Key Discussion: BKPRMI apresiasi dialog langsung pejabat negara-mahasiswa di kampus
BKPRMI Apresiasi Dialog Langsung Pejabat Negara-Mahasiswa di Kampus
Key Discussion – Jakarta – Terkait upaya pemerintah era Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan pejabat negara ke lingkungan akademik, Dewan Pengurus Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPP BKPRMI) mengungkapkan dukungan dan harapan besar. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum BKPRMI, Sedek Rahman Bahta, dalam pernyataan resmi di Jakarta, Rabu. “Langkah ini menunjukkan pergeseran dalam praktik ketatanegaraan kita,” tuturnya. “Ketika muncul kritik dari publik, pejabat tidak hanya merespons melalui media, tetapi juga secara langsung berdialog dengan mahasiswa di kampus, yang menjadi langkah konkret dalam transparansi dan partisipasi demokratis.”
Keterbukaan sebagai Bentuk Kemajuan Demokrasi
Bahta menyoroti bahwa pertemuan langsung antara pejabat dan mahasiswa bukan sekadar pertunjukan, tetapi merupakan bentuk komitmen untuk membangun wawasan bersama. “Dialog berbasis data dan fakta menjadi peluang unik yang seharusnya dimanfaatkan oleh akademisi untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah,” katanya. Menurutnya, tradisi baru ini mencerminkan keterbukaan pemerintah dan kemajuan dalam implementasi demokrasi Indonesia, yang selama ini dianggap sebagai ruang untuk pendapat yang beragam.
“Pertukaran pikiran di kampus harus dihargai, karena merupakan pondasi bagi kebijakan yang lebih akurat dan adaptif. Jika ruang seperti ini justru dihancurkan dengan tindakan persekusi atau penolakan tanpa pertimbangan, maka kita kehilangan kesempatan membangun kesadaran kolektif,” ujar Bahta.
DPP BKPRMI juga mengingatkan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan yang sehat, bukan alat untuk menghakimi pihak lain. “Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik, tetapi keberatan mereka harus didasari bukti kuat, bukan sekadar emosi atau penolakan satu pihak,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa dialog langsung antara pejabat dan akademisi adalah jalan untuk menghindari kesalahpahaman dan meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat.
Peristiwa di UGM: Tantangan dalam Komunikasi
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menolak kehadiran tiga pejabat negara dalam diskusi di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (15/6) lalu. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, memberikan tanggapan terhadap kejadian tersebut. “Demokrasi hanya bisa berjalan jika ada dialog. Tanpa itu, hanya tuntutan satu arah, maka itu bukan demokrasi sejati,” kata Qodari dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.
“Kita perlu menghargai perbedaan pandangan, karena dialog adalah jembatan untuk mencapai kesepakatan. Jika keberatan muncul tanpa komunikasi, maka kebijakan pemerintah bisa dianggap sebagai tindakan satu pihak,” lanjut Qodari.
Diskusi yang dihadiri oleh Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono awalnya berjalan lancar. Namun, di tengah sesi, sekelompok mahasiswa memasuki panggung dan membentangkan spanduk penolakan. Tindakan ini menyebabkan suasana menjadi tegang, hingga akhirnya diskusi terpaksa dihentikan.
Harapan BKPRMI untuk Penguatan Partisipasi
Menurut DPP BKPRMI, momen seperti ini menjadi contoh bagus bagaimana pemerintah mencoba mengakomodasi suara masyarakat, terutama generasi muda. “Pola ini diyakini mampu membangun demokrasi Indonesia yang lebih dewasa, partisipatif, dan berorientasi pada solusi melalui musyawarah,” ujar Bahta. Ia menekankan bahwa keterlibatan langsung mahasiswa dalam proses kebijakan adalah langkah penting untuk memastikan keputusan pemerintah lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus, menurut Bahta, harus tetap dijaga sebagai ruang akademik yang mandiri dan sehat. “Mahasiswa tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian aktif dari pembentukan kebijakan. Mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan kritik yang konstruktif, bukan sekadar penolakan tanpa dialog,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahwa pejabat negara perlu bersikap terbuka terhadap masukan mahasiswa, meskipun ada perbedaan pandangan.
Peran Kampus dalam Demokrasi
Di tengah dinamika politik, peran kampus sebagai pusat pengambilan keputusan sangat penting. DPP BKPRMI berharap langkah pemerintah dalam menjaga komunikasi langsung dengan mahasiswa dapat terus berlanjut. “Ini bukan sekadar kejadian spesifik, tetapi kebijakan jangka panjang untuk menciptakan lingkungan demokratis yang inklusif,” kata Bahta. Menurutnya, keberhasilan sebuah negara berdemokrasi bisa diukur dari sejauh mana ruang dialog dapat dijaga, baik oleh pihak yang mengkritik maupun yang diterima kritik tersebut.
Sebagai bentuk respons, Qodari menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk terus berdialog dengan masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam rangka mengoptimalkan program-program nasional. “Dialog adalah kunci untuk memperbaiki kebijakan, karena masyarakat akan lebih mudah memahami tujuan dan manfaatnya,” ujarnya. Ia berharap tindakan seperti di UGM bisa menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang menganggap kampus sebagai arena untuk menyalahkan.
Keberlanjutan Dialog sebagai Arah Keberhasilan
Menurut BKPRMI, dialog langsung antara pejabat negara dan mahasiswa adalah harapan besar dalam mem