Kemenekraf hadirkan program pemulihan kreatif untuk anak Aceh Tamiang

1 hour ago  ·  4 min read
By Karen Martinez - pemandanganindah.com
khrisna-edit-1788105103-9f3dc6d85a

Seni sebagai Jembatan Pemulihan Jiwa Anak Pasca-Banjir Bandang di Aceh Tamiang

Pemandanganindah.com – Di tengah puing-puing bangunan yang masih menunggu perbaikan dan jalan-jalan yang belum sepenuhnya pulih, satu hal yang tidak bisa diukur dengan beton dan baja justru menjadi prioritas: kondisi batin anak-anak yang kehilangan rasa aman akibat bencana. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) merespons kebutuhan tersebut dengan menghadirkan program pemulihan berbasis seni rupa bertajuk “Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-Anak” di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Kegiatan ini digelar pada hari Minggu dan menyasar langsung kelompok usia sekolah dasar hingga menengah pertama yang terdampak banjir bandang melanda wilayah tersebut.

Program ini bukan sekadar kegiatan melukis biasa. Ia dirancang sebagai intervensi psikososial terstruktur yang memadukan ekspresi artistik dengan pendampingan profesional, sekaligus membuka pintu pengenalan potensi ekonomi kreatif sejak dini bagi generasi muda di daerah pascabencana.

Skala dan Struktur Kepesertaan

Sebanyak 100 anak mengikuti program intensif ini, terbagi rata-rata menjadi 50 siswa sekolah dasar dan 50 siswa sekolah menengah pertama. Setiap peserta tidak dibiarkan bekerja sendiri; mereka didampingi oleh mentor profesional, seniman lokal, serta psikolog klinis yang memastikan proses ekspresi berlangsung dalam lingkungan yang aman secara emosional. Karya yang dihasilkan anak-anak mengusung dua tema utama: “Bangkit” dan “Harapan Baru” — pilihan kata yang secara eksplisit mengarahkan narasi dari luka menuju pemulihan.

“Setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya bangunan, tetapi juga jiwa dan senyum anak-anak kita,” ujar Romi Astuti, Direktur Kuliner Kemenekraf, saat menyampaikan keterangan di Aceh Tamiang.

Romi menegaskan bahwa pendekatan pemulihan pascabencana yang hanya berorientasi pada infrastruktur fisik adalah pendekatan yang tidak utuh. Bagi Kemenekraf, dimensi psikologis dan emosional warga terdampak — terutama anak-anak — harus mendapat porsi setara dalam agenda rehabilitasi.

“Melalui seni, kita menyediakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan mimpi,” tambahnya.

Dimensi Ekonomi Kreatif: Dari Kanvas ke Produk Bernilai Jual

Yang membedakan program ini dari kegiatan trauma healing konvensional adalah orientasi ekonominya. Karya-karya yang dihasilkan anak-anak peserta tidak berhenti di ruang kelas. Romi menjelaskan bahwa hasil karya tersebut akan dikurasi secara profesional untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai komersial, antara lain art print, tas, dan cenderamata. Langkah ini sekaligus menjadi pengenalan awal bagi anak-anak tentang bagaimana kreativitas dapat menjadi sumber penghidupan, bukan sekadar hiburan.

Salah satu elemen paling mencolok dari kegiatan ini adalah pemilihan medium lukis. Alih-alih menggunakan cat sintetis komersial, anak-anak diajak memanfaatkan pigmen alami yang diekstrak dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai bahan lukis. Romi menyebut keputusan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan sebuah simbolisasi: trauma dan kehancuran yang ditinggalkan bencana diubah secara literal menjadi bahan baku keindahan.

“Salah satu keunikan kegiatan ini adalah penggunaan pigmen alami yang berasal dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium lukis. Hal itu menjadi simbolisasi transformasi trauma bencana menjadi sebuah karya seni,” kata Romi.

Metodologi KBI dari Kids Biennale Indonesia

Pelaksanaan teknis program ini ditopang oleh Kids Biennale Indonesia, yang dipimpin oleh Agatha Anggira Paramita Putri, dikenal dengan nama panggung Gie Sanjaya. Gie menjelaskan bahwa pendekatan yang diterapkan mengikuti kerangka metode observe, connect, invite, guide, reflect — disingkat KBI — yang menempatkan proses ekspresi anak sebagai inti, bukan hasil akhir karya.

“Fokus utama kami adalah pada proses dan pengalaman anak, bukan sekadar hasil akhir. Seni di sini berfungsi sebagai jembatan pemulihan jiwa,” ujar Gie Sanjaya.

Pendekatan ini selaras dengan literatur psikologi anak yang menekankan bahwa aktivitas kreatif terstruktur dapat menurunkan tingkat kecemasan, memberikan rasa kontrol kembali terhadap lingkungan, dan membangun kembali narasi identitas positif pada anak yang mengalami peristiwa traumatis. Dalam konteks Aceh Tamiang, di mana banjir bandang telah mengganggu rutinitas sekolah, bermain, dan interaksi sosial selama berminggu-minggu, intervensi semacam ini menjadi jembatan transisi menuju normalitas psikologis.

Respons Pemerintah Daerah dan Landasan Hukum

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, Yusriati, menyambut positif kehadiran program tersebut. Ia menilai langkah pemerintah pusat ini sebagai akselerasi penting dalam rehabilitasi psikososial masyarakat yang selama ini lebih banyak difokuskan pada aspek fisik.

“Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan melukis, melainkan upaya menyalakan api optimisme dan melatih ketangguhan anak-anak pascabencana,” katanya.

Yusriati juga menegaskan bahwa rangkaian program ini merupakan implementasi langsung dari Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam. Dengan demikian, kegiatan seni-terapi di Aceh Tamiang bukan inisiatif ad-hoc, melainkan bagian dari kerangka kebijakan nasional yang terstruktur untuk mempercepat pemulihan menyeluruh.

Penutup: Instalasi Umbul-Umbul dan Jalan Menuju Pameran Nasional

Rangkaian program ini akan ditutup dengan pembuatan instalasi kolektif berupa umbul-umbul — lampion tradisional yang lazim menghiasi ruang publik di Aceh. Karya kolektif tersebut direncanakan dipamerkan terlebih dahulu di tingkat lokal Kabupaten Aceh Tamiang, sebelum dibawa ke Pameran Nasional di Jakarta. Perjalanan karya dari ruang kelas di sebuah kabupaten pesisir Aceh menuju panggung nasional menjadi metafora kecil dari pesan utama program: bahwa dari puing dan lumpur, anak-anak mampu membangun kembali bukan hanya lukisan, tetapi juga harapan.

Frequently Asked Questions

What is Kemenekraf hadirkan program pemulihan kreatif?

Kemenekraf hadirkan program pemulihan kreatif is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenekraf hadirkan program pemulihan kreatif matter?

Kemenekraf hadirkan program pemulihan kreatif matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category