BPBD : 2.376 hektare lahan di Sultra terbakar selama Januari-Juli 2026

3 hours ago  ·  4 min read
By Sarah Jackson - pemandanganindah.com

Api Musim Kemarau Melahap Ribuan Hektare Lahan di Sulawesi Tenggara, Bombana Jadi Episenter

Pemandanganindah.com – BPBD – Setiap tahun, ketika musim kemarau menggigit wilayah Indonesia timur, ancaman kebakaran lahan kembali menghantui masyarakat pesisir dan pegunungan. Tahun 2026 tidak menjadi pengecualian. Di Sulawesi Tenggara, yang dikenal dengan julukan Bumi Anoa, kobaran api telah menghanguskan total 2.376 hektare kawasan selama tujuh bulan pertama tahun berjalan. Angka itu bukan sekadar statistik di atas kertas; ia berarti hilangnya tutupan vegetasi, pelepasan karbon ke atmosfer, serta kabut asap yang mengganggu kesehatan warga di radius puluhan kilometer.

Skala Kerugian yang Tercatat

Data yang dikompilasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa akumulasi kerusakan tersebut berasal dari pemantauan 224 titik panas atau hotspot yang tersebar melintasi sejumlah kabupaten dan kota di provinsi kepulauan itu. Kepala Pelaksana BPBD Sultra, La Ode Saifuddin, menjelaskan bahwa lonjakan paling tajam terjadi pada bulan Juli 2026. Pada bulan tersebut saja, luas lahan yang terbakar menembus 1.586,59 hektare — setara dengan 66,8 persen dari keseluruhan kerusakan sepanjang Januari hingga Juli. Pemicu utamanya adalah munculnya 105 hotspot baru yang terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Bombana.

“Puncak karhutla terjadi pada Juli 2026 dengan luas lahan terbakar mencapai 1.586,59 hektare atau 66,8 persen dari total luasan sejak awal tahun, yang dipicu kemunculan 105 titik panas didominasi wilayah Bombana,” ujar Saifuddin saat dihubungi di Kendari, Jumat.

Peta Kerusakan per Kabupaten

Jika ditelaah secara geografis, Kabupaten Bombana menempati posisi paling dominan dalam daftar kerusakan. Luas area yang hangus di daerah itu mencapai 1.913,64 hektare, jauh melampaui kabupaten lain. Di urutan berikutnya, Kabupaten Kolaka mencatat 224,74 hektare, disusul Konawe Selatan dengan 124,93 hektare. Muna Barat menyusul di angka 84,15 hektare, Kolaka Timur 59,84 hektare, Konawe 53,09 hektare, Buton Selatan 27,65 hektare, Konawe Utara 26,04 hektare, Wakatobi 20,33 hektare, dan Buton Tengah 17,12 hektare. Distribusi angka ini memperlihatkan bahwa kebakaran tidak merata; beberapa wilayah dengan topografi datar dan tutupan lahan gambut atau semak kering menjadi sasaran empas api.

Konteks lokal memperjelaskan mengapa Bombana begitu rentan. Kabupaten yang terletak di pesisir barat Sulawesi Tenggara ini memiliki bentang alam yang pada musim kemarau mengalami kekeringan ekstrem. Lahan-lahan yang sebelumnya digunakan untuk perkebunan rakyat atau dibiarkan terbuka menjadi bahan bakar alami ketika kelembapan tanah turun drastis. Tanpa pengelolaan lahan yang memadai, satu percikan kecil dapat berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan dalam hitungan jam.

Respons Pemerintah dan Distribusi Peralatan

Menghadapi eskalasi yang terjadi di Bombana, Pemprov Sultra mengambil langkah cepat dengan memprioritaskan pengiriman armada mobil tangki pengangkut air serta mesin pompa jinjing jenis alkon. Pemilihan alkon bukan tanpa alasan: mesin tersebut relatif ringan, dapat dioperasikan oleh warga setempat, dan mampu menjangkau titik api yang berada di medan sulit di mana kendaraan berat tidak bisa masuk.

“Guna meredam luasan yang meningkat pesat di Bombana, Pemprov Sultra memprioritaskan penyaluran armada mobil tangki suplai air serta mesin pompa (alkon) jinjing yang dapat digerakkan secara praktis oleh warga lokal untuk menjangkau titik api yang sulit diakses,” kata Saifuddin.

Dukungan tidak hanya datang dari pemerintah provinsi. Balai Wilayah Sungai (BWS) turut memfasilitasi penyaluran 27 unit mesin alkon ke berbagai wilayah terdampak. Rinciannya: Kolaka Timur menerima 10 unit, Muna Barat lima unit, Kolaka tiga unit, Konawe dua unit, Baubau dua unit, dan Konawe Selatan satu unit. Empat unit lainnya disiagakan di Workshop Kendari sebagai cadangan operasional.

Di sisi lain, Pemprov Sultra sendiri mendistribusikan 22 unit alkon tambahan yang dialokasikan ke lima wilayah berisiko tinggi. Konawe Selatan dan Bombana masing-masing memperoleh lima unit, Kota Kendari empat unit, sementara Kolaka dan Kolaka Timur masing-masing mendapat dua unit. Total peralatan yang kini beredar di lapangan mencapai 49 unit alkon, sebuah kapasitas yang diharapkan mampu menekan laju kebakaran sebelum musim kemarau mencapai puncaknya pada Agustus dan September.

Implikasi dan Langkah ke Depan

Angka 2.376 hektare bukan终点 yang statis; ia merupakan akumulasi yang masih berpotensi bertambah selama musim kering belum berakhir. Bagi masyarakat pesisir Sultra, kebakaran lahan membawa konsekuensi berlapis: kualitas udara merosot, sumber air bersih terganggu, dan aktivitas perikanan serta pertanian rakyat terganggu oleh kabut. Pemerintah daerah kini menghadapi tekanan untuk tidak hanya memadamkan api yang sudah berkobar, tetapi juga mencegah percikan berikutnya melalui patroli rutin, sosialisasi kepada petani, serta penegakan aturan terhadap pembakaran lahan tanpa izin. Dengan 224 hotspot yang telah terdeteksi dan ratusan hektare yang masih berisiko, musim kemarau 2026 di Sulawesi Tenggara menuntut kesiapsiagaan yang berkelanjutan hingga akhir musim.

Frequently Asked Questions

What is BPBD?

BPBD is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BPBD matter?

BPBD matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category