AS dukung reaktivasi pipa minyak Irak-Suriah

11 hours ago  ·  3 min read
By Christopher Brown
khrisna-edit-1784391814-5705446f37

Pipa Minyak Bersejarah Irak-Suriah Kembali Hidup dengan Dukungan Konsorsium Internasional

AS dukung reaktivasi pipa minyak Irak – Jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas yang telah beroperasi sejak tahun 1952 kini memasuki babak baru dalam sejarahnya yang panjang. Infrastruktur vital ini, yang menghubungkan wilayah Irak dengan Suriah, akan mengalami rehabilitasi menyeluruh berkat dukungan dari konsorsium internasional yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat. Langkah ini mendapat sambutan positif dari Departemen Luar Negeri Washington pada hari Jumat, tanggal 17 Agustus.

Pipa bersejarah tersebut pernah mengalami berbagai gangguan operasional sepanjang dekade-dekade terakhir. Pada tahun 1956, aktivitas pengangkutan minyak sempat terhenti akibat sabotase yang terjadi selama Krisis Suez atau yang juga dikenal sebagai Perang Arab-Israel Kedua. Kemudian, antara tahun 1982 hingga 2000, Irak memutuskan untuk menutup jalur pipa secara sepihak sebagai bentuk respons terhadap dukungan yang diberikan Suriah kepada Iran selama berlangsungnya perang Irak-Iran. Fase terakhir penghentian operasional terjadi pada tahun 2003 ketika jalur pipa ini hancur total akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dalam rangka invasi ke Irak.

Peran Konsorsium dalam Restorasi Pipa

Menurut pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS, Washington menyambut baik niat kedua pemerintah, yaitu Pemerintah Republik Irak dan Pemerintah Republik Arab Suriah, untuk mendorong proses rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak mentah yang menghubungkan kedua negara tersebut.

“Amerika Serikat menyambut baik niat Pemerintah Republik Irak dan Pemerintah Republik Arab Suriah untuk mendorong rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak mentah Irak-Suriah,” demikian bunyi pernyataan resmi dari Departemen Luar Negeri AS.

Departemen Luar Negeri AS juga menekankan bahwa keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan Amerika akan sangat membantu dalam menangani aspek-aspek teknis maupun finansial dari proyek restorasi ini. Syrian Petroleum Company, perusahaan minyak milik negara Suriah, telah menandatangani nota kesepahaman dengan konsorsium internasional yang terdiri dari Chevron dan Capital TI dari Amerika Serikat, serta UCC Holding dari Qatar.

Konsorsium tersebut akan bertanggung jawab untuk menyusun studi teknis dan finansial yang komprehensif guna memastikan keberhasilan proyek restorasi jalur pipa bersejarah ini. Setelah melalui proses restorasi, jalur pipa tersebut diperkirakan akan memiliki kapasitas distribusi awal yang mencapai 2 juta barel minyak mentah per hari atau 2 juta barrel per day (bpd).

Konteks Geopolitik Regional

Kolaborasi ini terjalin di tengah upaya Pemerintah Amerika Serikat untuk melemahkan pengaruh Iran atas rantai pasok energi global. Situasi ini diperparah oleh konflik yang sedang berlangsung di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia.

Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman pada pertengahan Juni 2026 yang membahas upaya untuk mengakhiri konflik antara kedua negara. Konflik tersebut bermula dari serangan AS ke Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Namun, sejak tanggal 8 Juli, militer AS kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM mengklaim bahwa rangkaian serangan tersebut merupakan bentuk balasan atas intervensi Iran terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Sebagai respons, Iran menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Sepanjang fase pertama dari konflik tersebut, harga energi global melonjak tajam akibat gangguan pelayaran yang dialami kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.

“Komitmen kedua negara (Irak dan Suriah) untuk bekerja sama merevitalisasi dan mengoperasikan pipa minyak ini, menciptakan kerangka hukum, serta berkolaborasi secara konstruktif dengan konsorsium tersebut akan meningkatkan keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan,” tambah pernyataan tersebut.

Dukungan AS terhadap reaktivasi pipa minyak Irak-Suriah ini tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga strategis dalam konteks persaingan regional. Dengan memperkuat infrastruktur energi yang menghubungkan Irak dan Suriah, Washington berharap dapat mengurangi ketergantungan kawasan terhadap jalur pelayaran yang sering kali terancam oleh intervensi Iran. Langkah ini juga diharapkan dapat menciptakan stabilitas jangka panjang bagi kawasan Timur Tengah yang telah lama dilanda konflik dan ketidakpastian politik.

MORE FROM THIS CATEGORY