Important Visit: Komedian Tretan Muslim menangis karena kuota haji dikorupsi
Komedian Tretan Muslim Menangis dalam Film “Foufo” karena Korupsi Kuota Haji
Important Visit – Jakarta, Rabu – Tretan Muslim, seorang komedian serta pendiri Tretan Universe Production, mengungkapkan rasa sedih yang dalam akibat terungkapnya kasus korupsi dalam kuota haji yang menjadi latar belakang film layar lebarnya berjudul “Foufo”. Menurutnya, pengalaman ini memberikan dampak emosional yang mendalam, terutama saat memerankan karakter utama film tersebut.
Pemilihan Peran yang Menantang
Di film ini, Tretan memainkan peran seorang pengepul barang bekas dari Madura yang berjuang keras untuk membiayai haji bagi ibunya. Ia menjelaskan bahwa kasus korupsi kuota haji memicu dia untuk menunjukkan sisi emosional yang selama ini tidak terlihat dalam aktingnya. “Di film ini, saya menghajikan ibu saya, di film ini yang jadi ibu saya, Ibu Siti Kam. Tapi di ‘real life’, saya enggak bisa menghajikan, karena kondisi ibu saya udah kurang fit fisiknya, gitu,” kata Muslim saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta.
Dalam cerita, ia dituntut untuk menampilkan adegan menangis yang intens. Tujuan utamanya adalah menggambarkan perasaan sedih dan kekecewaan karakter Muslim yang tidak bisa menemani ibunya melakukan ibadah haji. Muslim mengatakan bahwa ia memanfaatkan pengalaman pribadi untuk memicu air mata secara alami selama proses syuting. “Saya menggabungkan emosi dari kehidupan nyata dengan kisah film untuk membuat adegan lebih terasa,” tuturnya.
Kontroversi Kuota Haji dalam Film
Menurut Muslim, korupsi kuota haji menjadi salah satu elemen penting dalam film yang menyoroti ketidakadilan sistem. Ia merasa prihatin karena banyak orang yang terlantar karena kuota yang tidak sebanding dengan kebutuhan. “Kuota haji kan dikorupsi juga, ya. Ini sedih juga, Bro, banyak orang yang enggak haji-haji,” ujarnya.
Ini menjadi titik balik dalam kisah “Foufo”, di mana Muslim bertindak sebagai protagonis yang ingin menyelamatkan peluang haji bagi ibunya. Meski memerankan tokoh dengan latar belakang sederhana, ia mengaku bahwa peran ini memberinya tantangan baru. “Saya enggak menyangka kalau perannya itu bahkan saya enggak dikasih komedi di sini. Nah, itu menarik. Malah justru banyak suruh drama,” tambah Muslim.
Perjalanan Syuting yang Berkesan
Syuting film pertamanya ini tidak hanya menguji kemampuan akting Tretan, tetapi juga mengungkap kehidupan sehari-hari dalam usaha membiayai haji. Ia menjelaskan bahwa dengan memakai pengalaman pribadi, ia bisa lebih empatik dalam memerankan karakter yang penuh perjuangan. “Syuting film ini seperti berjalan bersama ibu saya dalam perjalanan spiritual,” katanya.
Kisah dalam “Foufo” menggambarkan seorang pengepul barang bekas yang bekerja keras untuk mengumpulkan dana haji. Tretan mengatakan bahwa ia merasa terdorong oleh keinginan untuk memperlihatkan bahwa hajj bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang perjuangan manusia dalam meraih kebahagiaan. “Karakter Muslim ini menggambarkan harapan yang tak terwujud karena keadaan ekonomi dan fisik yang membatasi,” ujarnya.
Respon Publik dan Makna Film
Film “Foufo” juga diharapkan bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pesan sosial tentang korupsi kuota haji. Tretan Muslim menyebutkan bahwa cerita ini dirancang agar bisa menarik perhatian masyarakat terhadap masalah tersebut. “Kami ingin memperlihatkan bagaimana hajj bisa menjadi harapan bagi banyak orang, tapi juga menjadi beban yang berat karena sistem yang tidak adil,” katanya.
Dalam proses produksi, Tretan mengungkapkan bahwa ia merasa lebih terhubung dengan karakter yang diperankannya. “Karena mempermainkan kehidupan nyata, saya merasa seperti mengalami perasaan tersebut secara langsung,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa kerja sama dengan Siti Kam, aktris pendatang baru dari Pamekasan, memberinya dorongan baru untuk menggarap adegan drama yang intens.
Komedi dan Drama yang Terpadu
Meski Tretan dikenal sebagai komedian, ia mengatakan bahwa peran dalam “Foufo” memberinya pengalaman berbeda. “Karena memerankan seseorang yang sedang berjuang, saya justru merasa lebih dekat dengan drama daripada komedi,” jelasnya. Ia menyebutkan bahwa tantangan ini memicu ia untuk mengembangkan kemampuan akting yang lebih dalam, terutama dalam menangani adegan emosional.
Komedi dan drama dalam film ini saling melengkapi. Muslim menjelaskan bahwa ia merancang cerita dengan kesadaran akan kebutuhan untuk menyeimbangkan antara humor dan kesedihan. “Dalam film, saya berusaha memperlihatkan ketertarikan Muslim pada hajj sebagai momen spiritual, sementara kesedihan muncul karena perjuangan yang berat,” kata aktor berusia 30 tahun ini.
Tretan Muslim juga mengungkapkan bahwa pengalaman ini membuatnya lebih berempati terhadap isu korupsi. “Saya merasa ada keterkaitan antara peran Muslim dan kondisi nyata masyarakat yang terlantar karena sistem yang tidak transparan,” katanya. Dengan memperlihatkan perasaan sedih dan kecewa, ia berharap film ini bisa memicu refleksi terhadap kuota haji yang saat ini banyak dikritik.
Kontribusi dalam Film dan Harapan untuk Masa Depan
Dalam kesimpulan, Tretan Muslim mengungkapkan bahwa pengalaman syuting “Foufo” memberinya kesadaran baru tentang pentingnya hajj bagi masyarakat. “Film ini adalah bentuk ekspresi dari keinginan saya untuk menyampaikan pesan keadilan melalui kisah yang bermakna,” katanya. Ia berharap film ini bisa menjadi pengingat bagi publik bahwa hajj tidak hanya tentang kerja keras, tetapi juga tentang keadilan yang harus terus dipertahankan.
Menurut Muslim, meski dalam film ini ia menangis karena korupsi, hal itu justru menjadi bagian dari keberhasilan cerita. “Saya merasa bangga karena bisa menggambarkan emosi yang tulus dalam peran ini,” tutupnya. Ia juga menyebutkan bahwa “Foufo” akan menjadi langkah awal dalam menggarap film-film yang lebih banyak menyampaikan pesan sosial dan emosional.