Melati: Tiga turnamen Asia Tenggara jadi pelajaran bagi Bobby
Melati: Tiga Turnamen Asia Tenggara Jadi Pelajaran Bagi Bobby
Melati – Jakarta – Atlet bulu tangkis Indonesia, Melati Daeva Oktavianti, menilai pengalaman berlaga di tiga kompetisi di kawasan Asia Tenggara berperan penting dalam membantu pasangannya di ganda campuran, Bobby Setiabudi, dalam menyesuaikan diri di kelas papan atas. Pernyataan ini ia sampaikan setelah pasangan yang ditemani oleh Bobby/Melati mengalami kekalahan di babak 32 besar BWF World Tour Super 750 Singapore Open 2026. Mereka kalah dari pasangan China, Gao Jia Xuan/Wei Ya Xin, dengan skor 21-19, 16-21, dan 15-21 di Stadion Singapore Indoor, Singapura, pada Rabu. “Dari tiga turnamen di Asia Tenggara ini, kami meraih banyak hal baru. Tingkatkan pertandingan di level atas tidak selalu mudah,” ujar Melati usai pertandingan, dikutip dari keterangan resmi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang diterima di Jakarta.
Pengalaman Berharga di Level Elite
Menurut Melati, perjalanan menghadapi lawan-lawan kuat di setiap kompetisi menjadi salah satu ujian penting dalam pembentukan karakter Bobby sebagai pemain ganda campuran. Ia menekankan bahwa tidak hanya kemampuan teknis yang dibutuhkan, tetapi juga ketahanan mental, konsistensi, serta kemampuan untuk tetap fokus pada momen kritis pertandingan. “Bermain di level atas membutuhkan mental yang kuat. Sebelumnya, saya juga pernah mengalami tantangan dari bawah ke atas, dan itu menjadi pengalaman berharga bagi Bobby yang masih baru di kancah ini,” terang Melati.
Sebelum Singapore Open, Bobby dan Melati telah mengikuti dua turnamen lainnya, yaitu Thailand Open Super 500 dan Malaysia Masters. Kedua kompetisi tersebut memberi kesempatan bagi mereka untuk melatih strategi dan adaptasi di lingkungan pertandingan yang lebih intensif. Melati mengungkapkan bahwa setiap laga melawan pasangan unggulan membantu Bobby memahami bagaimana membangun permainan yang kompetitif. “Di setiap turnamen, kami terus belajar. Kemenangan atau kekalahan menjadi pengingat bahwa kompetisi di tingkat ini lebih ketat dan membutuhkan kesiapan ekstra,” tambahnya.
Kekalahan di Singapore Open: Peluang yang Terlewat
Pertandingan melawan Gao/Wei di Singapore Open menjadi penampilan terakhir mereka di babak grup. Meski sempat mengambil momentum pada gim pertama, pasangan Indonesia mengalami perubahan nasib di gim kedua. Di momen kritis saat skor 14-14, mereka kehilangan dua poin secara mudah akibat kesalahan servis. “Permainan kami mulai terganggu setelah kehilangan peluang di gim kedua. Jika bisa konsisten, mungkin hasilnya akan berbeda. Titik baliknya terjadi di sana, menurut saya,” ujar Melati dalam wawancara usai laga.
“Kami sudah mencoba semaksimal mungkin, mencoba dengan segala cara. Ada peluang untuk menang tapi sayang di gim kedua saat skor 14-14, kami langsung buang dua poin mudah dari servis. Dari situ permainan langsung berubah semua dan mereka ambil kontrol permainan,”
Hasil ini membuat Indonesia tidak memiliki wakil di babak kedua Singapore Open. Sebelumnya, pasangan Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja juga telah gugur di babak yang sama setelah kalah dari wakil Prancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, dengan skor 18-21, 19-21. Keberhasilan Melati dan Bobby sejauh ini di level internasional dinilai sebagai langkah awal yang signifikan, meski mereka masih menghadapi tantangan dalam menempatkan diri di posisi terbaik.
Pengembangan Diri: Tantangan dan Kemajuan
Bobby Setiabudi sendiri mengakui bahwa bermain di turnamen elite memberinya pelajaran berharga. Ia merasa mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pertandingan yang lebih kompleks, tetapi masih menilai bahwa ada aspek yang perlu ditingkatkan. “Dari pertandingan, saya merasa sudah bisa mengimbangi lawan, terutama dalam mengatur ritme permainan. Namun, masih banyak hal yang harus diperbaiki,” ujar Bobby.
“Dari permainan kami merasa sudah bisa mengimbangi terutama saya juga sudah ada improve tapi tetap masih banyak yang harus dibenahi, ditingkatkan,”
Bobby juga menegaskan bahwa adaptasi terhadap tekanan dan cara bermain di level tinggi tetap menjadi proses yang perlu dilalui. “Saya merasa berada di lingkungan yang lebih kompetitif. Ada tegangnya dan cukup kaget dengan bola-bola sini, tapi ini justru membantu saya belajar dan meningkatkan kemampuan,” tuturnya. Kehadiran Bobby di turnamen berlevel tinggi menurutnya memperkuat mental dan mengasah keahlian dalam berbagai situasi lapangan.
Langkah Depan: Perbaikan dan Harapan
Menurut Melati, tiga turnamen ini menjadi fondasi untuk pengembangan Bobby di masa depan. “Setiap kali berlaga di kompetisi yang lebih besar, kami merasa semakin dekat dengan target. Walaupun hasil belum sempurna, keberhasilan dalam menghadapi lawan kuat memberi kami kepercayaan untuk terus berkembang,” katanya. Ia berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan lebih besar di ajang lainnya.
Melati juga menyoroti pentingnya kesabaran dan konsistensi dalam menjalani perjalanan di level elit. “Menjadi atlet di papan atas butuh waktu. Proses adaptasi ini tidak instan, tetapi setiap langkah kecil memberi hasil yang signifikan,” ujarnya. Bagi Bobby, kesempatan bermain di level tinggi menjadi momen penting untuk mengukir identitas sebagai pemain ganda campuran yang berkualitas.
Dengan kekalahan di Singapore Open, Indonesia kini hanya memiliki satu wakil di babak kedua, yaitu pasangan Rehan/Gloria yang sebelumnya telah gugur. Meski demikian, Melati dan Bobby tetap optimis bahwa pengalaman ini akan menjadi pembelajaran berharga untuk menyelesaikan perjalanan di turnamen berikutnya. “Kami tidak menyerah, bahkan lebih semangat untuk terus berusaha. Setiap kekalahan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan,” pungkas Melati.
Sebagai pemain muda, Bobby percaya bahwa partisipasi dalam turnamen tingkat elite akan membantunya menjadi lebih matang. Ia juga berharap bisa melanjutkan performa terbaik di babak berikutnya. “Saya bersyukur bisa berlaga di level ini. Meski masih ada tantangan, saya yakin bisa terus belajar dan menjadi lebih baik,” kata Bobby. Kedua atlet ini menilai bahwa tiga kompetisi di Asia Tenggara menjadi jembatan penting untuk mencapai ambisi lebih besar dalam karier mereka.