Program Terbaru: Selat Hormuz Ditutup Iran, Negara-Negara Kena Dampak Paling Berat

Selat Hormuz Ditutup Iran, Negara-Negara Kena Dampak Paling Berat

Jakarta, CNBC Indonesia – Tindakan Iran menutup Selat Hormuz menciptakan getaran signifikan di pasar energi global. Wilayah Asia diperkirakan akan mengalami dampak terbesar, terutama karena ketergantungan tinggi pada impor bahan bakar. Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengumumkan Senin bahwa jalur air kritis ini telah ditutup, menyatakan bahwa kapal yang melintasi akan menjadi sasaran.

Jalur Vital Energi Global

Strait of Hormuz berperan sebagai akses utama perdagangan minyak dunia, menghubungkan Oman dan Iran. Menurut Kpler, volume sekitar 13 juta barel per hari melewati area tersebut pada 2025, yang merupakan 31% dari total aliran minyak mentah via laut. Selat ini juga berkontribusi pada distribusi gas alam cair, dengan 20% ekspor LNG global dari Teluk berisiko, khususnya dari Qatar dan UEA.

Dampak pada Pasar Energi Asia

“Di Asia, negara seperti Thailand, India, Korea, dan Filipina sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak, karena ketergantungan impor mereka yang tinggi,” tulis Nomura dalam catatan, dikutip CNBC International, Selasa (3/3/2026).

Blokade yang berlangsung terus-menerus bisa memicu lonjakan harga minyak lebih lanjut. Beberapa analis memperkirakan nilai jual minyak akan melebihi US$100 per barel. Contohnya, patokan Brent sempat naik 2,6% menjadi sekitar US$80 per barel, meningkat hampir 10% sejak konflik pecah.

LNG: Negara-Negara yang Rentan

Menurut Kpler, pasokan LNG ke Asia Selatan akan mengalami gangguan terparah, terutama di Pakistan dan Bangladesh. Qatar dan Uni Emirat Arab masing-masing menyumbang 99% dan 72% impor LNG Pakistan serta Bangladesh. India juga bergantung pada 60% LNG dari Timur Tengah. Di antara negara-negara tersebut, Pakistan dan Bangladesh paling rentan karena fasilitas penyimpanan dan pasokan mereka terbatas.

“Pakistan dan Bangladesh memiliki fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas, yang berarti gangguan kemungkinan akan memicu penurunan permintaan sektor energi lebih cepat daripada penawaran spot yang agresif,” jelas Katayama dari Kpler.

Pengaruh terhadap China

Blokade Selat Hormuz akan menguji keamanan energi China, meski negara ini tetap memiliki akses alternatif. Menurut Kpler, China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan membeli lebih dari 80% produksi Iran. Untuk LNG, sekitar 30% impor negara ini berasal dari Qatar dan UEA, dengan 40% dari total impor minyak melewati Selat Hormuz.

“China terpapar secara material tetapi lebih fleksibel,” kata Katayama.

Persediaan LNG China mencapai 7,6 juta ton per akhir Februari, memberikan kestabilan jangka pendek. Namun, jika gangguan terus berlanjut, negara ini harus bersaing untuk kargo Atlantik, yang bisa mengurangi pasokan di cekungan Pasifik.

Komentar Tambahan

Rystad Energy menyatakan bahwa Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak mentah beberapa minggu terakhir, dengan cadangan strategis di negara-negara konsumen utama seperti China sebagai bantalan sementara. Meski China merupakan importir energi bersih utama, UBP menilai negara tersebut belum tentu yang paling rentan terhadap guncangan pasokan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *