Key Strategy: BNPP perkuat data pembangunan perbatasan lewat pemutakhiran IPKP 2026
BNPP Perkuat Data Pembangunan Perbatasan Melalui Pemutakhiran IPKP 2026
Key Strategy – Jakarta, 3 Juni 2026 — Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Republik Indonesia melakukan upaya penyempurnaan Indeks Pengelolaan Kawasan Perbatasan Kecamatan Perbatasan Prioritas Infrastruktur Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat (IPKP KPP IEK) 2026 untuk meningkatkan akurasi informasi terkait pembangunan di daerah perbatasan. Deputi Bidang Pengelolaan Kawasan Perbatasan BNPP, Irjen Pol. Edfrie R. Maith, menjelaskan bahwa pemutakhiran ini menjadi alat strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Ia menekankan pentingnya koordinasi terpadu dalam mengelola kawasan perbatasan, yang diperlukan untuk memastikan percepatan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Kegiatan pemutakhiran IPKP KPP IEK Tahun 2026 diadakan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Rabu (3/6). Acara ini dihadiri oleh sejumlah mitra kementerian/lembaga, serta para pejabat di bawah naungan BNPP. Dalam pidato pembukaannya, Maith menyampaikan bahwa penggunaan IPKP KPP IEK bertujuan untuk menciptakan gambaran yang lebih holistik dan terukur mengenai kondisi pengembangan di daerah perbatasan. “BNPP RI berupaya menyediakan gambaran yang lebih holistik dan dapat diukur mengenai kondisi pengembangan di daerah perbatasan,” kata Maith.
Peningkatan Indeks dan Fokus Pembangunan
Maith menegaskan bahwa hasil pemutakhiran IPKP KPP IEK Tahun 2026 menunjukkan kemajuan signifikan. Nilai indeks yang tercatat mencapai 0,64, yang merupakan peningkatan sebesar 0,01 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bahkan telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Ia menjelaskan bahwa peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh perbaikan pada dimensi permukiman dan sosial budaya, seperti peningkatan akses layanan kesehatan dan kualitas permukiman.
Hasil perhitungan tahun 2026 menunjukkan bahwa variabel pendidikan mencatatkan nilai rata-rata 0,88, variabel kesehatan sebesar 0,38, variabel pasar mencapai 0,53, serta variabel utilitas permukiman mencapai 0,76. Meski ada peningkatan di beberapa sektor, Maith mengakui bahwa dimensi ekonomi masih menunjukkan kondisi stagnan. Hal ini disebabkan oleh ketimpangan ketersediaan infrastruktur pasar di beberapa Kecamatan Perbatasan Prioritas (KPP), sehingga perlu upaya lebih untuk memperbaikinya.
“Peningkatan ini terutama didorong oleh perbaikan pada dimensi permukiman dan sosial budaya, khususnya melalui peningkatan akses layanan kesehatan dan kualitas permukiman,” ucap Maith.
Dalam kesempatan tersebut, Maith juga menyoroti adanya perbedaan yang cukup signifikan antara wilayah dengan capaian tinggi dan wilayah perbatasan yang masih tertinggal, terutama di kawasan timur Indonesia. Ia menegaskan bahwa kawasan perbatasan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru jika dikelola secara optimal. “Perbedaan nilai indeks yang cukup lebar terlihat antara kabupaten/kota dengan capaian tinggi dan wilayah perbatasan yang masih tertinggal,” ujar Maith.
Partisipasi dan Upaya Sinergi
Pemutakhiran IPKP KPP IEK Tahun 2026 turut dihadiri oleh Plt. Asisten Deputi Infrastruktur Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat BNPP, Amrullah M. Ridha, serta beberapa asisten deputi lainnya. Diantaranya, Yedi Rahmat dari Asisten Deputi Potensi Kawasan Perbatasan Laut dan Gutmen Nainggolan dari Asisten Deputi Pengelolaan Batas Negara Wilayah Laut dan Udara. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen BNPP dalam mengkoordinasikan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan secara bersinergi.
Selain itu, sejumlah narasumber dari kementerian/lembaga terkait dan akademisi juga turut hadir untuk memberikan perspektif dan analisis tambahan. Mereka berdiskusi mengenai langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperkuat akses pendidikan dasar, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, serta menyediakan fasilitas pasar yang lebih memadai. Diskusi ini diharapkan mampu memberikan gambaran jelas tentang kebutuhan pengembangan kawasan perbatasan dan cara mengatasi tantangan yang dihadapi.
Fokus Utama untuk Masa Depan
Dalam menutup rangkaian kegiatan, Maith menegaskan bahwa percepatan pembangunan di kawasan perbatasan harus menjadi prioritas bersama. “Penguatan akses pendidikan dasar, peningkatan kualitas layanan kesehatan, penyediaan fasilitas pasar serta percepatan pembangunan wilayah tertinggal harus menjadi fokus utama ke depan,” ujarnya. Upaya ini diharapkan mampu mendorong kawasan perbatasan tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Maith menambahkan bahwa kawasan perbatasan memiliki peran penting dalam memperkokoh ketahanan nasional. Dengan meningkatkan akses layanan publik dan infrastruktur ekonomi, BNPP RI berupaya menjadikan daerah perbatasan sebagai titik penopang keberlanjutan pertumbuhan nasional. Ia juga menyatakan bahwa keterlibatan pemerintah daerah dan berbagai lembaga terkait menjadi kunci keberhasilan program pembangunan ini.
Kepala BNPP RI mengingatkan bahwa keberhasilan pemutakhiran IPKP KPP IEK Tahun 2026 tidak cukup hanya sebagai data kuantitatif, tetapi juga sebagai alat evaluasi untuk memantau perkembangan pembangunan secara berkala. Dengan data yang lebih akurat, pemerintah pusat dan daerah dapat merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran dan efektif. “BNPP RI berharap indeks ini bisa menjadi acuan dalam merancang strategi pengembangan daerah perbatasan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Perubahan struktur kebijakan dan peningkatan kualitas infrastruktur menjadi bagian penting dari upaya ini. Maith menyebutkan bahwa selain meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan, pemerintah juga perlu fokus pada pengembangan permukiman dan pasar yang merata di seluruh wilayah perbatasan. Dengan demikian, perbedaan antara wilayah yang berkembang dengan yang masih tertinggal dapat