Topics Covered: Investigasi BGN temukan nitrit di tumis pakcoy pada MBG di Cianjur

Investigasi BGN Ungkap Temuan Nitrit di Tumis Pakcoy Program MBG Cianjur

Topics Covered – Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) baru saja merilis hasil penelusuran mengenai kejadian gangguan kualitas pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 16 April 2026. Temuan ini menyoroti adanya kandungan nitrit dalam salah satu menu makanan, yaitu tumis pakcoy, yang melebihi ambang batas keamanan yang ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA). Meski sebagian besar sampel makanan dinyatakan aman dari kontaminasi bakteri, kondisi tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas nutrisi yang disajikan kepada masyarakat.

Temuan Nitrit Melebihi Batas Aman

Menurut Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, kandungan nitrit dalam tumis pakcoy yang diperiksa menunjukkan nilai 11,85 mg/kg. Angka ini jauh lebih tinggi dari batas maksimum JECFA, yaitu 0,07 mg/kg per hari. “Temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas ambang batas yang ditetapkan,” jelas Arie dalam Instagram resmi Sidak BGN yang dikutip pada Senin.

“Jika merujuk pada batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari, maka kandungan yang ditemukan dalam tumis pakcoy mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ujar Arie Karimah Muhammad.

Nitrit, yang merupakan senyawa kimia terkait dengan keamanan pangan, bisa berasal dari berbagai sumber. Dalam laporan, Arie menjelaskan bahwa nitrit alami mungkin terbentuk akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi bentuk nitrit. Namun, konsentrasi tinggi seperti yang ditemukan dalam kasus ini mengindikasikan kemungkinan adanya penambahan bahan tambahan pangan (additive) yang tidak terkontrol.

Kontaminasi Bakteri pada Menu MBG

Sebaliknya, mayoritas sampel makanan yang diperiksa oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat dinyatakan bebas dari bakteri berbahaya seperti Salmonella sp, S. aureus, E. coli, dan B. cereus. Tes dilakukan pada menu yang tersedia pada tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026, dengan hasil menunjukkan bahwa kontaminasi bakteri tidak terdeteksi dalam jumlah signifikan.

Ini menunjukkan bahwa meski ada masalah nitrit, kebanyakan menu dalam program MBG masih memenuhi standar kesehatan pangan. Namun, keberadaan nitrit pada tumis pakcoy menjadi fokus utama dalam investigasi, karena zat tersebut dikenal berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan tertentu jika dikonsumsi dalam kadar berlebihan.

Sumber Potensial Kontaminasi Nitrit

Arie menyebutkan bahwa sumber nitrit tidak hanya berasal dari proses alami, tetapi juga bisa diakibatkan oleh penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan dalam pertanian. “Kemungkinan adanya nutrisi berlebih dari pupuk kimia bisa mempercepat proses fermentasi dan menghasilkan nitrit dalam jumlah tinggi,” terang Arie.

Penyebab lain yang diperkirakan adalah adanya air resapan yang tercemar kotoran manusia atau hewan, serta limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian. “Kontaminasi dari sumber eksternal ini memperkuat kebutuhan untuk mengevaluasi proses pengolahan dan distribusi makanan,” tambahnya.

Nitrit juga bisa terkumpul akibat penggunaan bahan baku yang tidak memenuhi standar. Misalnya, sayuran yang dipanen di lingkungan yang tidak steril, atau bahan tambahan pangan yang dilarutkan dalam air dan tidak dibuang sepenuhnya. “Faktor ini perlu dipertimbangkan dalam menentukan penyebab utama dari kontaminasi tersebut,” papar Arie.

Dampak Kesehatan dari Nitrit Berlebihan

Tim investigasi menekankan bahwa nitrit yang melebihi ambang batas bisa memicu kondisi medis tertentu, seperti methaemoglobinemia. Kondisi ini terjadi ketika kemampuan hemoglobin dalam darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menurun. “Gejala yang mungkin muncul antara lain lemas, sesak napas, dan kelelahan akut karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen,” jelas Arie.

Dalam konteks MBG, yang bertujuan memberikan makanan bergizi kepada siswa, keberadaan nitrit dalam jumlah besar menjadi isu serius. “Karena makanan ini konsumsi rutin, dampaknya bisa terjadi secara bertahap pada sejumlah individu,” tegasnya.

Tindak Lanjut dari BGN

Sebagai langkah berikutnya, BGN meminta Kedeputian Sistem dan Tata Kelola serta Pemantauan dan Pengawasan untuk mengadakan pertemuan mendalam dengan Kementerian Pertanian. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi akar masalah dan menetapkan langkah pencegahan yang efektif. “Temuan ini dianggap sangat kritis karena berpotensi mengancam keamanan pangan secara luas,” tambah Arie.

Pemerintah daerah dan instansi kesehatan sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan serta evaluasi proses distribusi. Hasil ini menjadi dasar bagi investigasi lebih lanjut. “Proses pengolahan dan penyimpanan makanan perlu diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada kebocoran dalam standar kualitas,” ujar Arie.

Hasil investigasi ini juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kontaminasi pangan. Meski kandungan nitrit bisa bermanfaat dalam proses pengawetan, kadar berlebihan justru bisa membahayakan kesehatan, terutama pada anak-anak yang rentan terhadap gangguan gizi dan keamanan pangan.

Konteks Kesehatan Masyarakat

Kasus ini menjadi sorotan setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari MBG. Gejala seperti mual, sakit perut, dan kelelahan mendorong pihak berwenang melakukan pemeriksaan lebih intensif. “Kontaminasi ini menunjukkan bahwa sistem distribusi makanan harus dipantau secara berkala,” kata Arie.

Menurut laporan, BGN akan terus bekerja sama dengan lembaga terkait untuk memperkuat mekanisme pengawasan. Tim juga akan meninjau ulang standar kualitas makanan dalam program MBG, agar tidak ada penyalahgunaan bahan tambahan pangan yang tidak terdeteksi. “Pencegahan dan pengawasan lebih ketat diperlukan agar kasus serupa tidak terulang,” pungkas Arie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *