Polisi: Pelaku edarkan etomidate terselubung di tempat hiburan malam
Polisi: Pelaku Edarkan Etomidate Terselubung di Tempat Hiburan Malam
Polisi – Jakarta, Sabtu – Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Utara telah mengungkap praktik penyebaran narkotika jenis etomidate secara diam-diam di salah satu tempat hiburan malam, yaitu Alexa Suites and Lounge, berlokasi di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Menurut Kasat Reserse Narkoba AKBP Ari Galang Saputro, pelaku memasuki lingkungan tempat hiburan layaknya tamu biasa, lalu menjual barang haram tersebut tanpa diketahui manajemen.
Mekanisme Penjualan yang Rahasia
Dalam wawancara di Jakarta, Ari menjelaskan bahwa para pelaku menggunakan strategi menghindari deteksi. Mereka tidak hanya berpura-pura sebagai pengunjung tetapi juga secara sembunyi-sembunyi memperkenalkan etomidate kepada calon pembeli. “Mereka masuk ke tempat hiburan malam seperti tamu biasa, lalu menawarkan barang haram tersebut secara diam-diam,” ujar Ari.
“Waktu kita dalami, mereka duduk-duduk, seperti pengunjung biasa,” tambah Ari, menegaskan bahwa penjualan etomidate dilakukan secara tertutup. Bahkan, setelah transaksi selesai, pelaku dan pembeli sering menghapus jejak percakapan atau bukti pembelian untuk menghindari penyelidikan.
Dalam operasi tersebut, petugas menemukan modus penjualan yang lebih dari satu. Selain menjual secara langsung di tempat hiburan, para pelaku juga diduga menerima pesanan melalui platform WhatsApp dan mengirimkan barang haram tersebut dengan bantuan jasa ojek online. “Pengiriman melalui online dan komunikasi WhatsApp menjadi sarana untuk menjaga kerahasiaan transaksi,” terang Ari.
Dugaan Selektif dalam Penjualan
Ari menjelaskan bahwa penjualan etomidate tidak sembarangan. Pelaku memilih pembeli dengan hati-hati, karena harga satu cartridge etomidate cukup tinggi, mencapai hingga Rp5 juta. “Mereka lihat-lihat orangnya dulu sebelum menawarkan barang, karena etomidate mahal,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa para pelaku berusaha memastikan transaksi tetap tersembunyi dari kecurigaan manajemen atau pihak berwenang.
Menurut Ari, pihak manajemen tempat hiburan baru mengungkap keberadaan etomidate setelah melihat aktivitas transaksi yang mencurigakan. Aktivitas tersebut dianggap tidak wajar, sehingga manajemen langsung melaporkan ke polisi. “Setelah investigasi, ternyata benar ada peredaran etomidate,” tegas Ari.
Langkah Polisi dalam Penyelidikan
Kasat Reserse Narkoba menyebutkan bahwa penangkapan para pelaku terjadi setelah penyelidikan yang teliti. Polisi menemukan indikasi keberadaan etomidate melalui tindakan transaksi yang tidak tercatat. “Saat ditangkap, pelaku sedang berada di lokasi, dan berbaur seperti pengunjung biasa,” jelas Ari.
Ari juga menyebutkan bahwa selain mengedarkan etomidate secara langsung, pelaku terlibat dalam berbagai kegiatan yang menyembunyikan jejak kejahatan. Jejak digital dan bukti fisik sering dihilangkan setelah transaksi selesai. “Kadang, setelah transaksi, langsung dihapus,” imbuhnya.
Penangkapan dan Hukuman yang Menanti
Dalam operasi ini, dua pelaku narkotika, berinisial FIS dan WS, berhasil ditangkap. Keduanya ditahan atas dugaan melanggar Pasal 119 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Mereka terancam hukuman penjara minimal empat tahun dan maksimal dua belas tahun, serta denda hingga Rp8 miliar,” terang Ari.
Etomidate, yang digunakan dalam bidang medis sebagai obat anestesi, kini dijual secara ilegal di tempat hiburan malam. Menurut Ari, penyebaran barang haram ini menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama para pengunjung yang tidak menyadari efek jahat dari zat tersebut. “Etomidate bisa menyebabkan efek seperti tidur terlalu lama atau bahkan keadaan koma jika dikonsumsi dalam jumlah besar,” tambahnya.
Modus Operasi yang Canggih
Modus penjualan etomidate di tempat hiburan malam ini dianggap canggih karena menggabungkan teknologi digital dan kegiatan sosial. Para pelaku memanfaatkan lingkungan yang ramai untuk berpura-pura sebagai pengunjung, sementara mengedarkan barang haram di balik layar. “Mereka menggunakan tempat hiburan sebagai sarana menyembunyikan kegiatan ilegal,” kata Ari.
Dalam kasus ini, etomidate diperkirakan menjadi bahan yang diminati oleh pengguna narkoba di kalangan muda. Pasalnya, zat ini dijual dengan harga mahal, sehingga hanya pengguna yang cukup memperhatikan atau membutuhkan sangat darurat yang membelinya. “Karena harganya tinggi, pembeli dipilih secara selektif,” tambah Ari.
Langkah Penguasaan dan Kecurigaan
Sebelum ditangkap, pihak manajemen tempat hiburan mencurigai adanya aktivitas transaksi yang tidak biasa. Indikasi tersebut muncul dari perubahan pola pengunjung atau pengeluaran dana yang tidak wajar. “Mereka melihat kebiasaan pengunjung yang berbeda dan memutuskan melaporkan ke polisi,” jelas Ari.
Sebagai hasil investigasi, polisi menemukan bukti kuat bahwa etomidate diperdagangkan di tempat hiburan malam tersebut. Kasat Reserse Narkoba menyebutkan bahwa para pelaku telah merancang strategi yang terukur untuk menghindari kecurigaan. “Mereka tidak hanya berpura-pura sebagai pengunjung, tetapi juga mengatur waktu transaksi agar tidak terlihat mencolok,” kata Ari.
Dalam beberapa kasus, pelaku menggunakan peralatan seperti vaporizer untuk mengedarkan etomidate. Vaporizer memudahkan penggunaan zat tersebut dengan cara menguapkan, sehingga terkesan lebih aman. “Tapi, pada kenyataannya, etomidate bisa menyebabkan efek merugikan jika dikonsumsi secara berlebihan,” tambah Ari.
Penggunaan tempat hiburan malam sebagai sarana perdagangan narkotika ini menunjukkan adaptasi para pelaku dalam memanfaatkan lingkungan sosial. Mereka menggabungkan kesan santai dan kegiatan hiburan untuk menutupi bisnis ilegal mereka. “Etomidate diperdagangkan dengan cara tersembunyi, karena dianggap lebih aman daripada narkoba lainnya,” ujar Ari.
Penyelidikan Lanjutan
Menurut Kasat Reserse Narkoba, penyelidikan terus berlanjut untuk menemukan pelaku lain yang terlibat dalam peredaran etomidate. “Kita masih mencari pengedar lainnya yang bisa terlibat dalam kegiatan ini,” terang Ari. Ia menegaskan bahwa polisi terus mengembangkan kasus tersebut untuk menangkap lebih banyak pelaku.
Etomidate, yang sebelumnya digunakan dalam prosedur medis seperti operasi, kini menjadi bahan yang digunakan untuk tujuan hiburan atau penghilangan rasa sakit secara ilegal. Menurut Ari, penyebaran zat ini menunjukkan pening