Hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu komplikasi
Hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu komplikasi
Hipertensi yang tidak terkontrol bisa memicu –
Di Jakarta, seorang spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, mengungkapkan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. Menurut dia, salah satu dampak utama terjadi pada organ-organ tubuh seperti ginjal. “Pembuluh darah di ginjal relatif sempit, sehingga tekanan darah tinggi yang terus-menerus dapat mengakibatkan pembuluh tersebut menjadi kaku dan sulit mengalirkan darah,” jelas dr. Anindia dalam wawancara dengan ANTARA.
Risiko Komplikasi pada Penderita Hipertensi
Dr. Anindia menegaskan bahwa kondisi ini berpotensi mengganggu fungsi ginjal secara permanen. “Jika tekanan darah tidak dikelola secara baik, maka pembuluh darah di organ tersebut akan kehilangan fleksibilitasnya dan bisa menyebabkan penyumbatan,” tambahnya. Tidak hanya ginjal, tekanan darah tinggi yang berlangsung lama juga memengaruhi pembuluh darah di jantung. “Dalam waktu yang cukup lama, arteri jantung akan kehilangan kelembutan, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke,” katanya.
Komplikasi akibat hipertensi sering kali tidak terdeteksi sejak dini, terutama pada kelompok usia muda. Menurut dr. Anindia, individu dengan usia di bawah 40 tahun mungkin tidak menyadari kondisi mereka hingga tekanan darah mencapai tingkat yang berbahaya. “Gejala hipertensi pada usia muda bisa sangat tidak khas, sehingga sering kali diabaikan,” kata dia. Contohnya, nyeri kepala atau pusing yang terjadi secara terus-menerus bisa dianggap sebagai hal biasa.
“Gejala yang muncul mungkin seperti nyeri kepala, pusing yang tidak hilang dengan obat penghilang sakit kepala, mual, atau sampai muntah,”
Beberapa orang mungkin hanya menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi ketika kondisi tersebut sudah memicu gejala yang jelas. Namun, dr. Anindia menekankan bahwa tahap awal hipertensi sering tidak menunjukkan tanda-tanda yang nyata. “Pada usia muda, pembuluh darah masih elastis, sehingga tekanan darah tinggi tidak segera menimbulkan keluhan,” jelasnya.
Faktor Penyebab dan Pencegahan
Hipertensi, menurut dr. Anindia, merupakan penyakit multifaktorial yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan. “Faktor seperti pola makan, gaya hidup, dan genetik berperan dalam penyebabnya,” katanya. Orang tua yang memiliki riwayat hipertensi tidak sepenuhnya menjamin anaknya akan menderita kondisi tersebut, asalkan gaya hidup sehat diterapkan. “Jika anaknya rajin berolahraga, menjaga berat badan, menghindari rokok, dan menerapkan diet rendah garam, maka risiko munculnya hipertensi bisa diminimalkan,” tambah dr. Anindia.
Diagnosis hipertensi diakukan berdasarkan pengukuran tekanan darah yang konsisten di atas 140/90 mmHg. Namun, dalam praktiknya, banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka mengalami kondisi ini karena gejala yang tidak spesifik. “Beberapa penderita hipertensi muda merasa nyaman meski tekanan darah mereka sudah di luar batas normal,” ungkap dr. Anindia.
Komplikasi yang terjadi akibat hipertensi tidak hanya terbatas pada organ-organ seperti ginjal dan jantung, tetapi juga memengaruhi sistem pembuluh darah secara menyeluruh. Menurut dr. Anindia, tekanan darah tinggi yang berkelanjutan dapat mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah di otak, mata, dan bagian tubuh lainnya. “Kerusakan ini mungkin tidak terlihat secara langsung, tetapi menimbulkan efek jangka panjang yang serius,” jelasnya.
Untuk menghindari masalah komplikasi, dr. Anindia menyarankan perubahan gaya hidup sejak dini. “Pola hidup sehat tidak hanya membantu mencegah hipertensi, tetapi juga memperpanjang usia produktif seseorang,” katanya. Hal ini termasuk pengaturan konsumsi garam, rutin berolahraga, dan mengurangi stres. “Seseorang yang memantau kesehatannya secara berkala, terutama di usia muda, akan lebih mudah mengantisipasi gejala yang mungkin muncul,” tambahnya.
“Komplikasinya mungkin baru akan dijumpai jangka panjang, bisa 20-25 tahun ke depan bila tekanan darah tidak terkontrol,”
Menurut dr. Anindia, hipertensi bisa terjadi karena kombinasi faktor genetik dan lingkungan. “Beberapa orang memiliki predisposisi genetik, tetapi jika gaya hidup mereka sehat, mereka tetap bisa menjaga tekanan darah dalam batas normal,” jelasnya. Sebaliknya, individu yang memiliki faktor risiko genetik tetapi mengabaikan kebiasaan sehat bisa mengalami komplikasi lebih cepat.
Dalam pencegahan, dr. Anindia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat tentang risiko hipertensi. “Pendidikan kesehatan yang baik di masa depan akan mengurangi jumlah kasus hipertensi yang tidak terdeteksi dini,” katanya. Selain itu, ia juga merekomendasikan pemeriksaan rutin untuk usia muda yang berisiko. “Individu yang memiliki keluarga dengan riwayat hipertensi sebaiknya mengukur tekanan darah setidaknya sekali dalam bulan untuk memantau kondisi mereka,” tutup dr. Anindia.
Secara umum, hipertensi tidak hanya menjadi masalah usia tua, tetapi juga bisa memengaruhi orang muda. Dengan pengelolaan yang tepat sejak awal, risiko komplikasi dapat diperkecil. “Hipertensi adalah tantangan yang bisa diatasi, selama orang muda memperhatikan gaya hidup mereka,” katanya.