Solution For: DPRD Jabar nilai Cirebon dapat perkuat peran ekonomi kawasan
Strategi Penguatan Peran Ekonomi Kota Cirebon
Solution For – Cirebon, Selasa (28 Agustus 2024) – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, menilai Kota Cirebon memiliki peluang untuk meningkatkan fungsi sebagai pusat perdagangan, jasa, dan pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Jawa Barat serta wilayah Ciayumajakuning. Dalam pertemuan terkait pengembangan daerah, ia menyampaikan bahwa sejarah panjang kota ini sebagai pusat pemerintahan menjadi fondasi kuat untuk memperkuat daya saing. “Cirebon yang telah berusia 599 tahun harus kembali menjadi sentral aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Tantangan dan Peluang di Era Perkembangan Kota
Ono menekankan bahwa meskipun Kota Cirebon memiliki area yang relatif sempit, ini justru membuka peluang untuk menghasilkan inovasi yang efektif. Dengan hanya mencakup lima kecamatan dan 22 kelurahan, kota ini perlu memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal. “Kita harus memacu perubahan yang lebih signifikan dengan berbagai inisiatif kreatif,” tambahnya. Di sisi lain, tantangan seperti kemiskinan dan kualitas pendidikan perlu dikelola lebih baik agar tidak menghambat potensi pertumbuhan.
Menurut Ono, inovasi dapat menjadi kunci untuk mengatasi masalah perkotaan yang muncul, termasuk pengelolaan sampah dan pengembangan infrastruktur. Ia menyarankan konsep pertanian perkotaan (urban farming) sebagai salah satu solusi, terutama dengan memanfaatkan ruang-ruang pekarangan rumah warga. “Dengan urban farming, masyarakat bisa menghasilkan makanan sendiri sambil memperkuat ekonomi lokal,” jelasnya. Selain itu, pemanfaatan teknologi dan kerja sama antar-sektor juga dianggap penting untuk mendorong keberlanjutan pembangunan.
Kota Cirebon sebelumnya telah menunjukkan peningkatan kinerja di berbagai indikator makro, seperti pendidikan, kesehatan, daya beli, dan pertumbuhan ekonomi. Ono mengakui capaian ini patut dicatat karena menjadikan Cirebon lebih unggul dibandingkan daerah lain di Jawa Barat. “Dukungan dari kabupaten sekitar seperti Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Cirebon sendiri sangat berpengaruh,” katanya. Ia menjelaskan bahwa aktivitas industri dan investasi di wilayah tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor perdagangan dan jasa kota Cirebon.
Menurut Ono, peran Kota Cirebon sebagai pusat perekonomian kawasan timur Jawa Barat bisa ditingkatkan melalui kemitraan dengan daerah-daerah di sekitarnya. “Dengan memperkuat fungsi sebagai hub perdagangan dan jasa, kota ini bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Ciayumajakuning dan wilayah Rebana secara lebih cepat,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak hanya bergantung pada pemerintah lokal, tetapi juga pada kolaborasi dengan pihak swasta dan masyarakat.
Peran Sejarah dan Strategi Modernisasi
Kota Cirebon dikenal sebagai pusat pemerintahan yang pernah menjadi kota kekaisaran Majapahit di era lalu. Ono berharap sejarah ini bisa dijadikan inspirasi dalam mendorong kota menjadi pusat perekonomian yang inovatif. “Kita perlu menggabungkan tradisi dengan modernisasi untuk menarik investasi dan meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengubah struktur perekonomian kota, terutama melalui kegiatan ekonomi mikro yang bisa berkembang di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Ono juga menyoroti bahwa pengembangan ekonomi kawasan harus didukung oleh kebijakan yang terpadu. “Kita perlu memastikan bahwa inisiatif-inisiatif yang diambil selaras dengan kebutuhan daerah,” katanya. Ia mencontohkan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi peluang untuk menciptakan usaha ekonomi berbasis lingkungan, seperti pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah. Selain itu, perluasan akses ke pendidikan tinggi dan pelatihan kejuruan diharapkan bisa memperkuat sumber daya manusia yang menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi.
Dalam kaitannya dengan wilayah Ciayumajakuning, Ono menyatakan bahwa Cirebon berperan penting dalam menyebarkan manfaat pembangunan daerah. “Industri dan investasi di kabupaten sekitar memberikan dampak positif pada aktivitas ekonomi kota, terutama di sektor jasa dan perdagangan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kota ini tidak bisa terpisah dari pengembangan daerah lain, sehingga perlu menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. “Kota Cirebon harus menjadi jembatan antara kabupaten dan provinsi dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi kawasan,” tambahnya.
Menurut Ono, strategi penguatan ekonomi kawasan juga perlu melibatkan perencanaan jangka panjang. “Kita perlu menyiapkan infrastruktur yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dalam 10-15 tahun ke depan,” katanya. Ia menyarankan pemerintah daerah untuk fokus pada pengembangan kawasan industri, pusat perbelanjaan, dan layanan jasa yang menarik. “Dengan investasi dalam kebutuhan masyarakat, kota ini bisa menjadi lebih berdaya,” ujarnya. Tantangan utama, menurutnya, adalah memastikan bahwa inovasi yang diusung tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan sosial.
Ono menyatakan bahwa kota ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perekonomian yang seimbang antara keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. “Kita bisa menggabungkan urban farming dengan teknologi digital untuk menciptakan model ekonomi baru,” katanya. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu berkoordinasi erat dengan lembaga lain, seperti Dinas Perindustrian dan Koperasi, agar kebijakan yang diambil bisa efektif. “Keterlibatan berbagai pihak akan mempercepat keberhasilan,” ujarnya.
Dengan memanfaatkan potensi sejarah dan sumber daya lokal, Kota Cirebon diharapkan bisa menjadi contoh sukses dalam penguatan peran ekonomi kawasan. Ono menegaskan bahwa inovasi harus berbasis kebutuhan warga, bukan sekadar isu yang terdengar. “Kita perlu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi,” katanya. Ia berharap bahwa dalam beberapa tahun mendatang, Cirebon bisa menunjukkan perubahan yang signifikan dan menjadi pusat pertumbuhan yang lebih mandiri.