Pentagon Akui Sekitar 140 Personel AS Terluka selama Perang Iran – 8 Orang Cedera Parah
Pentagon Akui Sekitar 140 Personel AS Terluka selama Perang Iran, 8 Orang Cedera Parah
Washington, AS – Sean Parnell, juru bicara Pentagon, mengungkapkan dalam pernyataan email yang diambil oleh Associated Press bahwa sekitar 140 anggota militer Amerika Serikat terkena cedera selama konflik dengan Iran. “Sebagian besar dari cedera ini bersifat ringan,” katanya. Dari total tersebut, 108 orang telah pulih dan kembali menjalankan tugas. Namun, delapan personel mengalami luka serius.
Konfirmasi Dari Gedung Putih
Karoline Leavitt, juru bicara Gedung Putih, juga mengisyaratkan angka yang serupa, mengonfirmasi bahwa laporan Reuters tentang 150 tentara AS terluka berada dalam rentang yang tepat. Ia menegaskan argumen pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa kenaikan harga energi bersifat sementara. Leavitt menambahkan bahwa harga minyak dan gas akan turun, bahkan mungkin mencapai tingkat lebih rendah daripada sebelum konflik dimulai.
“Operasi militer ini akan menurunkan harga energi untuk rakyat Amerika,” ujarnya.
Pada hari Selasa, Leavitt membantah klaim Menteri Energi AS Chris Wright yang menyebut Angkatan Laut AS sedang mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, di tengah ketegangan mengenai pengiriman minyak dan gas. Wright, yang menyampaikan pernyataan tersebut di X, kemudian menghapus unggahan itu setelah konfirmasi dari Gedung Putih.
Penyerangan Iran dan Dampaknya
Kemarin, di Beit Shemesh, satu stasiun satelit menjadi korban serangan. Tentara Israel menyelidiki kejadian tersebut, tetapi warga setempat yakin bahwa serangan Iran terhadap stasiun radar di daerah itu telah mengurangi keuntungan signifikan Israel dalam sistem peringatan dini.
Dilaporkan bahwa serangan Iran terus meningkat, termasuk roket dari Hizbullah dan kerusakan terhadap infrastruktur pengawasan Israel. Sirene tidak berbunyi, menunjukkan sistem peringatan sedang mengalami gangguan. Kekhawatiran muncul bahwa rudal Iran mampu menargetkan lebih banyak wilayah di Israel, meskipun detail sensor militer belum diungkapkan secara rinci.
Sementara itu, terjadi kontras gaya elite dalam konflik tersebut, dengan Rolex di satu sisi dan Casio di sisi lain. Hal ini mencerminkan perbedaan status dan kemewahan antara pihak-pihak yang terlibat.