Umat Buddha nyalakan Pelita Perdamaian pada Waisak di Candi Mendut
Umat Buddha Nyalaan Pelita Perdamaian pada Waisak di Candi Mendut
Umat Buddha nyalakan Pelita Perdamaian – Di tengah suasana meriah yang mengisi udara pagi, ribuan umat Buddha berkumpul di kompleks candi yang bersejarah, Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada hari Minggu (31/5) untuk mengikuti upacara penyalaan Pelita Perdamaian sebagai bagian dari perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026. Acara tersebut tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga menggambarkan semangat spiritualitas yang berusaha menerangi kegelapan dunia melalui tindakan kecil namun bermakna.
Waisak, atau Wesak, adalah hari besar yang dirayakan oleh umat Buddha untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha, yakni kelahiran, penjelmaan, dan wafatnya. Di Candi Mendut, perayaan ini semakin hidup dengan ritual khas yang menggabungkan tradisi lokal dan kepercayaan agama. Tahun ini, acara yang berlangsung selama beberapa hari menyoroti peran pelita perdamaian sebagai simbol dari pencahayaan batin dan harapan untuk dunia yang lebih damai.
Dalam acara tersebut, pelita perdamaian dinyalakan menggunakan Api Abadi Mrapen, sebuah api yang sudah berusia ratusan tahun dan diyakini sebagai sumber energi spiritual yang tak pernah padam. Api ini memiliki sejarah panjang dan terus dijaga oleh para biksu di sekitar Candi Mendut. Proses penyalaan dimulai dengan doa-doa khusus yang dibacakan oleh para pemimpin ibadah, sebelum kemudian pelita dinyalakan secara bersamaan oleh ribuan umat Buddha yang hadir.
Suasana keheningan dan kekhusuan menghiasi ruang candi sebelum api menyala, memicu perasaan spiritual yang mendalam. Setiap pelita yang dinyalakan dianggap sebagai wujud dari harapan umat Buddha agar kehidupan manusia di dunia ini menjadi lebih harmonis. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menyatukan komunitas, baik dari kalangan muda maupun tua, dalam satu tujuan bersama: menyebarluaskan pesan perdamaian dan kebahagiaan.
Acara Waisak di Candi Mendut tidak hanya menarik perhatian umat Buddha lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai daerah. Sejumlah pengunjung membawa lampu kecil sebagai bagian dari partisipasi mereka, sementara yang lain menyumbangkan peran aktif melalui kegiatan bhakti atau kegiatan sosial yang dilakukan di sekitar lokasi acara. Kombinasi antara ritual ibadah dan kesadaran lingkungan menunjukkan bagaimana tradisi budaya bisa diadaptasi untuk mencerminkan nilai-nilai modern.
Pelita perdamaian yang dinyalakan pada acara ini memiliki makna lebih luas dari sekadar simbol cahaya. Bagi umat Buddha, tindakan ini mengingatkan akan kekuatan doa dan kesadaran diri dalam menjaga kedamaian. Para peserta menggambarkan bahwa pelita tersebut seperti lampu yang menyala di tengah kegelapan, menyeru untuk memperkuat kekuatan spiritual dalam menghadapi tantangan dunia modern. “Ini adalah momen untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa kehidupan sejati berawal dari kedamaian batin,” ujar salah satu peserta, seperti dikutip dalam
pengamatan oleh Firman Eko Handy, Rizky Bagus Dhermawan, dan Roy Rosa Bachtiar.
Kegiatan penyalaan pelita perdamaian biasanya diakhiri dengan pembacaan sutra atau ceramah singkat tentang pentingnya perdamaian dalam ajaran Buddha. Dalam rangkaian acara tahun ini, para pemimpin mengajak umat untuk merenungkan makna dari penjelmaan Buddha dan mengambil langkah-langkah kecil untuk menjaga keharmonisan di sekitar mereka. Tidak hanya itu, pelita juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan perdamaian ke wilayah sekitar, seperti kecamatan lain di Magelang atau kabupaten lain di Jawa Tengah.
Candi Mendut, sebagai situs sejarah yang menggambarkan kekuatan agama Buddha di Indonesia, selalu menjadi tempat yang istimewa untuk perayaan besar. Sejarah candi ini memiliki keterkaitan dengan perjalanan spiritual umat Buddha sejak zaman kerajaan Mataram Kuno, yang merupakan pusat budaya dan agama Buddha di Jawa Tengah. Di era modern, upacara Waisak di sini tetap mempertahankan esensi keagamaan, namun juga menjadi ajang promosi budaya dan lingkungan yang mengundang partisipasi lebih luas.
Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 juga melibatkan berbagai organisasi masyarakat dan institusi lokal. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada penyalaan pelita, tetapi juga menghadirkan seni tradisional, seperti tarian dan musik yang mengiringi upacara, serta pertunjukan dari anak-anak sekolah dasar yang menampilkan pemahaman mereka tentang ajaran Buddha. “Anak-anak adalah masa depan, dan melalui pelita ini, mereka belajar untuk menjadi pelaku perdamaian,” tambah salah satu pemimpin acara, seperti disampaikan dalam
peliputan oleh Rizky Bagus Dhermawan dan Roy Rosa Bachtiar.
Pelita perdamaian yang dinyalakan pada hari itu menjadi pengingat bagi seluruh umat Buddha bahwa kehidupan sejati tidak hanya tentang mengikuti ajaran, tetapi juga tentang mengaktifkan makna-makna yang tertanam dalam setiap tindakan. Dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran tentang perdamaian bisa diwujudkan melalui kebiasaan baik, seperti menghindari konflik, saling menghormati, dan menjaga lingkungan hidup. Acara ini mengingatkan kembali pada pesan dasar agama Buddha, bahwa kebahagiaan bermula dari keharmonisan dalam diri dan di sekitar.
Para peserta perayaan juga menekankan bahwa pelita perdamaian bukan hanya simbol dari cahaya spiritual, tetapi juga dari harapan untuk dunia yang lebih baik. “Semangat Waisak ini membuat kita teringat bahwa kehidupan manusia bisa diubah menjadi lebih baik dengan usaha bersama,” kata salah satu pengunjung, seperti tercatat dalam
laporan oleh Firman Eko Handy.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya dan agama bisa menjadi alat untuk menyatukan perbedaan, terlepas dari latar belakang sosial atau keagamaan. Dengan partisipasi aktif dari masyarakat, acara W