Visit Agenda: PPIH: Kepulangan enam jamaah haji asal Jatim tertunda karena sakit
PPIH: Kepulangan Enam Jamaah Haji Asal Jatim Tertunda karena Sakit
Visit Agenda – Surabaya menjadi pusat perhatian setelah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Surabaya mengumumkan bahwa kepulangan enam jamaah haji dari Jawa Timur ke Tanah Air mengalami keterlambatan. Hal ini disebabkan oleh kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan mereka segera kembali ke Indonesia setelah menunaikan ibadah haji di Arab Saudi. Ketua PPIH Debarkasi Surabaya, Mohammad As’adul Anam, mengatakan bahwa tim kesehatan terus memantau dan memberikan layanan optimal kepada jamaah yang sakit.
“Kami bersama tim kesehatan sedang memastikan jamaah yang sakit menerima perawatan optimal agar bisa kembali ke Tanah Air setelah kondisi mereka membaik,” ujar Anam, di Surabaya, pada hari Minggu.
Dalam rincian lebih lanjut, keenam jamaah yang masih menjalani pengobatan di Arab Saudi terdiri dari lima individu dari Kota Malang dan satu dari Probolinggo. Mereka termasuk Mohammad Dzikri Muiz dari Kloter 11 yang dirawat di Rumah Sakit Jeddah, Siti Mutmainah Asari dari Kloter 12 di Kota Malang, serta Matory Ahmad Jalil dari Kloter 12 di Kota Malang. Selain itu, Soetrisno Semo Semin dari Magetan di Kloter 3 sedang dirawat di Rumah Sakit King Abdullah, Jetty Trisno dari Madiun di Kloter 4 berada di Rumah Sakit Samir Abbas, dan Sri Rahayu Sudarmo dari Pacitan di Kloter 5 di Rumah Sakit King Faisal.
Menurut Anam, PPIH terus berkomunikasi dengan petugas kesehatan haji di Arab Saudi untuk memastikan kebutuhan medis para jamaah tersebut terpenuhi. “Koordinasi ini dilakukan secara intensif agar kami dapat menyesuaikan rencana pemulangan sesuai kebutuhan masing-masing jamaah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa hingga saat ini, selama proses debarkasi, para jamaah yang sakit mendapatkan perawatan yang komprehensif, termasuk pemantauan rutin dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis mereka.
Statistik Pemulangan hingga Kloter 25
Dalam laporan terbaru, PPIH Debarkasi Surabaya telah mencatat 9.478 jamaah dan petugas haji yang kembali ke Tanah Air. Angka ini mencakup 9.302 jamaah, 43 Petugas Haji Daerah (PHD), 33 Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah, serta 100 petugas kloter. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sekitar 22 persen dari total 44.000 jamaah dan petugas yang terlibat dalam operasional debarkasi di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur telah diselesaikan.
Anam mengungkapkan bahwa operasional pemulangan haji hingga Kloter 25 berjalan lancar. “Alhamdulillah, proses pemulangan jamaah haji hingga saat ini terkendali dengan baik, dan kami optimis akan tetap stabil hingga seluruh jamaah kembali ke Indonesia,” tambahnya. Namun, dalam kegiatan ini terdapat sejumlah perubahan yang terjadi, baik mutasi keluar maupun mutasi masuk.
Mutasi Keluar dan Masuk Selama Debarkasi
Dalam kurun waktu debarkasi, PPIH mencatat terjadi 30 mutasi keluar. Dari jumlah tersebut, 11 jamaah meninggal dunia di Arab Saudi, 8 di antaranya masih dalam kondisi sakit, 1 memutuskan pulang mandiri, dan 10 kursi kosong. Sementara itu, ada delapan mutasi masuk yang berasal dari jamaah yang telah memiliki jadwal kepulangan sebelumnya. Mutasi ini disebabkan oleh perubahan kondisi medis atau kebutuhan tambahan yang muncul selama perjalanan.
Menurut Anam, angka mutasi tersebut menjadi bagian dari dinamika operasional haji. “Setiap perubahan kondisi jamaah berdampak pada rencana pemulangan, namun kami telah menyiapkan langkah responsif untuk memastikan proses berjalan tertib,” katanya. Dalam hal ini, kesadaran dan kerja sama antara PPIH dengan petugas kesehatan di Arab Saudi menjadi kunci utama untuk menangani kasus-kasus yang muncul.
Salah satu kejadian yang mengecewakan adalah kematian dua jamaah asal Kota Malang dari Kloter 12. Hery Widianto (69) meninggal dunia saat sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia, sementara Wayan Rohani Suwasti (63) wafat setelah dirawat di Rumah Sakit Haji Surabaya. “Kami turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya jamaah haji yang telah menunaikan ibadah di Tanah Suci, semoga seluruh amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujarnya.
Kejadian-kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa haji bukan hanya tentang penyelenggaraan ibadah, tetapi juga tentang pengelolaan kesehatan yang memadai. Anam menyebutkan bahwa PPIH tetap fokus pada kebutuhan mendasar jamaah, termasuk perlindungan kesehatan, fasilitas penginapan, dan dukungan logistik. “Kami memastikan setiap jamaah merasa aman dan nyaman selama perjalanan pulang, bahkan di tengah tantangan medis yang muncul,” jelasnya.
Selain itu, Anam menyoroti kinerja petugas haji yang terus bekerja keras untuk memastikan semua jamaah kembali ke Indonesia dengan selamat. “Peran petugas haji sangat vital dalam menghadapi berbagai situasi, termasuk kondisi kesehatan yang tidak terduga,” tegasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder yang terlibat, baik dari dalam maupun luar negeri, atas kerja sama dalam menjalankan operasional debarkasi yang sukses.
Sebagai penutup, Anam menyatakan bahwa PPIH berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan haji. “Dengan penguasaan data mutasi dan koordinasi yang solid, kami yakin proses pemulangan jamaah haji akan tetap lancar hingga tahap akhir,” pungkasnya. Hal ini memberikan gambaran bahwa debarkasi tahun ini bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang kehati-hatian dan kepekaan terhadap kebutuhan setiap jamaah haji.