Hasil Pertemuan: Ketika guru bahasa gagap menulis

Ketika Keterampilan Menulis Jadi Tantangan bagi Guru

Dalam sebuah sekolah di Bondowoso, dua guru Bahasa Indonesia memperlihatkan sisi berbeda dalam menghadapi tugas menulis. Salah satu di antara mereka tampak kurang bersemangat saat diajak bergabung dalam proyek penulisan buku bersama atau antologi yang didukung lembaga pendidikan. Ia berdalih tidak nyaman dengan aktivitas membaca dan merasa kesulitan mengembangkan kemampuan menulis. Di sisi lain, guru lainnya yang mengajar mata pelajaran serupa lebih terbuka dalam menyampaikan kelemahan dirinya. “Saya kerap merasa gagap saat diminta menulis. Beberapa kali mencoba menggarap artikel, hanya bisa menyelesaikan judul, selebihnya terhenti,” ujar guru tersebut.

Kondisi yang Mencerminkan Kompleksitas Pendidikan

Meski tak semua guru Bahasa Indonesia memiliki kondisi serupa, situasi ini mengingatkan betapa rumitnya tantangan dalam sistem pendidikan kita. Keterampilan dasar yang seharusnya menjadi fondasi seorang pendidik, seperti membaca dan menulis, masih terlihat kurang optimal. Jika seorang guru tidak mampu menguasai bidangnya, bagaimana ia bisa membimbing murid-muridnya agar terampil?

Kompetensi Guru dan Standar Pemerintah

Contoh ini menggambarkan bahwa guru Bahasa Indonesia tidak selalu terampil dalam tugas yang menjadi bagian dari tugas mereka. Seperti halnya guru teknik di SMK yang diharapkan mumpuni dalam bidang permesinan, atau guru olahraga yang diwajibkan bisa berenang saat mengajar siswanya. Bahkan, seorang pengajar basket harus mampu bermain dengan baik meski tidak sehebat atlet profesional. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 070 Tahun 2016, yang menetapkan standar kemahiran berbahasa Indonesia. Standar ini mencakup keterampilan reseptif, seperti membaca dan menyimak, serta produktif, seperti menulis dan berbicara.

“Saya ini gagap kalau disuruh menulis. Beberapa kali mencoba menulis artikel, hanya selesai di judul, habis itu tidak ada kelanjutan,” kata si guru di sekolah jenjang lanjutan menengah atas itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *