Historic Moment: DPRD Surabaya: Festival Rujak Uleg bentuk ekosistem ekonomi kerakyatan
DPRD Surabaya: Festival Rujak Uleg Bentuk Ekosistem Ekonomi Kerakyatan
Historic Moment – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-733 Kota Surabaya, Festival Rujak Uleg menjadi salah satu acara yang menarik perhatian banyak pihak. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, menyatakan bahwa festival ini tidak hanya sebagai bentuk kegiatan budaya, tetapi juga berperan dalam mendorong perekonomian rakyat. “Festival ini menciptakan ruang ekonomi baru yang berdampak langsung pada kehidupan warga,” ujar Laila saat memberikan pernyataan di Surabaya, Senin.
Kontribusi Ekonomi Festival Rujak Uleg
Festival Rujak Uleg, yang digelar di Surabaya Expo Center (SUBEC) di Jalan Kusuma Bangsa, menarik sekitar 12 ribu pengunjung pada akhir pekan lalu. Jumlah tersebut menunjukkan tingkat antusiasme masyarakat yang cukup tinggi, baik dari dalam kota maupun luar daerah. Laila mengatakan bahwa aktivitas tahunan ini membawa perputaran ekonomi hingga mencapai Rp1,2 miliar, berkat kehadiran ribuan pengunjung yang membeli berbagai produk lokal.
“Keramaian di lokasi festival selama beberapa hari terakhir membuktikan bahwa Rujak Uleg bukan sekadar makanan khas, tetapi juga menjadi daya tarik ekonomi,” tegas Laila. Menurutnya, makanan yang menjadi ikon Surabaya ini selalu dinanti oleh banyak orang karena cita rasanya yang autentik dan lezat.
Dalam konteks ekonomi nasional yang saat ini sedang menghadapi tantangan, Laila menekankan bahwa kegiatan seperti Festival Rujak Uleg penting untuk memberikan ruang bagi usaha kecil dan usaha rumahan. “Festival seperti ini harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya untuk sebagian kecil masyarakat, tetapi untuk seluruh lapisan,” katanya.
Pengembangan Destinasi Wisata
Laila juga mengungkapkan bahwa Festival Rujak Uleg telah menjadi destinasi wisata tahunan yang digemari. Sejak tahun 2023, acara ini masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) yang dikelola Kementerian Pariwisata RI. Festival ini tercatat sebagai salah satu dari 125 agenda terbaik nasional, menunjukkan prestasinya dalam membangun kegiatan yang berdampak sosial dan ekonomi.
“Rujak Uleg merupakan makanan yang melekat dalam budaya Surabaya, dan festival ini memperkuat posisinya sebagai bagian dari identitas lokal,” ujarnya. Ia menambahkan, festival tersebut bukan hanya memberi kesenangan, tetapi juga memberi momentum bagi pengembangan ekonomi kerakyatan yang lebih inklusif.
Menurut Laila, pertumbuhan sektor pariwisata sangat erat kaitannya dengan perekonomian kota. Pengunjung yang datang selama acara memerlukan layanan kuliner, hiburan, serta jasa penunjang lainnya, yang berdampak pada berbagai pengusaha lokal. “Festival menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mengakses pasar yang lebih luas, sehingga mendorong usaha kecil untuk berkembang,” katanya.
Perspektif Ekonomi dan Budaya
Kondisi fiskal dan ekonomi global yang kini tidak stabil membuat masyarakat lebih membutuhkan alternatif sumber pendapatan. Laila menilai, kegiatan seperti Festival Rujak Uleg menjadi solusi yang strategis. “Event seperti ini harus berkelanjutan dan diperluas agar manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
“Kami berharap festival-festival serupa bisa menjadi momentum untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan. Selain menjadi sarana hiburan, festival harus menjadi penggerak perekonomian yang nyata,” kata Laila.
Dalam pengembangannya, Festival Rujak Uleg juga menunjukkan kolaborasi antara berbagai pihak. Organisasi perangkat daerah, BUMN, hotel, perbankan, serta elemen masyarakat umumnya terlibat dalam penyelenggaraan event ini. “Partisipasi aktif seluruh stakeholder menjadi salah satu faktor keberhasilan festival,” ungkapnya.
Harapan untuk Festival Lainnya
Laila menilai, momentum Festival Rujak Uleg bisa dijadikan contoh untuk acara serupa yang mampu memberi manfaat ekonomi. Ia berharap, pihak terkait bisa mengembangkan festival-festival lain yang memiliki dampak serupa. “Selama ini kita fokus pada kesenian atau kebudayaan, tetapi sekarang harus fokus pada ekonomi kerakyatan,” katanya.
“Festival harus menjadi platform yang menghubungkan masyarakat dengan peluang usaha baru. Dengan begitu, ekonomi kerakyatan bisa tumbuh secara berkelanjutan dan merata,” ujarnya.
Menurut Laila, pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada sektor besar, tetapi juga harus melibatkan masyarakat umum. “Kami melihat bahwa Festival Rujak Uleg membuktikan bahwa event budaya bisa menjadi penggerak ekonomi yang kuat,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan festival ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Perspektif Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, Laila berharap Festival Rujak Uleg bisa menjadi jembatan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. “Tidak hanya usaha kecil yang terbantu, tetapi juga pekerja dan pengelola event bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” katanya. Selain itu, festival ini juga membantu memperkenalkan Surabaya sebagai kota yang kreatif dan inovatif.
“Masyarakat tidak hanya ingin bersenang-senang, tetapi juga ingin melihat dampak positif dari event yang dihadirkan. Kami percaya Festival Rujak Uleg bisa menjadi contoh yang baik untuk pengembangan ekonomi kerakyatan di kota lain,” ujarnya.
Kedatangan pengunjung yang cukup besar selama Festival Rujak Uleg menunjukkan potensi besar untuk memperluas kegiatan serupa. Laila menilai, event seperti ini perlu diulang setiap tahun agar menjadi tradisi yang berkembang. “Komitmen kita sebagai pemangku kepentingan harus terus ditingkatkan agar ekosistem ekonomi baru bisa bertahan dan berkembang,” pungkasnya.
Dengan dukungan pihak-pihak terkait, festival ini bukan hanya mampu menggerakkan perekonomian, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga. Harapan Laila adalah, kegiatan serupa bisa menjadi penggerak utama dalam menciptakan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan. “Kita harus terus menciptakan ruang ekonomi yang memberikan manfaat luas kepada masyarakat,” ujarnya dalam penutupan.