Satu calhaj asal Kabupaten Probolinggo meninggal dunia di Tanah Suci
Satu Calhaj Asal Kabupaten Probolinggo Meninggal Dunia di Tanah Suci
Satu calhaj asal Kabupaten Probolinggo meninggal – Makkah, Arab Saudi (ANTARA) – Seorang jamaah haji yang berasal dari Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dinyatakan wafat di Tanah Suci pada Kamis dini hari sekitar pukul 02.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Individu yang diberi nama Asraf bin Sudami ini tergabung dalam kelompok pemberangkatan (kloter) pertama, yang menjadi bagian dari KBIHU NU Barat Probolinggo. Pemakaman jenazah akan dilakukan di Masjidil Haram, dengan pendampingan dari keluarga serta tim medis yang siap menjalankan protokol kesehatan.
Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Probolinggo memberikan pernyataan resmi terkait kejadian tersebut, dengan Plh Kepala Kantor KBIHU NU Barat, Ervin Syarif Arifin, menjadi sumber informasi utama. Menurut Ervin, jamaah yang berusia 65 tahun tersebut masuk ke kategori jamaah risiko tinggi (risti) sedang, yang dikelola dengan pendampingan obat selama perjalanan haji. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesehatan almarhum tetap terjaga sepanjang proses ibadah.
Latar Belakang dan Kondisi Kesehatan
Sebelum memasuki Tanah Suci, Asraf bin Sudami telah menjalani serangkaian pemeriksaan medis di Indonesia sebagai bagian dari persiapan haji. KBIHU NU Barat Probolinggo menjadi pihak yang menangani perawatan khusus bagi jamaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Ervin Syarif Arifin menjelaskan bahwa almarhum memiliki catatan medis sejak lama, termasuk penyakit diabetes dan kolesterol, yang memerlukan pengawasan lebih ketat selama perjalanan.
“Almarhum diketahui memiliki riwayat penyakit kencing manis dan kolesterol,” ujar Ervin Syarif Arifin, Plh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Probolinggo. Ia menambahkan bahwa kondisi kesehatan jamaah ini memengaruhi rencana perjalanan haji, sehingga tim medis secara rutin memantau kesehatannya sebelum dan selama berada di Arab Saudi.
Menurut laporan dari Indonesia Medical Mission, Asraf bin Sudami tiba di Rumah Sakit King Abdul Aziz pada 11 Mei 2026, setelah mengalami gejala sesak napas dan demam. Sejak hari itu, almarhum menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan tersebut. Namun, kondisinya semakin memburuk pada pagi hari, dengan penurunan kesadaran yang mengharuskan dokter menyarankan rujukan ke rumah sakit lebih lanjut. Dalam perjalanan ke rumah sakit, tim medis memastikan bahwa semua kebutuhan almarhum terpenuhi, termasuk penggunaan obat sesuai resep.
Persiapan dan Proses Pemakaman
Sebelum almarhum wafat, jamaah ini telah menjalani kegiatan ibadah haji sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Pemakaman jenazah akan dilakukan di Masjidil Haram, tempat utama ibadah haji, sebagai bentuk penghormatan terhadap jamaah yang melaksanakan rukun Islam kelima. Ervin Syarif Arifin menekankan bahwa proses pemakaman tersebut telah sesuai dengan protokol yang ditetapkan oleh Kementerian Haji.
Istri almarhum yang juga mendampingi selama perjalanan haji menemani jenazah hingga proses pemakaman selesai. Ia mengikuti shalat jenazah di Masjidil Haram dengan penuh rasa dukacita, menunjukkan kepedulian keluarga terhadap sosok yang telah menjalani perjalanan spiritual menuju Tanah Suci. Selain itu, istri almarhum juga terlibat dalam upaya memastikan bahwa semua kebutuhan almarhum terpenuhi sebelum dan sesudah pemeriksaan medis.
KBIHU NU Barat Probolinggo terus memantau kondisi jamaah haji lainnya, termasuk yang berada dalam kategori risti. Pihak kantor haji juga berkoordinasi dengan Indonesia Medical Mission untuk memastikan adanya perawatan yang optimal. “Jamaah yang masuk kategori risiko tinggi akan diberikan penanganan khusus, baik dalam bentuk pemantauan medis maupun dukungan logistik,” kata Ervin, menegaskan keberhasilan sistem pengawasan kesehatan yang telah diterapkan sejak awal perjalanan.
Peristiwa kematian Asraf bin Sudami menjadi perhatian khusus bagi pihak terkait, termasuk Menteri Haji dan Umrah Pusat. Tim evaluasi akan memeriksa proses pemberangkatan dan perawatan jamaah tersebut untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam penerapan protokol kesehatan. “Kami akan meninjau seluruh prosedur agar dapat meminimalkan risiko serupa di masa depan,” jelas Ervin, menyoroti pentingnya kesiapan medis sebelum jamaah berangkat ke Tanah Suci.
Proses Perawatan di Tanah Suci
Setelah tiba di Arab Saudi, Asraf bin Sudami langsung menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit King Abdul Aziz, yang merupakan pusat medis utama di Makkah. Kondisi kesehatannya yang memburuk membuat pihak rumah sakit memutuskan untuk melakukan penanganan lebih lanjut, termasuk pemantauan terhadap gejala-gejala yang muncul sejak 11 Mei 2026. Pemantauan ini dilakukan oleh tim medis yang terdiri dari dokter dan perawat yang siap memberikan pertolongan segera jika diperlukan.
Ervin Syarif Arifin menambahkan bahwa selama perjalanan haji, almarhum sering mengeluhkan rasa lemah dan kesulitan bernapas, yang menjadi indikator awal dari penyakit yang dideritanya. Tim medis kementerian haji dan Indonesia Medical Mission terus memberikan obat serta nutrisi untuk menjaga stabilitas kesehatan almarhum. “Seluruh langkah telah diambil untuk memastikan almarhum mendapatkan perawatan terbaik,” tutur Ervin, menegaskan komitmen KBIHU dalam menjaga kesehatan jamaah.
Sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan, KBIHU NU Barat Probolinggo juga memberikan pelatihan khusus kepada pendamping jamaah haji untuk memahami tanda-tanda krisis kesehatan yang mungkin terjadi selama ibadah. Hal ini menjadi langkah penting dalam menghadapi situasi darurat, seperti yang dialami oleh Asraf bin Sudami. Selain itu, pihak kementerian haji juga terus berkoordinasi dengan rumah sakit di Tanah Suci untuk memastikan adanya persiapan darurat jika diperlukan.
Pemakaman jenazah Asraf bin Sudami akan dilakukan sesuai dengan tradisi Islam, dengan shalat jenazah yang dipimpin oleh ulama setempat. Seluruh jamaah haji dari Probolinggo yang turut serta dalam perjalanan akan menghadiri acara tersebut sebagai bentuk penghormatan. Ervin Syarif Arifin menegaskan bahwa kejadian ini tidak menghentikan semangat jamaah haji lainnya untuk melanjutkan ibadah.
Dalam konteks keberangkatan jamaah haji, KBIHU NU Barat Probolinggo menjadi bagian dari sistem yang menjamin kenyamanan dan keselamatan jamaah. Selama perjalanan, tim medis terus berada di samping jamaah haji untuk memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terjaga