Delegasi IGS 2026 jelajahi kekayaan budaya dan produk UMKM lokal
Delegasi IGS 2026 Menghadiri Pameran Budaya dan Produk UMKM Lokal di Makassar
Delegasi IGS 2026 jelajahi kekayaan budaya – Makassar, Rabu (Tanggal 12 Mei 2024) — Kehadiran Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 menjadi momen penting dalam menampilkan warisan budaya dan hasil karya dari para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal. Acara ini diadakan di Anjungan Pantai Losari, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai ajang promosi kekayaan kuliner serta kerajinan tangan yang dianggap sebagai ciri khas kota ini. Dalam kunjungan tersebut, para delegasi tidak hanya menyaksikan demonstrasi pembuatan produk, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para pengrajin untuk memahami proses dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kuliner dan Kerajinan Tangan sebagai Representasi Budaya Makassar
Pameran Dekranasda Kota Makassar ini dirancang untuk memperkenalkan keanekaragaman produk dari sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi kota. Tampilan berbagai makanan khas dan barang kerajinan dianggap sebagai upaya untuk memperkuat identitas lokal sekaligus menarik minat wisatawan dan investor. Salah satu fokus utama adalah pengenalan kekayaan warisan budaya yang diwujudkan dalam bentuk kriya, seperti kain tenun dan peralatan tradisional. “Melalui kegiatan ini, kami berharap menampilkan bahwa Makassar tidak hanya dikenal akan masakannya, tetapi juga memiliki kerajinan tradisional yang unik dan berkualitas,” tutur Ketua Dekranasda Makassar, Melinda Aksa, dalam sambutan resmi.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap menampilkan bahwa Makassar tidak hanya dikenal akan masakannya, tetapi juga memiliki kerajinan tradisional yang unik dan berkualitas,” ujar Melinda Aksa.
Kunjungan delegasi IGS 2026 turut ditemani oleh para pengrajin yang aktif dalam mengembangkan usaha mereka. Para tamu diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung proses pembuatan kain tenun yang berlangsung di area pameran. Teknik membatik dan tenun ini telah dilestarikan selama berabad-abad dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bugis-Makassar. Melinda menjelaskan bahwa kain tenun tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mewakili keahlian generasi sebelumnya yang terus diwariskan ke generasi berikutnya.
Selain itu, delegasi juga menikmati demonstrasi pembuatan produk dari bahan enceng gondok. Tanaman ini dipilih karena teksturnya yang lembut dan warna alami yang bisa diubah menjadi warna-warna menarik melalui proses pewarnaan tradisional. Produk yang dihasilkan mencakup peralatan rumah tangga, hiasan, serta aksesori yang disukai oleh banyak pengunjung. Di sebelahnya, para delegasi berkesempatan melihat cara pembuatan bosara, wadah tradisional khas Bugis-Makassar. Bosara digunakan sebagai alat penyimpanan bahan makanan atau benda-benda penting, dan desainnya yang kuat serta tahan lama menjadikannya pilihan utama di masyarakat setempat.
Pameran yang Menjadi Pendorong Perekonomian Lokal
Acara ini menurut Melinda Aksa merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mendukung para pelaku UMKM melalui pameran yang terbuka untuk publik. Dengan memperkenalkan produk-produk lokal, pemerintah berharap mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membangkitkan minat konsumen dalam membeli produk asli. “Kami ingin menunjukkan bahwa kekayaan budaya Makassar tidak hanya dilihat dari kulinernya, tetapi juga dari inovasi yang dilakukan oleh para pengrajin,” kata Melinda, yang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara UMKM dan kegiatan budaya untuk menjaga keberlanjutan warisan leluhur.
Pameran ini menyajikan lebih dari 100 produk dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Produk-produk tersebut dikelompokkan menjadi dua kategori utama: kuliner dan kriya. Kuliner yang dipamerkan mencakup makanan tradisional seperti semangkok serta penganan khas, sementara kriya meliputi pakaian adat, aksesori, dan peralatan rumah tangga. Selain itu, ada juga produk-produk yang tergolong baru, seperti makanan modern dengan bahan lokal atau kerajinan yang menggabungkan teknik tradisional dengan desain kontemporer.
Proses Kreatif yang Dibagikan Secara Langsung
Dalam kunjungan, para delegasi tidak hanya menyaksikan hasil akhir produk, tetapi juga diberikan penjelasan tentang proses pembuatan dari awal hingga akhir. Misalnya, dalam pembuatan kain tenun, pengrajin menjelaskan tentang langkah-langkah seperti menenun benang, merajut motif, serta proses pengeringan dan penyelesaian. Sementara itu, produk dari enceng gondok dibuat melalui pengolahan alami dengan menggunakan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar daerah tersebut.
Proses pembuatan bosara