Special Plan: Poltracking: Popularitas MBG jadi modal pemerintah perkuat kualitas

Poltracking: Popularitas MBG Jadi Modal Pemerintah Perkuat Kualitas

Special Plan – Jakarta – Sebuah survei yang dilakukan oleh Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah memiliki tingkat popularitas yang tinggi. Kondisi ini dinilai menjadi peluang strategis bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program tersebut, serta memperluas manfaatnya kepada seluruh lapisan masyarakat. Survei yang dilakukan pada 11-17 Mei 2026 terhadap 1.220 responden ini menyoroti pentingnya program MBG dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah.

Ekspektasi Publik dan Peluang Peningkatan Kualitas

Peneliti utama Poltracking, Ahmad Ziaul Fitrauddin, dalam sesi pemaparan hasil survei yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis, menekankan bahwa tingginya perhatian masyarakat terhadap MBG menunjukkan ekspektasi yang besar terhadap keberhasilannya. Menurutnya, popularitas program ini tidak hanya mencerminkan kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi alat untuk menilai kinerja pemerintah dalam menjalankan kebijakan sosial. “Program apa pun yang menjadi pusat perhatian publik melalui narasi media dan diskursus masyarakat akan menentukan ekspektasi terhadap kualitasnya. Ketika sesuatu itu menjadi populer, maka masyarakat akan mengharapkan realisasi manfaat yang optimal,” jelas Zia.

Dalam teori agenda setting yang diadaptasi dari McCombs dan Shaw, Zia menyatakan bahwa program yang sering disebut dalam percakapan publik akan memengaruhi persepsi masyarakat. Hal ini berarti, ketika MBG mendapat banyak perhatian, masyarakat akan lebih kritis terhadap efektivitasnya. “Jadi, popularitas program ini tidak hanya menciptakan ekspektasi, tetapi juga menjadi dasar untuk menilai apakah pemerintah mampu memenuhi harapan tersebut,” tambahnya. Dengan demikian, tingkat kepuasan masyarakat terhadap MBG menjadi indikator penting untuk mengevaluasi keberhasilan program tersebut.

“Dalam teori agenda setting, program apa pun yang menjadi tinggi dalam penyiaran narasi akan mengunci ekspektasi publik terhadap kualitasnya. Artinya, ketika sesuatu itu menjadi populer, maka masyarakat akan mempertimbangkan seberapa baik implementasinya. Kualitas harus dianggap sebagai prioritas utama, karena jika tidak, keberhasilan program bisa dipertanyakan,” kata Zia.

Korelasi dengan Tekanan Ekonomi

Zia juga menyoroti bahwa popularitas MBG berkaitan dengan tantangan ekonomi yang dihadapi sebagian besar masyarakat. Kenaikan biaya hidup, termasuk dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, menjadi faktor yang memperkuat kebutuhan akan bantuan pangan bergizi. “Masyarakat yang merasakan tekanan ekonomi akan lebih menghargai program yang memberikan manfaat langsung, seperti MBG,” ujarnya.

Menurutnya, program ini memberikan solusi praktis bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, terutama di tengah krisis ekonomi. Namun, Zia menegaskan bahwa popularitas ini tidak bisa dianggap sebagai jaminan kesuksesan tanpa perbaikan dalam implementasi. “Pemerintah harus terus melakukan evaluasi dan penyesuaian agar MBG benar-benar memberikan dampak yang signifikan,” tambahnya. Ia menekankan bahwa transparansi dan akurasi dalam penyaluran program menjadi kunci utama.

Persepsi Masyarakat Terhadap MBG

Dalam hasil survei Poltracking, sebanyak 92,1 persen responden mengaku mengetahui program MBG. Angka ini menunjukkan bahwa program tersebut memiliki tingkat kesadaran publik yang sangat tinggi, terutama dibandingkan program prioritas lainnya. “MBG menjadi program pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang paling populer, dengan 92,1 persen masyarakat mengenalnya,” kata Masduri Amrawi, peneliti utama Poltracking.

Perluasan manfaat MBG juga didukung oleh tingkat kepuasan responden. Dari 92,1 persen masyarakat yang mengetahui program, sebanyak 55,6 persen menyatakan puas terhadap pelaksanaannya. Angka ini menunjukkan bahwa program ini berhasil memenuhi harapan masyarakat meski masih ada ruang untuk peningkatan. “Banyak warga yang merasa program ini memberikan dampak positif, terutama dalam meningkatkan akses terhadap makanan bergizi,” ujar Masduri.

“Program prioritas Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang paling dirasakan manfaatnya adalah MBG, dengan 27,6 persen responden menyebutkan bahwa program ini memberikan kontribusi terbesar dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Masduri menambahkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya terlihat dari tingkat kesadaran, tetapi juga dari kualitas penerimaan publik. “Program ini menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat, terutama dalam mengatasi ketimpangan akses pangan di tengah kenaikan biaya hidup,” jelasnya. Meski demikian, persepsi terkait ketepatan sasaran program masih seimbang. Dari total responden, 45,3 persen menyatakan MBG sudah tepat sasaran, sementara 46,3 persen meragukan efektivitasnya.

Dari sisi manfaat, MBG menduduki posisi pertama, mengalahkan program lain seperti Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, layanan kesehatan gratis, dan Bantuan Subsidi Upah (BSU). Program Kartu Indonesia Sehat mendapat 11,1 persen, Kartu Indonesia Pintar 10,1 persen, lay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *