New Policy: Jaga ketahanan pangan di daerah terdampak rob melalui padi Biosalin yang tahan air payau
Jaga Ketahanan Pangan di Wilayah Terdampak Rob dengan Budidaya Padi Biosalin
New Policy – Dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan rob, para petani di Sicepit, Kasepuhan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menguji coba penanaman padi Biosalin pada Selasa, 16 Juni 2026. Kebun percobaan ini berlokasi di lahan seluas sekitar 30 hektare, yang terkena dampak rob selama beberapa tahun terakhir. Program yang dijalankan oleh BRIN, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, PT Perusahaan Gas Negara, dan Pemerintah Kabupaten Batang bertujuan mengembangkan metode pertanian adaptif agar hasil panen tetap optimal meski kondisi lingkungan terganggu.
Pertanian Tahan Terhadap Air Payau
Minapadi Salin, inisiatif yang dikembangkan oleh sejumlah instansi pemerintah dan lembaga riset, menjadi solusi kreatif untuk mengatasi tantangan budidaya pangan di wilayah pesisir. Padi Biosalin, varietas unggul yang telah diadaptasi agar bisa tumbuh di tanah yang tergenang air payau, menjadi pusat perhatian. Varietas ini memiliki keunggulan unik karena mampu bertahan dalam kondisi salinitas tinggi, sehingga memungkinkan pertanian berkelanjutan di daerah yang rawan banjir laut.
Kehadiran padi Biosalin bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan harapan baru bagi petani yang sebelumnya mengalami penurunan hasil akibat genangan air asin. Kebun percobaan ini berfungsi sebagai contoh nyata keberhasilan pertanian di bawah tekanan lingkungan ekstrem. Dengan tanaman yang tahan terhadap kondisi air payau, masyarakat dapat memanfaatkan lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif.
Kolaborasi untuk Masa Depan Pertanian
Kolaborasi antara BRIN, Kemenko Pangan, PT Perusahaan Gas Negara, serta Pemerintah Kabupaten Batang membuktikan bahwa inovasi dapat menjadi kunci untuk mengatasi krisis pangan. Setiap pihak berperan aktif dalam mengembangkan program ini. BRIN bertugas sebagai penyedia teknologi dan riset, sementara Kemenko Pangan memberikan dukungan kebijakan dan strategi nasional. PT Perusahaan Gas Negara, sebagai perusahaan energi, membantu dalam proses pengelolaan sumber daya alam, termasuk penggunaan pupuk dan nutrisi berbasis gas alam yang ramah lingkungan. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Batang fokus pada koordinasi dengan petani lokal dan pengembangan infrastruktur pendukung.
Program ini juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Petani yang terlibat dalam uji coba mendapatkan pelatihan teknis dan bantuan modal, sehingga mereka mampu mengelola kebun secara mandiri. Dengan demikian, keberlanjutan pertanian di daerah rawan rob tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat. Kebun percontohan ini diharapkan menjadi contoh yang dapat dikembangkan lebih luas di wilayah lain dengan kondisi serupa.
Upaya Mendukung Swasembada Pangan
Minapadi Salin dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi pangan secara nasional. Dalam kondisi normal, lahan terdampak rob sulit dimanfaatkan untuk pertanian karena kandungan garam yang tinggi. Namun, padi Biosalin mampu bertahan dalam lingkungan tersebut, sehingga mengurangi ketergantungan pada lahan dataran tinggi. Dengan luas kebun percobaan 30 hektare, keberhasilan program ini bisa menjadi dasar untuk mengembangkan area lebih besar.
Dalam kesempatan itu, para pengambil kebijakan dan petani menghadiri acara peluncuran kebun percontohan. Deputi Bidang Sumberdaya Maritim Kemenko Pangan, Dandy Satria Iswara, didampingi oleh Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, serta Tenaga Ahli Utama Bidang Kemitraan Daerah dan Masyarakat Pesisir dari Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, M. Khadik, juga hadir. Bupati Batang, Faiz Kurniawan, menunjukkan kepeduliannya terhadap inisiatif ini, dengan berpartisipasi langsung dalam mengobservasi kondisi kebun.
“Kebun Biosalin ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lingkungan tidak harus menjadi penghalang bagi pertanian yang berkelanjutan. Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi yang baik, kita bisa menciptakan solusi yang mengubah tantangan menjadi peluang,” ujar Dandy Satria Iswara.
Program Minapadi Salin juga diharapkan meningkatkan ketahanan pangan di tengah tekanan perubahan iklim. Rob yang sering terjadi di pesisir Jawa Tengah mengancam produksi pertanian, terutama di daerah dengan ketersediaan air yang tidak teratur. Padi Biosalin dipercaya bisa menjadi solusi karena kemampuannya bertahan dalam kondisi lingkungan yang ekstrem, termasuk fluktuasi tingkat salinitas air.
Pembudidayaan padi Biosalin bukan hanya berfokus pada penggunaan air payau, tetapi juga mengintegrasikan teknologi pertanian modern. Misalnya, penanaman dilakukan dengan teknik irigasi yang tepat, serta penggunaan pupuk organik dan bioteknologi untuk meningkatkan kualitas tanah. Keberhasilan program ini akan menjadi dasar bagi program serupa di wilayah lain, seperti di pesisir Sumatera atau Kalimantan, yang juga menghadapi masalah serupa.
Konteks Lingkungan dan Kebutuhan Masyarakat
Kondisi lingkungan di Batang memang menuntut adaptasi yang cepat. Rob, yang sering terjadi saat musim hujan, menyebabkan genangan air payau yang merusak tanaman pangan konvensional. Namun, dengan padi Biosalin, masyarakat bisa memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif. Program ini juga membuka peluang ekonomi bagi petani, karena hasil panen yang stabil bisa meningkatkan pendapatan mereka.
Keberhasilan program ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam mencapai swasembada pangan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia harus mampu menghadapi tantangan lingkungan yang beragam. Biosalin tidak hanya menjadi bagian dari strategi pertanian adaptif, tetapi juga melambangkan keinginan untuk inovasi dalam menghadapi krisis global seperti perubahan iklim. Dengan menggabungkan kekuatan riset dan partisipasi masyarakat, program ini memberikan pelajaran berharga untuk pertanian di masa depan.
Para petani yang menguji coba padi Biosalin menyatakan antusiasme tinggi. Mereka melihat potensi besar dari varietas ini, terutama dalam kondisi lahan yang tidak bisa dijadikan pertanian konvensional. “Padi ini sangat cocok untuk wilayah kami. Bahkan ketika air payau menggenang, tanaman tetap tumbuh baik,” ujar seorang petani lokal yang tidak ingin disebutkan namanya.
Program Minapadi Salin juga dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang. Tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga melatih masyarakat dalam teknik pertanian yang ramah lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan bahan kimia berlebih, program ini mendukung keberlanjutan ekosistem pertanian. Pemerintah dan lembaga riset terus berkomitmen untuk memperluas cakupan program ini ke wilayah lain, sehingga mampu menciptakan kepastian pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.