Api Melahap 206 Hektare Lahan Gambut di Kolaka Timur, Tim Manggala Agni Bergerak di Lapangan
Pemandanganindah.com – Asap tebal masih membubung dari hamparan gambut di Kecamatan Lalolae ketika tim pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tingkat nasional turun ke lokasi pada Senin, 31 Agustus 2026. Personel Manggala Agni, satuan tugas pemadaman yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bekerja langsung di tengah medan basah namun sulit dijangkau untuk menghentikan laju api yang telah berkobar selama hampir sebulan penuh.
Skala kebakaran yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kolaka Timur mencapai 206 hektare. Angka tersebut bukan sekadar statistik administratif; ia mewakili area yang setara dengan sekitar 288 lapangan sepak bola, tersebar di 11 desa dan melintasi 5 kecamatan. Titik awal kebakaran teridentifikasi sejak 5 Agustus 2026, artinya api telah menyala selama 26 hari sebelum upaya pemadaman besar-besaran ini diluncurkan.
Siapa Manggala Agni dan Mengapa Kehadirannya Kritis
Manggala Agni merupakan formasi pemadam kebakaran hutan dan lahan yang direkrut secara khusus oleh pemerintah pusat. Anggota-anggotanya menjalani pelatihan intensif selama beberapa bulan, mencakup teknik pemadaman langsung, pembuatan sekat bakar, penggunaan drone pemantau, serta penanganan kebakaran di lahan gambut yang secara teknis jauh lebih rumit daripada kebakaran hutan kering biasa. Kehadiran mereka di Kolaka Timur menandakan bahwa situasi di lapangan telah melewati ambang kemampuan penanganan oleh petugas daerah semata.
Di Sulawesi Tenggara, tim Manggala Agni biasanya dikerahkan ketika kebakaran meluas ke area gambut atau ketika asap mulai berdampak pada kualitas udara di kawasan permukiman dan jalur transportasi. Penempatan mereka di Kecamatan Lalolae pada akhir Agustus menunjukkan bahwa intensitas api dan risiko meluasnya ke wilayah tetangga telah mencapai tingkat yang menuntut intervensi nasional.
Mengapa Lahan Gambut Menjadi Musuh Terberat Pemadam
Kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik yang membedakannya secara fundamental dari kebakaran hutan pada tanah mineral. Gambut tersimpan dalam kondisi jenuh air selama bertahun-tahun; ketika permukaan mengering akibat musim kemarau atau pembakaran sengaja, api dapat menjalar ke kedalaman hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah. Akibatnya, api yang tampak padam di permukaan sesungguhnya masih menyala di lapisan bawah dan dapat kembali berkobar dalam hitungan jam.
Di Kolaka Timur, formasi gambut merupakan bagian dari ekosistem dataran rendah pesisir yang secara alami menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika terbakar, selain menghasilkan asap pekat yang mengandung partikel halus dan gas beracun, kebakaran gambut juga melepaskan karbon dioksida yang tersimpan selama ribuan tahun. Bagi masyarakat setempat, dampak langsungnya berupa penurunan kualitas udara, gangguan aktivitas pertanian dan perikanan, serta risiko kesehatan terutama bagi anak-anak dan lansia.
Dimensi Spasial: 11 Desa, 5 Kecamatan
Pencatatan BPBD yang menyebutkan sebaran kebakaran di 11 desa dan 5 kecamatan mengindikasikan bahwa api tidak terkonsentrasi pada satu titik, melainkan membentuk beberapa klaster terpisah. Pola sebaran seperti ini mempersulit upaya pemadaman karena setiap klaster memerlukan pendekatan taktis yang berbeda, sementara sumber daya personel dan peralatan harus dibagi-bagi. Jarak antar-klaster yang cukup jauh juga memperlambat mobilitas tim di lapangan, terutama jika akses jalan belum memadai.
Bagi warga desa-desa yang terdampak, kebakaran gambut berarti kehilangan produktivitas lahan untuk sementara waktu, potensi kerugian pada tanaman pangan atau perkebunan kecil, serta ketidakpastian ekonomi selama proses pemulihan ekosistem berlangsung. Pemulihan lahan gambut yang terbakar membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung kedalaman kerusakan dan ketersediaan air untuk mengembalikan kondisi jenuh gambut.
Konteks Musiman dan Tantangan Berulang
Periode Agustus hingga Oktober merupakan puncak musim kering di sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara. Curah hujan yang menurun drastis membuat vegetasi permukaan dan lapisan gambut atas menjadi sangat mudah terbakar. Dalam beberapa dekade terakhir, pola kebakaran lahan di kawasan ini cenderung berulang setiap tahun dengan skala yang berfluktuasi, dipengaruhi oleh kombinasi faktor iklim, aktivitas pembukaan lahan, dan kondisi kelembaban tanah.
Upaya pencegahan jangka panjang mencakup pengelolaan air gambut melalui kanal dan sekat bakar, penegakan aturan terhadap pembakaran lahan tanpa izin, serta penguatan kapasitas pemadaman di tingkat kecamatan dan desa agar respons awal dapat dilakukan sebelum api meluas ke skala yang memerlukan intervensi nasional.
Implikasi dan Langkah Selanjutnya
Dengan 206 hektare gambut yang telah terbakar dan api yang masih aktif di beberapa titik, prioritas operasional saat ini adalah mencegah meluasnya kebakaran ke area gambut yang belum tersentuh serta memastikan tidak ada titik api tersisa di lapisan bawah. Tim Manggala Agni bekerja berkoordinasi dengan BPBD Kolaka Timur, pemerintah kecamatan, dan masyarakat setempat dalam operasi pemadaman yang berlangsung selama beberapa hari hingga seluruh titik api dinyatakan padam total.
Bagi warga Kolaka Timur, pesan praktis dari otoritas setempat adalah mengurangi aktivitas pembakaran di sekitar lahan, memantau kondisi asap di lingkungan permukiman, dan melaporkan titik api baru sedini mungkin agar respons dapat dilakukan sebelum kebakaran mencapai skala yang sulit dikendalikan. Setiap jam keterlambatan dalam pelaporan berarti tambahan hektare gambut yang terbakar dan tambahan beban bagi tim pemadam yang bekerja di medan berat.
Pemadaman kebakaran gambut bukan sekadar membasahi permukaan tanah. Ia menuntut pemahaman tentang hidrologi bawah tanah, siklus kelembaban, dan perilaku api di lingkungan yang menyimpan energi panas di kedalaman. Tanpa pendekatan yang tepat, api akan kembali dalam waktu singkat.
Operasi di Kecamatan Lalolae pada akhir Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa pengelolaan lahan gambut di Sulawesi Tenggara masih menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Setiap musim kering membawa risiko berulang, dan setiap kebakaran yang mencapai skala ratusan hektare menguras sumber daya publik serta mengancam kesehatan masyarakat dalam jangka pendek. Menutup siklus kebakaran gambut di Kolaka Timur memerlukan komitmen lintas sektor yang konsisten, bukan sekadar respons reaktif ketika api sudah berkobar.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Upaya pemadaman Karhutla di Kolaka Timur?
Upaya pemadaman Karhutla di Kolaka Timur is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Upaya pemadaman Karhutla di Kolaka Timur matter?
Upaya pemadaman Karhutla di Kolaka Timur matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

