Upacara Hari Juang Polri 2026 di Surabaya: Khofifah Ingatkan Warisan Pengabdian Moehammad Jasin
Pemandanganindah.com – Monumen Perjuangan Polri di Surabaya menjadi panggung peringatan tahunan yang sarat makna pada Jumat lalu, ketika Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memimpin Upacara Peringatan Hari Juang Polri 2026. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir mendampingi jalannya upacara yang mengusung semangat “Dengan Semangat Hari Juang, Polri untuk Masyarakat Menuju Indonesia Maju.” Acara ini bukan sekadar ritual seremonial; ia menandai ulang tahun perjuangan kepolisian yang berakar pada peristiwa bersejarah di kota pahlawan tersebut.
Dalam pidatonya, Khofifah menegaskan bahwa peringatan Hari Juang Polri merupakan momentum kolektif untuk mengenang jasa para pendahulu kepolisian yang menjaga kedaulatan negara sekaligus melindungi dan melayani masyarakat. Ia menilai pesan tersebut selaras dengan tema resmi peringatan tahun ini, yakni “Dengan Semangat Hari Juang Polri, Kita Tingkatkan Pengabdian untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara.”
“Semangat Hari Juang Polri adalah semangat untuk terus mengabdi. Perjuangan para pendahulu Polri mengajarkan bahwa tugas kepolisian merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.”
Akar Sejarah: Moehammad Jasin dan Lahirnya Identitas Kepolisian RI
Di balik setiap upacara peringatan, terdapat nama yang tidak bisa dilepaskan dari narasi kepolisian Indonesia: Moehammad Jasin, yang kini menyandang gelar Pahlawan Nasional. Peran Jasin dalam sejarah institusi ini berawal pada 21 Agustus 1945, ketika ia menjabat Komandan Tokubetsu Keisatsutai, atau yang dikenal sebagai Polisi Istimewa Surabaya. Pada tanggal tersebut, Jasin secara resmi menyatakan bahwa kesatuan yang ia pimpin telah menjadi bagian dari Kepolisian Negara Republik Indonesia — sebuah deklarasi yang mengubah status organisasi dari aparat kolonial menjadi institusi negara merdeka.
Langkah deklarasi itu tidak berhenti di ruang komando. Jasin kemudian menyerukan kepada seluruh anggota Polisi Istimewa agar mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dengan melucuti senjata tentara Jepang yang masih berkecimpung di kota. Peristiwa di Surabaya itu menjadi salah satu tonggak paling fundamental dalam sejarah perjuangan Polri dan diperingati setiap 21 Agustus sebagai Hari Juang Polri.
Jejak pengabdian Jasin tidak berhenti pada tahun 1945. Pada 1946, ketika ia menjabat Kepala Kepolisian Karesidenan Malang, ia menerima mandat langsung dari Kapolri saat itu, Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, untuk membentuk Brigade Mobil. Unit yang ia dirikan tersebut kelak berkembang menjadi Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri — salah satu kekuatan operasional paling vital dalam struktur keamanan nasional. Dengan demikian, warisan Jasin menyentuh dua pilar sekaligus: identitas kelembagaan kepolisian dan kapasitas penanggulangan gangguan keamanan dalam negeri.
“Karena itu, M. Jasin bukan hanya bagian dari sejarah Hari Juang Polri, tetapi juga memiliki jasa besar dalam perjalanan Brimob. Semangat dan pengabdiannya patut terus dikenalkan kepada generasi penerus Polri.”
Pesan untuk Generasi Penerus: Keberanian yang Tetap Relevan
Khofifah secara eksplisit mengajak seluruh anggota Polri meneladani keberanian dan keteguhan Moehammad Jasin. Dalam pandangannya, nilai-nilai yang diwariskan Jasin tidak menjadi artefak museum; ia tetap relevan dalam pelaksanaan tugas kepolisian kontemporer yang menghadapi tantangan jauh lebih kompleks dibanding era 1945.
“Polri harus hadir memberikan rasa aman, menjaga ketertiban, menegakkan hukum, sekaligus memberikan pelayanan yang cepat, responsif dan humanis kepada masyarakat.”
Ia menekankan bahwa mengenang sosok Jasin berarti menjaga nilai perjuangan agar tetap hidup dan diterjemahkan dalam bentuk pengabdian yang sesuai dengan tantangan zaman. Dalam konteks ini, peringatan Hari Juang Polri bukan nostalgia belaka, melainkan pengingat bahwa setiap seragam yang dikenakan hari ini memikul tanggung jawab yang sama dengan yang dipikul para pendahulu: melindungi rakyat tanpa kompromi.
Sinergi Keamanan di Jawa Timur
Di luar dimensi historis, Khofifah juga menyoroti aspek operasional keamanan di wilayah Jawa Timur. Ia mengapresiasi dedikasi jajaran Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di provinsi berpenduduk lebih dari 43 juta jiwa tersebut. Bagi Khofifah, stabilitas daerah tidak dapat dicapai oleh satu institusi secara tunggal. Sinergi antara Polri, Tentara Nasional Indonesia (TNI), pemerintah daerah, dan masyarakat luas menjadi modal penting dalam mempertahankan situasi kondusif.
Pesan ini membawa implikasi praktis: peringatan Hari Juang Polri, sebagaimana diperingati di Surabaya, sekaligus menjadi ruang konsolidasi komitmen lintas sektor. Ketika Kapolri dan gubernur berdiri berdampingan di monumen yang menyimpan memori perjuangan, sinyal yang disampaikan kepada publik adalah bahwa keamanan bukan sekadar urusan aparat, melainkan tanggung jawab kolektif yang menuntut partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
Dalam kerangka itulah, ajakan Khofifah untuk menghidupkan kembali semangat pengabdian Moehammad Jasin memperoleh dimensi yang lebih luas. Ia bukan sekadar seruan sentimental, melainkan pengingat institusional bahwa setiap kebijakan keamanan, setiap patroli, setiap respons terhadap laporan warga, harus berpijak pada prinsip pengabdian yang sama dengan yang menggerakkan seorang komandan polisi di Surabaya pada Agustus 1945 — berkhidmat kepada masyarakat, bangsa, dan negara tanpa pamrih.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Khofifah ajak hidupkan semangat pengabdian Pahlawan?
Khofifah ajak hidupkan semangat pengabdian Pahlawan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Khofifah ajak hidupkan semangat pengabdian Pahlawan matter?
Khofifah ajak hidupkan semangat pengabdian Pahlawan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

