Apriyadi – komikus Bantul yang jadi ilustrator resmi komik ‘Storm'”

Seorang Komikus yang Membawa Nama Bantul ke Dunia Internasional

Apriyadi – Di tengah kehidupan yang sederhana di sebuah rumah di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Jetis, Bantul, tersimpan kisah perjalanan kreatif yang membanggakan. Berbagai karya seni dan sampul buku komik menghiasi dinding, mencerminkan dedikasi luar biasa dalam mengembangkan bidang yang kini diakui internasional. Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus senior berusia 50 tahun, berhasil menyatukan seni lokal dengan dunia global melalui komik ‘Storm’ yang diilustrasikannya. Dari ruang kerja sempit berukuran lima meter persegi, kertas, kuas, dan cat air tetap menjadi teman setia, menggambarkan semangat kreatif yang tak pernah padam.

Karier yang Memancarkan Pengaruh Global

Kini, komik yang diilustrasikannya telah merambah pasar Amerika Serikat, Belanda, Jerman, hingga seluruh penjuru Eropa. Bukan hanya sekadar hiasan, setiap lukisan dan sampul buku di dinding rumahnya berfungsi sebagai pengingat akan perjalanan dari seorang anak yang mencoret-coret buku pelajaran hingga menjadi seniman komik ternama. Apri, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa karya-karya tersebut adalah cerminan dari dedikasinya dalam menggabungkan budaya Bantul dengan estetika komik internasional.

Pola Pikir yang Membentuk Kepribadian

Apriyadi mengakui bahwa minatnya terhadap komik berawal dari kegemaran masa kecil. Saat SD, ia sering menghabiskan waktu dengan menggambar karakter favorit seperti Batman, Superman, dan Captain America. Namun, kebiasaan ini kerap menimbulkan protes dari orang tuanya. “Kala itu, orang tua sering marah karena buku tulis saya penuh dengan coretan gambar, bukan catatan pelajaran,” ujarnya saat diwawancara ANTARA di kediamannya, Jumat (5/6). Meski demikian, kecintaannya terhadap komik tetap bertahan, bahkan menjadi batu loncatan menuju keberhasilan yang luar biasa.

“Waktu SD, orang tua saya sering kesel melihat buku tulis saya yang penuh gambar dibandingkan catatan pelajaran,”

Komentar itu menggambarkan pandangan masyarakat saat itu yang menganggap menggambar hanya hobi tanpa masa depan. Apri, yang sejak kecil mengoleksi komik Amerika dan Eropa, justru merasa tertantang untuk menciptakan karya sendiri. Koleksi tersebut ia peroleh dari kakaknya yang aktif membeli dan menyewa buku-buku grafis. “Saya nebeng di situ, jadi punya privilege dari kakak, walaupun memang orang tua tidak suka,” tambahnya sambil tertawa.

Momen Awal Kreativitas yang Terus Berkembang

Kehadiran komik-komik yang ia baca menjadi semangat untuk berkiprah dalam seni visual. Saat duduk di bangku SMP, Apri mulai menggambar cerita lengkap. Meski sebagian besar karya tersebut belum sempurna, tetapi ia tetap berusaha melalui proses kreatif yang terus berkembang. Dari situ, ia menemukan bahwa menggambar bukan sekadar hobi, tetapi juga alat untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Kesabaran dan keuletannya mengubah kegemaran masa kecil menjadi keterampilan profesional.

Kecerdasan yang Dipandang Berbeda

Dalam era saat ini, Apriyadi menilai pandangan orang tua tentang seni komik telah berubah. Dulu, menghabiskan waktu untuk membaca komik dianggap merugikan kemampuan akademis. Namun, kini karya-karyanya justru menjadi bukti bahwa seni dapat menumbuhkan bakat yang luar biasa. “Sekarang, orang tua menganggap komik sebagai sarana pembelajaran yang kreatif,” ujarnya. Dengan keberhasilan ‘Storm’, ia berhasil membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni bisa menjadi jalan yang produktif.

“Karena kala itu orang tua di sekitar saya menganggap kepintaran hanya didapat dari buku pelajaran,”

Apriyadi pun merasa bersyukur atas perjalanan yang ia tempuh. Meski awalnya dianggap tidak serius, ia bisa membanggakan diri sebagai bagian dari komunitas seni yang mampu menembus batas geografis. Kini, di rumah yang terus berisi karya-karya baru, ia juga melatih generasi muda untuk mengeksplorasi minat seni mereka. “Saya ingin anak-anak Bantul tahu bahwa komik bukan sekadar hobi, tetapi jalan untuk menggambarkan dunia,” katanya.

Kisah Inspiratif untuk Pecinta Seni

Perjalanan Apriyadi menunjukkan bagaimana minat sejak kecil bisa berkembang menjadi suatu profesi yang dihargai. Dengan memulai dari coretan di buku pelajaran, ia akhirnya menjadi ilustrator resmi komik yang digunakan oleh pembaca di berbagai belahan dunia. Keberhasilan ini tidak hanya mengangkat nama Bantul di kancah internasional, tetapi juga memberikan contoh bagi mereka yang mungkin pernah mengalami hambatan dalam mengejar passionnya.

Nilai Seni yang Tetap Abadi

Kehadiran Apriyadi di dunia komik menegaskan bahwa seni tidak pernah berhenti berkembang. Meskipun berbagai tantangan mungkin terjadi, ia tetap berkomitmen untuk membangun karya yang berdampak. Dengan sampul buku dan lukisan yang terpajang di rumahnya, setiap detil menggambarkan bagaimana semangat kreatif bisa diubah menjadi kesuksesan. Apriyadi pun menegaskan bahwa ia masih mempertahankan kebiasaan menggambar di setiap sudut ruang kerjanya, karena itu adalah cara ia berkomunikasi dengan dunia.

Dari sederhana ke global, kisah Apriyadi adalah bukti bahwa kegemaran yang awalnya dianggap remeh bisa menjadi pengaruh besar. Dengan memulai dari langkah kecil, ia membuktikan bahwa komikus tidak hanya menciptakan gambar, tetapi juga mewujudkan visi tentang seni yang relevan. Keberadaannya di Bantul, yang terus tumbuh sebagai pusat kreativitas, menjadi saksi bisu bagaimana sebuah passion bisa mengubah hidup dan menginspirasi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *