Solusi untuk: Ini 4 Calon Pengganti setelah Khamenei Tewas di Tangan AS-Israel

Ini 4 Calon Pengganti Setelah Khamenei Tewas di Tangan AS-Israel

TEHERAN – Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, meninggal dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada Sabtu pagi. Sebelumnya, selama perang 12 hari antara Iran dan Israel di bulan Juni, Khamenei pernah menunjuk tiga nama sebagai kandidat potensial untuk menggantikannya. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi kematian Khamenei melalui akun Truth Social, sementara media resmi Iran menyebutnya sebagai “kematian syahid” setelah dihabisi oleh pasukan AS-Israel.

“Khamenei, salah satu tokoh paling berbahaya dalam sejarah, telah tiada,” tulis Trump. “Dia tidak bisa menghindari sistem intelijen dan pelacakan kami, serta bekerja sama dengan Israel, tidak ada yang bisa ia lakukan.”

Iran kini menyatakan masa berkabung selama 40 hari dan libur nasional tujuh hari untuk mengenang pemimpin tertinggi yang memerintah hampir 37 tahun. Pemimpin yang berusia 86 tahun ini telah mengatur penerusnya sejak awal, termasuk mengungkapkan tiga nama utama sebelum perang Juni lalu. Namun, keempat kandidat teratas juga termasuk satu ulama tambahan yang berpotensi menjadi pilihan.

Calon Pertama: Alireza Arafi

Alireza Arafi, ulama berusia 67 tahun, memiliki pengalaman lama dan dianggap sebagai orang dekat Khamenei. Saat ini, ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar, lembaga yang bertugas memilih pemimpin tertinggi. Arafi juga pernah menjadi anggota Dewan Wali, badan yang mengawasi pemilu dan undang-undang. Meski memiliki otoritas agama, ia tidak dianggap sebagai kekuatan politik dominan dan kurang dekat dengan institusi keamanan.

Calon Kedua: Mohammad Mehdi Mirbagheri

Mohammad Mehdi Mirbagheri, ulama berusia 60-an, mewakili faksi konservatif di kalangan ulama. Ia dikenal sangat menentang Barat dan bersikeras bahwa konflik antara orang beriman dan kafir tak bisa dihindari. Saat ini, Mirbagheri memimpin Akademi Ilmu Pengetahahuan Islam di Qom, kota suci di Iran utara.

Calon Ketiga: Hassan Khomeini

Hassan Khomeini, ulama berusia 50-an, adalah cucu pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia memiliki kedudukan religius dan reputasi revolusioner, tetapi belum pernah menjabat posisi pemerintahan. Meski dianggap sebagai calon penerus oleh Khamenei, ia terlihat lebih moderat dibandingkan rekan sejawatnya. Keberadaannya dalam proses suksesi tampaknya kurang dominan.

Calon Keempat: Hashem Hosseini Bushehri

Hashem Hosseini Bushehri, ulama senior berusia 60-an, memiliki koneksi kuat dengan lembaga utama dalam proses penggantian. Ia terlibat langsung dalam sistem seminari Iran dan dianggap sebagai figur kritis dalam pemilihan pemimpin tertinggi. Meski tidak memiliki pengaruh besar di elite keamanan, posisinya dalam struktur religius membuatnya menjadi kandidat yang layak dipertimbangkan.

Menurut laporan New York Times, Khamenei sendiri mempersiapkan rencana suksesi dengan memilih seorang ulama Syiah senior yang diakui oleh Majelis Pakar. Meski Sedankan Mojtaba, putra kedua Khamenei, memiliki peluang kecil, ia tidak dianggap sebagai pilihan utama karena Khamenei sebelumnya menolak kekuasaan diwariskan secara turun-temurun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *