PMI asal Aceh dan bayinya diduga jadi korban pembunuhan di Malaysia
PMI Asal Aceh dan Bayinya Diduga Jadi Korban Pembunuhan di Malaysia
PMI asal Aceh dan bayinya diduga – Banda Aceh – Seorang perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Gampong Alur Manis, Kabupaten Aceh Tamiang, bernama Putri Hensy Aprilda (22 tahun), bersama bayinya yang baru lahir beberapa hari, dilaporkan meninggal dunia di Selangor, Malaysia. Menurut informasi yang diterima melalui KBRI Kuala Lumpur, kejadian tersebut terjadi di kawasan Sepang pada 3 Juni 2026. Anggota DPD RI asal Aceh, Haji Uma, mengonfirmasi hal ini saat diwawancara di Banda Aceh, Senin. “Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh warga setempat, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Klang,” jelasnya.
Koordinasi dengan Pihak Malaysia
Informasi mengenai kasus pembunuhan PMI dan bayinya tersebut diperoleh Haji Uma melalui Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur serta Tim Gabungan Aceh Bersatu (GAB) yang sedang berada di Malaysia. Tim GAB diberitakan tengah menelusuri identitas keluarga korban, dengan bantuan Pusat Identifikasi (Pusident) Bareskrim Polri. “Kami bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk melacak keberadaan jenazah korban dan memastikan proses pemulangan ke Tanah Air berjalan lancar,” tambah Haji Uma.
Seorang perempuan Malaysia diduga menjadi pelaku kejahatan ini, kata Haji Uma. Saat ini, pelaku telah diamankan oleh pihak berwenang pada 19 Juni 2026 dan sedang menjalani proses hukum sesuai peraturan Malaysia. “Dugaan awal menyebutkan bahwa tindakan tersebut mungkin terkait utang piutang,” katanya. Menurut dia, Polisi Diraja Malaysia (PDRM) sudah mengumpulkan bukti kuat yang mendukung kemungkinan itu. Jika terbukti bersalah, pelaku bisa dihukum mati atau dipenjara seumur hidup.
Langkah untuk Pemulangan Jenazah
Dalam upaya mempercepat pemulangan jenazah, Haji Uma menyatakan bahwa KBRI Kuala Lumpur terus mengawasi penyelidikan oleh PDRM. “Tim GAB Malaysia juga diberi tugas untuk mengurus jenazah Putri Hensy dan bayinya, yang saat ini berada di Rumah Sakit Shah Alam,” ujarnya. Jenazah bayi ditemukan oleh warga setempat, sementara jenazah ibu korban diangkut ke Klang. “Kami berharap proses ini dapat berjalan baik dengan dukungan semua pihak,” lanjut Haji Uma.
Biaya pemulangan jenazah diperkirakan mencapai Rp36 juta. Untuk meringankan beban, pihaknya telah mengajukan donasi melalui Grup Aceh Bersatu dan Grup Aceh Meutuah di Malaysia. “Dana ini akan digunakan untuk mengurus transportasi jenazah dan semua kebutuhan selama proses pemulangan,” tambah Haji Uma. Ia menekankan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur dan datok setempat guna memastikan keseluruhan proses berjalan sesuai rencana.
Kondisi Korban dan Latar Belakang
Putri Hensy dikenal sebagai yatim piatu yang selama ini tinggal bersama neneknya dalam kondisi ekonomi sederhana. Korban bekerja di Malaysia selama sekitar tiga tahun sebelum kejadian tersebut. “Dia adalah wanita yang sangat baik dan berjuang keras demi keluarga,” kata Haji Uma. Kepergian Putri Hensy dan bayinya menggemparkan warga Aceh, yang mengirimkan dukungan moral serta bantuan finansial melalui berbagai jalur.
Menurut Haji Uma, kerja sama antara KBRI Kuala Lumpur dan Tim GAB sangat signifikan dalam menangani kasus ini. “Kami apresiasi respons cepat pihak berwenang Malaysia dan upaya mereka dalam mengidentifikasi jenazah korban,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan bahwa pemulangan jenazah akan dilakukan secara gotong royong, melibatkan dirinya, Bupati Aceh Tamiang, para datok setempat, serta warga Aceh yang tinggal di Malaysia. “Semoga dana donasi segera terkumpul, sehingga proses pemulangan dapat selesai sebelum musim hujan tiba,” imbuh Haji Uma.
Proses Investigasi dan Dukungan Komunitas
Kasus ini mendapat perhatian luas dari komunitas Aceh di Malaysia. Ratusan warga aktif mengumpulkan dana melalui media sosial dan pertemuan lokal. “Warga Aceh di Malaysia sangat antusias dalam memberikan kontribusi,” kata Haji Uma. Ia juga mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap hukum dan regulasi yang berlaku di Malaysia, sekaligus menjelaskan bahwa penyelidikan masih terus berlangsung untuk memastikan tidak ada kehilangan informasi.
Sementara itu, KBRI Kuala Lumpur diberitakan sedang mengkoordinasikan pengurusan dokumen jenazah dan mengawal proses hukum terhadap pelaku. “Jenazah bayi telah diambil dari Rumah Sakit Klang dan dipindahkan ke Rumah Sakit Shah Alam,” ujarnya. Haji Uma menambahkan bahwa Tim GAB Malaysia tidak hanya fokus pada pemulangan jenazah, tetapi juga memastikan keadilan diperoleh bagi korban. “Kami berharap proses ini tidak hanya mengembalikan jenazah, tetapi juga mengungkap seluruh fakta kejadian,” kata Haji Uma.
Kebutuhan Pemulangan dan Tantangan
Menurut Haji Uma, biaya pemulangan jenazah menjadi tantangan utama, terutama mengingat kondisi ekonomi keluarga korban yang sederhana. “Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Aceh Tamiang dan para datok setempat untuk mengatur seluruh aspek pemulangan,” jelasnya. Selain itu, upaya untuk mempercepat proses juga tergantung pada respons masyarakat dan organisasi Aceh di luar negeri.
Di sisi lain, pihak keluarga korban mengungkapkan rasa dukacita atas kejadian ini. “Putri Hensy sangat mencintai anaknya dan selalu menjaga kondisi baik,” kata seorang kerabat dekat korban. Kejadian ini menimbulkan kecemasan di antara para PMI Aceh yang berada di Malaysia, terutama karena kondisi sosial dan politik negara tujuan masih menjadi faktor risiko dalam pekerjaan migran. Haji Uma menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau kasus ini dan memberikan pembaruan terkini kepada keluarga serta masyarakat Aceh.
Kesimpulan dan Harapan
Menutup wawancara, Haji Uma menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi PMI Aceh. “Kami berharap semua pihak bersama-sama memberikan dukungan untuk mengatasi tantangan ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan jenazah Putri Hensy dan bayinya kembali ke Aceh dengan selamat. “Dengan gotong royong, kita yakin proses ini akan selesai secara baik, insya Allah,” pungkas Haji Uma.
“Kami sudah meminta tim di Malaysia untuk mendampingi seluruh proses pengurusan jenazah hingga pemulangan ke kampung halaman. Kami juga terus berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur agar proses ini dapat berjalan lancar,” ujar Haji Uma.
Kasus ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam pekerjaan migran, terlebih di lingkungan yang masih terbuka terhadap berbagai bentuk kejahatan. Sementara itu, proses pemulangan jenazah akan menjadi simbol kepedulian komunitas Aceh terhadap rekan-rekan yang bekerja di luar negeri. “Semoga dana segera terkumpul dan prosesnya berjalan lancar,” tambah Haji Uma. Dengan dukungan masyarakat, ia yakin keadilan akan tercapai meski jenazah harus diperjalankan jauh dari rumah.