proses perekrutan dan pelatihan bisa dipercepat, sementara perbaikan birokrasi meminimalkan hambatan dalam penyediaan layanan,” jelas Wamenaker.
Visi Jangka Panjang: Indonesia Emas 2045
Pendekatan Kemnaker tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga menargetkan pengembangan jangka panjang hingga 2045. “Kita memiliki visi Indonesia Emas 2045, yang akan terwujud melalui ekosistem ketenagakerjaan yang kuat, inklusif, dan adaptif,” kata Wamenaker. Untuk mencapai visi ini, pemerintah berkomitmen membangun kerangka kerja yang mengintegrasikan teknologi digital, pelatihan berbasis kompetensi, dan sistem sertifikasi yang kredibel.
Dalam menyusun ekosistem tersebut, Kemnaker menekankan perluasan penempatan tenaga kerja. Hal ini dilakukan dengan memastikan bahwa pelatihan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga pada kebutuhan spesifik dari masing-masing sektor industri. “Dengan kerja sama yang kuat, kita bisa menciptakan tenaga kerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki perlindungan hukum dan kesempatan kerja yang merata,” papar Ferry.
Digital Skill sebagai Investasi Masa Depan
Ferry menambahkan bahwa investasi dalam keterampilan digital adalah langkah yang sangat strategis untuk meningkatkan kualitas SDM nasional. “Selain digital skill, kita juga harus memastikan bahwa individu memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan teknologi yang terus berkembang,” kata Wamenaker.
Menurutnya, penguatan digital skill bukan hanya tentang menguasai alat-alat teknologi, tetapi juga tentang memahami bagaimana teknologi memengaruhi pola kerja dan struktur ekonomi. “Ini memerlukan perubahan mindset dan pendekatan sistemik dalam menghadapi era kerja yang semakin dinamis,” ujarnya.
Sebagai contoh, pelatihan yang diberikan melalui SIAPkerja dirancang untuk melatih SDM dalam bidang-bidang yang paling dibutuhkan, seperti desain grafis, manajemen