Retno: Krisis air semakin buruk akibat perubahan iklim

14 hours ago  ·  3 min read
By Karen Martinez - pemandanganindah.com
Net-Zero-Summit-2026-Utusan-PBB-isu-Air-Retno-Marsudi-01082026

Retno Marsudi: Perubahan Iklim Memperparah Krisis Air Global

Pemandanganindah.com – Retno – Jakarta – Dalam forum Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada hari Sabtu, Retno Marsudi menyampaikan pesan penting mengenai hubungan erat antara perubahan iklim dengan krisis air yang semakin mendesak. Sebagai Utusan Khusus Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Isu Air, ia menekankan bahwa fenomena pemanasan global berfungsi sebagai pengganda ancaman yang memperburuk berbagai tantangan multidimensi dalam pengelolaan sumber daya air.

“Perubahan iklim adalah pengganda ancaman yang dapat memperburuk semua tantangan yang dihadapi dalam isu air,” jelas Retno Marsudi dalam sambutannya.

Menurutnya, pendekatan terhadap masalah air tidak boleh bersifat teknis semata atau hanya sektoral. Air harus dipandang sebagai persoalan politik yang kompleks sekaligus dimensi pembangunan yang holistik dan menyeluruh. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan akselerasi implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor enam yang berfokus pada penyediaan air bersih dan sanitasi layak bagi seluruh lapisan masyarakat.

Target Ambisius Menuju 2030

Retno menjelaskan bahwa pencapaian target SDGs pada tahun 2030 memerlukan lonjakan signifikan dalam berbagai aspek pengelolaan air. Indonesia harus meningkatkan capaian saat ini sebanyak delapan kali lipat untuk air minum yang aman, enam kali lipat untuk sanitasi yang layak, serta dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar. Tanpa upaya tersebut, realisasi target SDG nomor enam diperkirakan baru terwujud pada tahun 2049.

“Jika kita tidak lakukan ini, maka target-target SDG nomor enam baru akan tercapai pada 2049,” tegasnya.

Selain akselerasi, kolaborasi menjadi kunci utama. Retno menegaskan bahwa pencapaian SDGs memerlukan keterlibatan aktif dari pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya. Sektor swasta memiliki peran strategis dalam memperluas akses layanan air, namun saat ini kontribusi mereka masih sangat minim. Sekitar 86 persen pembiayaan sektor air dan sanitasi bersumber dari anggaran publik, sementara sektor swasta hanya menyumbang 2 persen.

“Sebagian besar pembiayaan yang ada untuk air dan sanitasi berasal dari anggaran publik, 86 persen dari anggaran publik, sektor swasta hanya 2 persen,” papar Retno, menambahkan bahwa kondisi itu menunjukkan perlunya peningkatan keterlibatan swasta dalam pembiayaan.

Skala Krisis yang Semakin Luas

Dalam INZS 2026, Retno memaparkan data mencengangkan mengenai kondisi air global. Lebih dari 2,2 miliar orang atau setara satu dari empat penduduk dunia belum menikmati akses air minum yang aman. Sementara itu, 3,5 miliar orang atau empat dari sepuluh orang tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai. Krisis ini diperburuk oleh fakta bahwa sekitar 4 miliar orang atau separuh populasi dunia mengalami kelangkaan air, dengan ketersediaan air tawar terbarukan per kapita menurun sekitar 7 persen hanya dalam satu dekade terakhir.

Proyeksi ke depan menunjukkan tantangan yang semakin berat. Populasi dunia diprediksi mencapai 9,7 miliar orang pada tahun 2050, yang memerlukan tambahan pangan sebesar 50 persen dan tambahan air lebih dari 25 persen untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Retno menyoroti bahwa 72 persen tambahan air segar dialokasikan untuk sektor agrikultur, sehingga ketahanan pangan, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya air yang semakin terbatas.

Ekspansi kecerdasan buatan dan transformasi digital juga menambah beban tekanan. Proyeksi menunjukkan kebutuhan tambahan air hingga 129 persen di berbagai wilayah, sementara 40 persen pusat data dunia berlokasi di kawasan dengan tingkat tekanan air yang tinggi. Prinsip kolaborasi harus terus diterapkan dalam aksi iklim untuk mencapai target emisi nol bersih, mengingat tantangan air dan perubahan iklim memerlukan kerja sama seluruh pihak secara sinergis.

Frequently Asked Questions

What is Retno?

Retno is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Retno matter?

Retno matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

MORE FROM THIS CATEGORY