New Policy: Anggota DPR sebut kunjungan Prabowo ke Prancis jangan dipolitisasi
Anggota DPR Sebut Kunjungan Prabowo ke Prancis Jangan Dipolitisasi
New Policy – Jakarta – Anggota DPR RI Bahtra Banong mengungkapkan bahwa kunjungan presiden Prabowo Subianto ke Prancis merupakan bagian dari upaya diplomasi negara yang telah direncanakan secara matang. Ia menekankan bahwa agenda ini tidak boleh dianggap sebagai isu politik yang memicu kontroversi, terutama karena jatuh pada momen Hari Raya Idul Adha. Menurut Bahtra, kunjungan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara besar di dunia, dan waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi geopolitik serta dinamika ekonomi global yang terus berubah.
“Agenda kenegaraan seperti ini disusun melalui komunikasi diplomatik antarnegara yang panjang dan terukur. Kebetulan waktunya bertepatan dengan Idul Adha,” kata Bahtra dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Bahtra menambahkan, Presiden Prabowo sedang berusaha memperjuangkan kepentingan nasional dengan membangun kerja sama strategis dalam berbagai bidang seperti pertahanan, investasi, teknologi, energi, dan industri kritis. Ia menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar simbol politik, tetapi merupakan langkah konkret untuk memperluas pengaruh Indonesia di panggung internasional. “Jangan agenda negara dipersempit menjadi framing simbolik yang bernuansa politis,” ujarnya.
Menurut Bahtra, Prancis adalah mitra penting Indonesia yang memiliki hubungan bilateral yang kuat, khususnya dalam bidang pertahanan. Kemitraan ini semakin erat dalam beberapa bulan terakhir, dengan Presiden Emmanuel Macron menunjukkan komitmen yang signifikan terhadap kerja sama antarnegara. Ia mengingatkan bahwa kunjungan tersebut bukanlah kejutan, melainkan hasil dari perencanaan diplomatik yang matang. Bahtra menjelaskan, hubungan antara Prabowo dan Macron tidak hanya dibangun dalam konteks kebijakan luar negeri, tetapi juga melalui pertemuan-pertemuan yang intensif sebelumnya.
“Kunjungan ke Prancis menunjukkan bahwa Indonesia sedang menempatkan diri dalam lingkaran kekuatan global. Ini bukan sekadar peristiwa tahunan, tetapi merupakan langkah penting untuk memperkuat posisi negara di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi,” tambah Bahtra.
Dalam situasi internasional yang semakin kompleks, Bahtra menilai bahwa tindakan Presiden Prabowo untuk mengambil kesempatan kunjungan ke Prancis merupakan bentuk kebijakan luar negeri yang proaktif. Ia menjelaskan, kehadiran presiden di luar negeri selama momen hari raya tidak mengurangi prioritasnya terhadap kepentingan rakyat Indonesia. Justru, ini menunjukkan sikap kepemimpinan yang mampu mempertimbangkan kepentingan nasional meski dalam kondisi yang dinamis.
Bahtra juga menyoroti bahwa kunjungan ke Prancis merupakan bagian dari upaya membangun relasi yang lebih kuat dengan negara-negara besar. Ia menyatakan, negara-negara besar seperti Prancis umumnya tidak hanya menawarkan kerja sama ekonomi, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kredibilitas diplomatis. “Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis bukan hanya simbolis, tetapi juga memiliki dampak nyata dalam meningkatkan kualitas hubungan bilateral,” tutur anggota DPR tersebut.
Menurut Bahtra, selain hubungan pertahanan, Prancis juga menjadi mitra strategis dalam bidang teknologi dan energi. Kebutuhan Indonesia untuk mengembangkan industri strategis, seperti energi terbarukan dan sistem pertahanan modern, memberikan alasan kuat bagi kunjungan tersebut. Ia menambahkan bahwa Prancis merupakan negara yang berpengaruh dalam menghadirkan solusi global terhadap berbagai isu yang dihadapi Indonesia, seperti krisis ekonomi atau perubahan iklim.
“Semakin aktif Presiden Prabowo diterima dalam forum internasional menunjukkan bahwa Indonesia semakin dihormati dan diperhitungkan dalam percaturan global,” ujarnya.
Bahtra menekankan bahwa kunjungan ke luar negeri selama momen Hari Raya Idul Adha menunjukkan sikap kepemimpinan yang tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga mengutamakan kepentingan bangsa. Ia menyatakan, Presiden Prabowo sengaja memilih waktu tersebut karena ingin menunjukkan keberadaan Indonesia dalam ruang diplomatik yang lebih luas. “Kepresidenan Prabowo bukan hanya tentang peran politik dalam negeri, tetapi juga tentang membangun citra Indonesia di dunia internasional,” papar Bahtra.
Dalam konteks tersebut, Bahtra juga menyoroti bahwa penghormatan yang diberikan oleh Presiden Macron kepada Prabowo menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap Indonesia. Ia menilai, kunjungan tersebut adalah bentuk apresiasi diplomatik yang tidak diraih oleh semua pemimpin dunia. “Hal ini menunjukkan bahwa Prancis menghargai upaya Indonesia untuk membangun kekuatan politik dan ekonomi di tingkat global,” ujarnya.
Kesediaan Presiden Prabowo untuk melaksanakan kunjungan di tengah momen hari raya, menurut Bahtra, menegaskan bahwa prioritas utama kebijakan luar negeri adalah memperkuat kesejahteraan rakyat. Meski mungkin ada yang beranggapan bahwa kunjungan tersebut dianggap sebagai bentuk manuver politik, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan strategis yang lebih luas. “Ini adalah bentuk pengabdian seorang kepala negara, yang selalu berusaha menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan individu,” kata Bahtra.
Dalam kesimpulan, Bahtra Banong mengimbau agar publik dan media tidak terburu-buru mengaitkan kunjungan tersebut dengan isu politik dalam negeri. Ia menegaskan bahwa kebijakan luar negeri harus dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap pembangunan nasional, bukan hanya dari sudut pandang simbolik. “Jika kita memandang kunjungan ke Prancis sebagai isu politik, maka kita akan mengabaikan makna strategis dari tindakan ini,” tutupnya.