Pembahasan Penting: Mentan minta kepala daerah petakan wilayah pertanian hadapi kemarau

Mentan Minta Kepala Daerah Petakan Wilayah Pertanian untuk Menghadapi Kemarau

Jakarta, Minggu (5/4) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak seluruh kepala daerah di Indonesia untuk segera melakukan pemetaan wilayah pertanian yang rentan terhadap kekeringan. Tindakan ini dianggap sebagai langkah strategis guna mengurangi dampak kemarau yang dipicu oleh fenomena El Nino, serta menjaga ketahanan pangan nasional.

Instruksi Terhadap Gubernur dan Bupati

Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa, Mentan mengatakan bahwa instruksi tersebut ditujukan kepada seluruh gubernur dan bupati untuk memetakan daerah yang sering mengalami kekeringan dan menyiapkan sistem peringatan dini yang terintegrasi. “Kami menekankan pentingnya mapping wilayah langganan kekeringan sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap musim kemarau tahun ini,” ujarnya.

“El Nino atau Godzilla dianggap bisa menyebabkan kekeringan selama enam bulan. Namun, sejauh ini El Nino yang terjadi di tahun 2015 lebih parah. Kami telah membangun kepercayaan diri dalam mengelola fenomena tersebut sejak 2015, 2023, dan 2024,” tambah Mentan saat meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, Sulawesi Selatan.

Optimasi Pengelolaan Air Irigasi

Dalam upaya menghadapi tantangan perubahan iklim, Mentan juga menekankan perlunya pengoptimalan pengelolaan air irigasi. Beberapa langkah yang diusulkan meliputi rehabilitasi jaringan air, pembangunan embung, sumur dangkal, dan sumur dalam, serta pemanfaatan pompanisasi perpipaan dan irigasi perpompaan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pertanian di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Kesiapan Alat dan Mesin Pertanian

Pemerintah telah menyiapkan alat dan mesin pertanian dalam jumlah besar untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut. Menurut Mentan, selama periode 2024 hingga 2025, total 171.000 unit peralatan disediakan guna memperkuat siap siaga petani terhadap kemarau. Untuk tahun 2026, target distribusi infrastruktur air seperti irigasi perpompaan, perpipaan, dan konservasi dinaikkan menjadi 37.000 unit, sementara tambahan 94.000 unit pompa air juga diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan produksi pertanian.

Langkah-langkah ini bertujuan memastikan respons cepat terhadap potensi kekeringan, sehingga produksi pertanian tetap stabil meskipun menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Koordinasi antar sektor dan pemangku kepentingan pertanian menjadi kunci dalam mengurangi risiko gagal panen selama musim kemarau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *