IHSG Menutup dengan Penurunan Ringan di Tengah Ketegangan Geopolitik Global
Pemandanganindah.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penutupan dengan tren penurunan pada Senin sore. Penurunan ini sejalan dengan pelemahan yang dialami berbagai bursa saham di kawasan Asia, yang utamanya didorong oleh sentimen terkait meningkatnya tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah. Secara spesifik, IHSG ditutup melemah sebesar 1,63 poin atau setara dengan 0,03 persen, sehingga menempati posisi di angka 6.234,50. Di sisi lain, kelompok 45 saham unggulan atau yang dikenal sebagai indeks LQ45 justru mencatatkan kenaikan sebesar 2,69 poin atau 0,43 persen ke level 623,93.
Dampak Sentimen Timur Tengah terhadap Pasar Regional
Mengawali bulan baru, bursa-bursa regional Asia menunjukkan pergerakan yang cenderung melemah. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh berbagai perkembangan sentimen terkait tensi geopolitik di Timur Tengah. Meskipun demikian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membatalkan serangan yang sebelumnya direncanakan terhadap Iran. Pernyataan ini disampaikan oleh Maximilianus Nico Demus atau yang lebih dikenal dengan nama Nico, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam kajiannya di Jakarta pada hari Senin.
“Mengawali bulan ini, bursa regional Asia bergerak melemah, tampaknya pasar dipengaruhi dari beberapa sentimen perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah, meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran,” ujar Nico.
Trump juga menyampaikan bahwa Arab Saudi serta sekutu utama lainnya di Timur Tengah telah mendesaknya untuk menghentikan serangan yang direncanakan dan melanjutkan proses negosiasi. Selain itu, pihak AS terus memberikan tekanan agar pembukaan kembali Selat Hormuz dapat dilakukan secara cepat. Namun, pasar tampaknya masih menunjukkan keraguan terhadap upaya de-eskalasi antara AS dan Iran. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa upaya-upaya tersebut sering kali berulang namun belum menghasilkan kesepakatan perdamaian yang bersifat permanen. Pelaku pasar juga merespons sikap Trump terkait tenggat waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, di mana Trump menolak untuk memberikan jawaban secara spesifik.
Data Ekonomi China dan Indonesia Menunjukkan Variasi
Dari kawasan Asia, survei swasta mencatatkan bahwa PMI Manufaktur China menurun ke level terendah dalam empat bulan terakhir, yaitu di angka 50,9 pada Juli 2026. Penurunan ini terjadi dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di 51,7 pada Juni 2026. Angka ini juga meleset dari perkiraan pasar yang berada di 51,5. Sementara itu, Bank sentral China (PBOC) menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung perekonomian domestik. Komitmen tersebut mencakup penerapan kebijakan moneter yang akomodatif secara moderat, penggunaan instrumen kebijakan secara fleksibel, serta menjaga likuiditas yang cukup. PBOC juga membimbing lembaga keuangan untuk memastikan pertumbuhan kredit yang seimbang.
Dari dalam negeri, indeks manufaktur Indonesia mencatatkan kenaikan menjadi 50,2 pada Juli 2026, dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di 46,9 pada Juni 2026. Namun, pasar memiliki pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi masih melambat. Faktor-faktor yang berkontribusi antara lain adalah mahalnya bahan baku, penurunan volume ekspor, serta sikap hati-hati yang ditunjukkan oleh pelaku usaha. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen secara month to month (mtm). Secara year on year (yoy), inflasi tercatat sebesar 2,88 persen, yang berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,2 persen (yoy). Angka ini juga tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 1,5-3,5 persen. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS pada Juli 2026.
Performa Saham dan Sektor di Pasar Modal
Pada sesi pembukaan, IHSG bergerak ke teritori positif sebelum kemudian beralih ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tetap bertahan di zona merah hingga penutupan perdagangan saham secara keseluruhan. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor mencatatkan penguatan. Sektor yang memimpin adalah barang konsumen non primer dengan kenaikan sebesar 1,47 persen. Sektor kesehatan dan barang baku juga mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 1,46 persen dan 0,42 persen. Sebaliknya, tujuh sektor mengalami pelemahan. Sektor teknologi mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 1,42 persen, diikuti oleh sektor energi dan keuangan yang turun masing-masing sebesar 0,72 persen dan 0,63 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar antara lain JKON, MITI, TMPO, KDTN, dan TRUK. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah TCPI, NSSS, BUVA, INDY, dan OPMS. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.311.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,64 miliar lembar saham senilai Rp14,31 triliun. Sebanyak 300 saham mencatatkan kenaikan, 374 saham menurun, dan 289 saham tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini juga mencatatkan berbagai pergerakan. Indeks Nikkei melemah 1,02 persen ke level 63,704,00, indeks Shanghai melemah 0,59 persen ke 3.809,66, indeks Shenzhen melemah 0,96 persen ke 23.448,29, indeks Kospi melemah 0,48 persen ke 26.009,40, dan indeks Strait Times melemah 0,50 persen ke 5.600,53.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is IHSG ditutup melemah ikuti bursa Asia?
IHSG ditutup melemah ikuti bursa Asia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does IHSG ditutup melemah ikuti bursa Asia matter?
IHSG ditutup melemah ikuti bursa Asia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
