Special Plan: Pengamat sebut kapal induk harus sesuai dengan kebutuhan pertahanan RI

Pengamat Sebut Kapal Induk Harus Sesuai dengan Kebutuhan Pertahanan RI

Special Plan – Jakarta, Rabu – Dalam upaya meningkatkan kemampuan pertahanan laut Indonesia, beberapa ahli menggarisbawahi pentingnya memastikan penggunaan kapal induk Giuseppe Garibaldi sesuai dengan kebutuhan strategis TNI AL. Gerry Soejatman, seorang pengamat pertahanan, menyoroti bahwa pengambilan keputusan terkait kapal tersebut harus didasari pertimbangan matang, mengingat kapal induk memiliki peran berbeda tergantung jenisnya. Menurutnya, TNI AL perlu memahami perbedaan fungsi kapal induk sebelum memutuskan untuk mengoperasikannya.

Analisis Gerry Soejatman: Klasifikasi Kapal Induk

Gerry menegaskan bahwa kapal induk dapat dibagi menjadi dua kategori utama: jenis yang dioperasikan sebagai kekuatan utama dengan kemampuan air wings yang kuat, dan jenis light aircraft carrier seperti Giuseppe Garibaldi. Kapal ini, lanjutnya, dirancang khusus untuk operasi cepat di perairan dalam negeri, bukan untuk misi laut internasional yang memerlukan kekuatan lebih besar. “Dengan karakteristik ini, Giuseppe Garibaldi bisa menjadi pilihan tepat untuk mendukung operasi domestik,” ujarnya.

“Kita perlu membagi dua kategori kapal induk, yaitu yang dapat beroperasi sebagai kekuatan utama sepenuhnya dengan kemampuan air wings yang mumpuni, untuk gelar operasi dan ada jenis light aircraft carrier seperti ITS Giuseppe Garibaldi masuk dalam kelas ini,”

Dalam wawancara di Jakarta, Gerry menjelaskan bahwa Giuseppe Garibaldi adalah kapal induk yang diproduksi oleh Fincantieri, perusahaan galangan kapal asal Italia. Kapal ini awalnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan operasi militer Italia, terutama dalam kegiatan pertahanan perairan negara mereka. Hal tersebut, menurut Gerry, membuat kapal ini relevan bagi TNI AL karena fokusnya pada operasi dalam wilayah, bukan ekspedisi laut jarak jauh.

Penggunaan Kapal Induk untuk Kebutuhan Domestik

Kapal induk Giuseppe Garibaldi memiliki kelebihan dalam mendukung operasi seperti pengangkutan logistik antar wilayah, misi kemanusiaan, atau operasi militer selain perang (OMSP). Gerry menekankan bahwa kapal ini cocok untuk kebutuhan pertahanan Indonesia karena tidak perlu mengandalkan kekuatan air wings yang besar. “Kita bisa menggunakannya sebagai helicopter carrier untuk kebutuhan operasi perairan dalam Indonesia, bukan untuk tujuan blue water navy,” tuturnya.

Blue water navy merujuk pada kekuatan laut yang mampu melakukan operasi di perairan internasional, sementara kapal induk Giuseppe Garibaldi lebih sesuai untuk operasi domestik. Gerry menjelaskan bahwa TNI AL memerlukan kapal yang bisa beradaptasi dengan kondisi wilayah pesisir Indonesia, yang secara geografis berbeda dari lautan terbuka. Dengan kapal ini, TNI AL bisa memperkuat keberadaannya di perairan dalam negeri, terutama di wilayah yang kurang terjangkau oleh fasilitas militer lainnya.

Perawatan Mesin dan Usia Kapal Induk

Meski Giuseppe Garibaldi dinilai cocok untuk kebutuhan pertahanan Indonesia, Gerry menyoroti bahwa pemerintah harus siap mengeluarkan dana lebih besar untuk perawatan mesin. Kapal tersebut telah berusia 40 tahun, dan usia yang cukup tua ini berisiko menurunkan performa. “Proses perawatan menjadi krusial untuk memperpanjang masa pakai kapal dan mengoptimalkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan TNI,” katanya.

Perawatan mesin ini mencakup beberapa aspek penting, seperti pemeriksaan sistem navigasi, pembongkaran komponen rusak, dan penyesuaian teknologi kapal induk. Gerry menambahkan bahwa perawatan yang teratur akan memastikan kapal tetap dapat beroperasi secara efektif, bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem atau jarak tempuh yang jauh. Dengan melakukan hal ini, TNI AL bisa memanfaatkan kapal induk sebagai alat pendukung kebutuhan pertahanan nasional.

Pandangan Alman Hevas Ali: Kemitraan dengan Fincantieri

Sebagai tambahan, Alman Hevas Ali, pengamat sekaligus konsultan Marapi, menegaskan bahwa Fincantieri tetap menjadi pihak yang kompeten dalam menjalankan perawatan kapal Giuseppe Garibaldi. “Karena selama berdinas di AL Italia, kapal tersebut dilakukan perawatan oleh pihak mereka, termasuk maintenance, repair, and overhaul (MRO),” ujarnya.

“Karena selama berdinas di AL Italia untuk MRO ( maintenance, repair, and overhaul )​​​​ kapal tersebut dilakukan oleh pihak mereka,”

Alman menjelaskan bahwa Fincantieri memiliki pengalaman historis dalam merawat Giuseppe Garibaldi sejak 1985 hingga 2024, sehingga bisa menjadi mitra yang andal. Namun, ia menekankan bahwa TNI AL tidak perlu sepenuhnya bergantung pada perusahaan asing tersebut. Sambil menyerahkan perawatan kepada Fincantieri, TNI bisa mulai mencari galangan kapal dalam negeri yang memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan sekaligus pengembangan teknologi.

Dalam pandangan Alman, kemampuan MRO adalah faktor kritis dalam menjaga ketersediaan kapal induk. Ia mengusulkan bahwa TNI perlu mempelajari potensi galangan nasional yang bisa memberikan layanan perawatan berkualitas. “Kita perlu membangun kemampuan MRO lokal, karena hal ini akan memperkuat ketahanan logistik dan keandalan operasi di masa depan,” tambahnya.

Kebutuhan Strategis untuk Masa Depan

Kapal induk Giuseppe Garibaldi, yang telah berlayar sejak 1985, adalah contoh bagaimana kebutuhan militer bisa berubah seiring waktu. Gerry menegaskan bahwa TNI AL harus beradaptasi dengan tugas baru, seperti operasi pengangkutan logistik dan penyelematan bencana, yang memerlukan kapal yang lebih fleksibel. “Dengan menerapkan pendekatan ini, TNI bisa memanfaatkan kapal induk sebagai alat pendukung, bukan sebagai kekuatan utama,” ujarnya.

Alman juga menggarisbawahi pentingnya memperkuat kapasitas industri galangan kapal nasional. Ia menilai bahwa keberhasilan perawatan Giuseppe Garibaldi bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan keterampilan dan teknologi dalam negeri. “Jika kita bisa menyesuaikan kapal induk dengan kebutuhan TNI, maka Indonesia akan lebih mandiri dalam hal pertahanan laut,” katanya.

Kedua ahli sepakat bahwa Giuseppe Garibaldi memperlihatkan potensi besar untuk berkontribusi pada kekuatan pertahanan Indonesia, asalkan penggunaannya disesuaikan dengan skenario operasional yang relevan. Meski ada tantangan dalam perawatan mesin, langkah ini dianggap penting untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Dengan memanfaatkan kapal induk yang tepat, TNI AL diharapkan dapat menjawab ancaman dan tantangan pertahanan laut yang semakin kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *