Pembahasan Penting: Indonesia dorong penguatan mata uang lokal dalam transaksi antarnegara

Indonesia Dorong Penguatan Mata Uang Lokal dalam Transaksi Antarnegara

Kuala Lumpur, Sabtu – Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Malaysia, serta perwakilan Bank Indonesia di Singapura, berupaya mendorong penggunaan mata uang domestik dalam operasi transaksi antar negara. Langkah ini bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi kedua negara, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global dan risiko ketergantungan pada mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat.

Para pihak mengungkapkan bahwa volatilitas kurs, biaya konversi yang kompleks, serta tekanan eksternal mendorong kebutuhan untuk mencari alternatif yang lebih stabil. Dalam konteks ini, transaksi langsung menggunakan rupiah dan ringgit dianggap sebagai solusi strategis yang semakin relevan dalam memperkuat hubungan ekonomi bilateral.

Sebagai upaya konkret, KJRI Johor Bahru mengadakan forum strategis berjudul “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” di Johor pada Rabu (1/4). Acara ini menampilkan berbagai manfaat praktis dari sistem LCT, termasuk pengurangan biaya konversi ganda melalui dolar AS dan efisiensi logistik.

Framework LCT: Potensi dan Tantangan

Kedua negara telah membangun kerangka kerja LCT sejak 2016, yang memungkinkan penyelesaian transaksi antar negara tanpa melibatkan mata uang internasional. Namun, implementasinya dianggap belum sepenuhnya optimal. Meski penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan meningkat, mayoritas transaksi masih bergantung pada dolar AS.

Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S Widiyanto, menyoroti pentingnya integrasi ekonomi dengan Malaysia, terutama melalui Negara Bagian Johor yang memiliki hubungan geografis, sosial, budaya, sejarah, dan ekonomi yang erat. Ia menyebutkan bahwa delapan dari 11 terminal feri internasional yang menghubungkan dua negara berada di Johor, menunjukkan mobilitas warga yang intensif.

Kebutuhan Transaksi LCT dalam Perekonomian

Dalam tahun 2025, pangsa transaksi Malaysia-Indonesia dalam mata uang lokal hanya mencapai 16,3 persen atau sekitar 10,6 miliar ringgit. Sigit mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan adopsi LCT dengan konsep LAJU, yang meliputi empat aspek:

1. L – Local Currency: Mengutamakan penggunaan rupiah dan ringgit sebagai alat pembayaran utama guna memperkuat kemandirian ekonomi. 2. A – Accelerate Adoption: Mempercepat penggunaan mata uang lokal oleh sektor perbankan dan bisnis, dengan dukungan infrastruktur pembayaran modern seperti QRIS dan DuitNow. 3. J – Joint Growth: Memposisikan LCT sebagai alat pengembangan ekonomi bersama, memberi manfaat seimbang bagi kedua negara dan wilayah sekitarnya. 4. U – Unlock Potential: Mengoptimalkan peluang besar di sektor perdagangan, pariwisata, pendidikan, serta mobilitas tenaga kerja profesional yang selama ini terhambat.

KJRI Johor Bahru menegaskan bahwa pendekatan LAJU tidak hanya teknis, tetapi merupakan strategi jangka panjang untuk meningkatkan keterhubungan keuangan dan memperdalam kerja sama regional. Diskusi dalam forum tersebut juga melibatkan pakar dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, serta KBRI Kuala Lumpur, yang membenarkan bahwa sistem LCT mampu mengurangi beban biaya bagi pelaku usaha, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *