Meeting Results: IDAI jelaskan alasan gumoh normal terjadi pada bayi

IDAI jelaskan alasan gumoh normal terjadi pada bayi

Meeting Results – Jakarta, Rabu – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan penjelasan terkait penyebab umum gumoh yang dianggap sebagai fenomena alami pada bayi. Dalam diskusi daring yang diadakan di Jakarta, Selasa, Dr. Sri Kesuma Astuti, anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, menjelaskan bahwa banyak alasan membuat gumoh menjadi hal yang wajar dalam masa pertumbuhan bayi. Menurutnya, kondisi ini sering kali terjadi karena beberapa faktor fisiologis yang memengaruhi sistem pencernaan bayi.

Fungsi Sistem Pencernaan yang Belum Sempurna

Dr. Sri Kesuma Astuti menyebutkan bahwa pada usia bayi, mekanisme pembatas antara lambung dan kerongkongan belum sepenuhnya berkembang. “Sistem ini memiliki klep yang berfungsi untuk mencegah cairan yang masuk ke lambung kembali ke esofagus,” jelasnya. Namun, karena fungsi klep ini belum optimal, cairan susu atau ASI yang diminum bayi bisa dengan mudah naik kembali. Fenomena ini tidak selalu menunjukkan adanya masalah, melainkan proses alami yang terjadi dalam tubuh bayi.

“Cairan atau liquid itu yang nanti sifatnya mudah berpindah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa bayi memiliki kapasitas lambung yang relatif kecil dibandingkan dengan usia dewasa. Hal ini membuat cairan yang masuk tidak bisa menampung banyak jumlah, sehingga mungkin terlempar kembali. “Faktor ini membuat gumoh menjadi lebih sering terjadi pada tahap awal kehidupan bayi,” kata Sri. Di samping itu, karena bayi masih dalam proses pengembangan sistem pencernaan, kecepatan penyerapan dan pengeluaran cairan juga berbeda.

Pola Tidur dan Perilaku Bayi

Besarnya kemungkinan gumoh pada bayi juga terkait dengan cara mereka beristirahat. “Bayi memiliki kebiasaan tidur yang cukup dalam, sehingga gerakan perut dan lambung menjadi lebih aktif,” papar Sri. Hal ini bisa memicu aliran cairan ke atas. Dalam konteks ini, tidur yang terlalu lama atau dalam tanpa kejelasan sebab bisa menjadi faktor penyebab. Selain itu, menurut dokter spesialis anak tersebut, gumoh tidak berkaitan langsung dengan kualitas ASI yang diberikan ibu, melainkan lebih pada kuantitasnya.

Ia menekankan bahwa orang tua perlu memahami bahwa menangis bayi tidak selalu diartikan sebagai tanda lapar. “Bisa juga terjadi karena ketidaknyamanan atau kebutuhan akan sesuatu,” tambahnya. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk mengamati pola makan dan pergerakan bayi sehari-hari. Jika gumoh terjadi secara teratur namun tidak mengganggu tumbuh kembang, maka ini dianggap sebagai hal normal.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meski gumoh biasanya wajar, terdapat beberapa tanda yang menunjukkan adanya kecenderungan terhadap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). “Gejala ini mungkin memerlukan perhatian lebih dari orang tua,” kata Sri. Tanda-tanda tersebut antara lain muntah darah, pertumbuhan atau peningkatan berat badan yang tidak sesuai dengan usia, serta postur sandifer yang ditandai dengan seringnya bayi melengkungkan punggung.

“Tanda lainnya yang perlu diwaspadai adalah jika bayi mengalami rewel berlebihan, menangis terus-menerus tanpa alasan yang jelas, atau bahkan menolak menyusu,” ujarnya.

Dalam situasi tertentu, keluhan tambahan seperti sembelit atau diare bisa muncul. Selain itu, gangguan tidur yang terjadi secara berkepanjangan juga bisa menjadi indikasi GERD. Menurut Sri, jika orang tua mengamati tanda-tanda ini, maka segera membawa anak ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut adalah langkah yang tepat. “Dokter akan menentukan apakah gumoh yang terjadi hanya biasa atau memerlukan intervensi medis,” imbuhnya.

IDAI menyarankan para orang tua untuk belajar mengenali kebutuhan bayi secara bijak. “Jangan langsung mengasumsikan bahwa gumoh berarti bayi lapar,” kata Sri. Namun, jika gumoh terjadi dengan frekuensi tinggi atau disertai gejala lain, maka perlu dilakukan pemeriksaan. Ia menegaskan bahwa penanganan dini bisa mencegah komplikasi yang lebih serius.

Selain itu, teknik pemberian ASI atau susu formula juga berpengaruh terhadap kemungkinan gumoh. “Orang tua perlu menyesuaikan volume pemberian dengan kebutuhan bayi,” sarannya. Misalnya, memberi ASI dalam jumlah yang berlebihan dapat memicu peningkatan risiko gumoh. Namun, jika pemberian sesuai dan teratur, maka gumoh akan lebih sedikit terjadi.

Sri Kesuma Astuti mengingatkan bahwa setiap bayi memiliki kebutuhan dan respons yang berbeda terhadap makanan. “Dengan memahami hal ini, orang tua bisa menghindari kepanikan yang tidak perlu,” tuturnya. Pada akhirnya, gumoh yang terjadi secara rutin tetapi tidak disertai gejala lain tidak perlu dikhawatirkan. Namun, jika gumoh disertai tanda-tanda yang mencurigakan, maka konsultasi dengan spesialis anak menjadi langkah yang wajib dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *