Pemkot ingatkan panitia tak gunakan plastik hitam untuk daging kurban
Pemkot Ingatkan Panitia Tak Gunakan Plastik Hitam untuk Daging Kurban
Pemkot ingatkan panitia tak gunakan plastik – Palangka Raya – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), melalui Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), Eko Hari Yuwono, memberikan peringatan kepada panitia penyembelihan kurban agar tidak menggunakan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban pada Idul Adha 2026. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara yang berlangsung di Palangka Raya, Rabu, dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak negatif plastik hitam terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dampak Plastik Hitam pada Kesehatan dan Lingkungan
Menurut Eko, plastik hitam yang sering digunakan untuk kemasan daging kurban berpotensi menyebabkan risiko kesehatan yang serius. Bahan dasar pembuatan plastik hitam umumnya berasal dari daur ulang, yang belum tentu memenuhi standar keselamatan pangan. Hal ini bisa membuat plastik hitam mengandung zat kimia berbahaya seperti karbon, logam berat, atau sisa limbah industri. “Ketika plastik hitam digunakan untuk mengemas daging yang panas atau dalam waktu lama, zat-zat tersebut bisa berpindah ke makanan dan membahayakan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
“Penggunaan plastik hitam untuk daging kurban dapat meningkatkan risiko paparan karsinogenik, yang dalam jangka panjang berpotensi memicu gangguan organ tubuh, ketidakseimbangan hormon, hingga penyakit kronis,” kata Eko.
Eko menekankan bahwa selain dampak kesehatan, plastik hitam juga merugikan lingkungan. Kantong plastik sekali pakai, termasuk yang berwarna hitam, sulit terurai dan bisa menjadi sampah yang menumpuk di alam. “Kondisi ini berdampak pada pencemaran lingkungan karena sifat plastik yang tidak ramah alam,” tambahnya.
Alternatif Kemasan yang Disarankan
Sebagai solusi, Eko mengimbau panitia kurban untuk menggunakan wadah alternatif seperti bakul purun, besek bambu, daun kelapa, daun pandan, daun jati, atau daun pisang. “Kantong kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti plastik bening atau kantong food grade, juga bisa dipilih selama proses distribusi. Namun, segera pindahkan ke wadah lain setelah daging tiba di tempat tujuan,” sarannya.
“Momentum Idul Adha ini seharusnya menjadi sarana edukasi publik untuk menerapkan pola hidup lebih ramah lingkungan dan sehat,” imbuh Eko, yang juga menjabat sebagai Plt Kepala UPT Rumah Potong Hewan (RPH) Kalampangan.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. Eko menjelaskan bahwa plastik hitam, terutama yang dibuat dari bahan daur ulang, tidak selalu mengandung bahan kimia yang aman. Hal ini membuatnya menjadi pilihan yang tidak ideal untuk kemasan makanan, terutama daging yang akan dikonsumsi dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, Eko menyebutkan bahwa kantong plastik hitam juga bisa mempercepat proses kerusakan lingkungan. Menurutnya, jika plastik hitam dibiarkan terlalu lama di tempat sampah, zat-zat berbahaya yang terkandung di dalamnya dapat meresap ke tanah atau air, mengancam ekosistem sekitar. “Plastik ini memiliki sifat karsinogenik, artinya bisa memicu pertumbuhan sel kanker dalam jangka waktu yang lama,” jelasnya.
Pola Hidup Berkelanjutan dalam Masa Idul Adha
Idul Adha, sebagai momentum penting dalam budaya Islam, dianggap sebagai peluang untuk mempromosikan kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan. Eko menyoroti bahwa kebijakan ini bukan hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan sampah plastik di Indonesia. “Plastik hitam yang digunakan secara massal selama penyembelihan kurban berpotensi menambah beban limbah plastik yang sulit didaur ulang,” katanya.
Menurut Eko, penggunaan bahan alami seperti daun pisang atau besek bambu tidak hanya mengurangi limbah plastik, tetapi juga memperkaya pengalaman tradisional masyarakat. “Ini sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang telah lama dipraktikkan, sekalipun dengan pendekatan yang lebih modern dan berkelanjutan,” tambahnya.
Persiapan dan Pemantauan Lingkungan
Selain menekankan penggunaan bahan kemasan alternatif, Eko juga memberikan peringatan tentang pentingnya menjaga kebersihan di area penampungan dan pemotongan hewan kurban. Dia menegaskan bahwa kebersihan lingkungan harus tetap dijaga, terutama selama acara besar seperti Idul Adha. “Plastik hitam yang digunakan secara massal bisa memperburuk kondisi lingkungan, baik secara visual maupun kimiawi,” ujarnya.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya telah melakukan koordinasi dengan panitia penyembelihan kurban untuk memastikan langkah-langkah ini diimplementasikan. Eko mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat sangat penting dalam mencapai tujuan tersebut. “Kami berharap kebijakan ini bisa diterima dengan baik dan diikuti secara aktif oleh seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Langkah Strategis Pemerintah
Eko menambahkan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mendorong pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, termasuk selama acara penyembelihan kurban. “Idul Adha adalah kesempatan besar untuk mengubah cara masyarakat memanfaatkan sumber daya alam secara lebih bijak,” ujarnya.
“Dengan memperkenalkan wadah alternatif, kami ingin membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama dalam upaya mengurangi sampah plastik yang merugikan ekosistem,” kata Eko.
Lebih dari itu, Eko menyoroti bahwa penggunaan plastik hitam dalam makanan juga bisa mempercepat proses penyakit yang tidak terlihat. “Selain itu, plastik hitam juga bisa mengganggu proses pencernaan pada tubuh manusia, terutama ketika bahan kimia tersebut bercampur dengan makanan yang dikonsumsi,” katanya.
Dengan penerapan kebijakan ini, Pemkot Palangka Raya mengharapkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan. Eko menegaskan bahwa perubahan kecil seperti mengganti kantong plastik hitam dengan bahan alami bisa berdampak besar jika dilakukan secara konsisten. “Kami yakin dengan kesadaran masyarakat, Idul Adha bisa menjadi momentum untuk menciptakan kebiasaan baru yang lebih baik,” tuturnya.
Menurut Eko, pengurangan plastik hitam tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga menciptakan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. “Dengan memperkenalkan bahan kemasan alternatif, kami ingin mendorong masyarakat untuk memikirkan pengaruh tindakan kecil mereka terhadap lingkungan sekitar,” katanya.
Ini adalah langkah strategis pemerintah dalam menciptakan pola hidup yang lebih berkelanjutan. Eko mengingatkan bahwa penggunaan plastik hitam selama Idul Adha harus menjadi perhatian khusus, terutama karena banyak orang yang menggunakan bahan ini secara acak tanpa memahami risikonya. “Sampah