Danantara Diperlukan Ketelitian dalam Seleksi Proyek Hilirisasi
Celios sebut Danantara harus jeli di praseleksi – Jakarta – Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), menegaskan pentingnya ketelitian dalam proses seleksi proyek-proyek strategis nasional. Celios sebut Danantara harus jeli dalam melakukan praseleksi terhadap berbagai inisiatif hilirisasi yang sedang digarap. Sebagai Associate Member International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF), lembaga ini memiliki tanggung jawab untuk menerapkan standar internasional dalam setiap pengambilan keputusan strategis yang berdampak pada perekonomian negara.
Saat ini, Danantara sedang menangani sejumlah 26 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi yang mencapai Rp225 triliun. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan mampu menyerap sebanyak 37.833 tenaga kerja ke dalam pasar kerja domestik.
“Danantara sudah join Koalisi SWF dunia dan punya standar Santiago, itu harus diterapkan dalam praseleksi proyek,” kata Bhima saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Penerapan standar Santiago menjadi sangat krusial mengingat posisi Danantara sebagai entitas yang mengelola dana kedaulatan negara.
Standar Internasional dalam Pengambilan Keputusan
Standar Santiago mencakup prinsip-prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas dalam setiap keputusan investasi. Bhima menambahkan bahwa Danantara seharusnya memberikan perhatian lebih pada beberapa aspek penting. Pertama, proses seleksi proyek harus dilakukan secara komprehensif. Kedua, manajemen risiko termasuk risiko fiskal perlu dipantau secara ketat. Ketiga, pengukuran dampak sosial dan ekonomi harus menjadi bagian integral dari evaluasi proyek. Keempat, koordinasi antar pemangku kepentingan harus diperkuat untuk mengurangi potensi konflik kebijakan.
“Danantara perlu ambil posisi jadi jembatan antara kementerian teknis, pemerintah daerah, dan investor,” ujar dia.
Sebelumnya, Danantara telah melaporkan bahwa ke-26 proyek hilirisasi tersebut mencakup berbagai komoditas strategis nasional. Sektor pertambangan menjadi salah satu fokus utama dengan pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga. Sementara itu, sektor energi dan pangan juga mendapat perhatian melalui pengembangan fasilitas bioavtur dan bioetanol.
Pengolahan kelapa sawit dan industri kelapa menjadi bagian dari strategi diversifikasi nilai tambah. Selain itu, peternakan ayam terintegrasi juga masuk dalam daftar proyek prioritas untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Pelaksanaan proyek-proyek ini dilakukan dalam dua fase terpisah. Fase pertama dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026. Fase ini mencakup enam proyek prioritas yang tersebar di 13 lokasi berbeda dengan nilai investasi Rp109 triliun. Potensi penyerapan tenaga kerja pada fase pertama mencapai 11.456 orang.
Fase kedua dijadwalkan dimulai melalui groundbreaking pada 29 April 2026. Fase ini meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp116 triliun. Diperkirakan fase kedua akan menyerap 26.377 tenaga kerja tambahan. Bhima menekankan bahwa Indonesia memang sepatutnya bersikap ambisius dalam menggarap berbagai potensi hilirisasi.
“Memang sebaiknya Indonesia ambisius. Kita memiliki potensi dari pangan, perikanan sampai energi terbarukan kenapa harus business-as-usual?”
Fokus utama harus pada proyek-proyek yang mampu menyerap tenaga kerja berkualitas serta memberikan nilai tambah signifikan pada produk-produk turunan. Yang perlu diperhatikan, proyek-proyek harus sesuai prosedur, seperti kesiapan, teknis, finansial, kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Menurutnya, ambisi harus diimbangi dengan kesiapan komprehensif. Aspek teknis, finansial, sosial, dan lingkungan harus dipertimbangkan secara matang sebelum proyek dimulai. Pendekatan ini akan memastikan keberlanjutan dan keberhasilan setiap inisiatif hilirisasi yang dijalankan.

