Hasil Pertemuan: Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Cuma Pangkas Sekali di Tengah Perang?
Tok! The Fed Tahan Suku Bunga, Cuma Pangkas Sekali di Tengah Perang?
Jakarta, CNBC Indonesia – The Federal Reserve (The Fed) kembali menetapkan suku bunga di level 3,50-3,75% setelah pertemuan dua hari Federal Open Market Committee (FOMC) yang diadakan Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026). Meski harga minyak global melonjak akibat konflik dengan Iran, keputusan ini menunjukkan kecenderungan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang stabil.
Dalam kesimpulan rapat, anggota FOMC memberikan suara 11 berbanding 1 untuk menjaga suku bunga. “Ketidakpastian soal pertumbuhan ekonomi masih tinggi, sementara dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian AS belum jelas,” jelas pernyataan The Fed, seperti dikutip dari situs resminya.
Kebijakan yang Berat
“Kami berada dalam situasi yang sulit. Kami harus menyeimbangkan kedua risiko tersebut,” ujar Jerome Powell, Presiden The Fed, dalam konferensi pers setelah rapat, dikutip dari CNBC International.
Powell mengakui bahwa bank sentral menghadapi dilema antara melemahnya risiko pasar tenaga kerja, yang biasanya memerlukan penurunan suku bunga, dan meningkatnya tekanan inflasi, yang bisa menjaga suku bunga tetap tinggi. Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4% pada Februari 2026, dari 4,3% di bulan sebelumnya, dengan angka tersebut mendekati level tertinggi empat tahun terakhir, yaitu 4,5% yang tercatat November.
Inflasi tahunan di AS tetap stabil di 2,4% (YoY) Februari 2026, tidak berubah dari Januari. Namun, angka ini diperkirakan akan naik karena dampak perang Iran. Powell menyatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak memenuhi definisi stagflasi, seperti era 1970-an, ketika pengangguran tinggi dan inflasi melonjak tajam.
Proyeksi untuk Masa Depan
Menurut Powell, tingkat pengangguran sekarang hampir mencapai level normal jangka panjang, sementara inflasi hanya sedikit di atas target 2%. “Stagflasi lebih tepat untuk situasi yang jauh lebih serius,” tambahnya.
Powell juga menegaskan bahwa dampak perang masih belum bisa diprediksi secara pasti. Meski ekonomi AS terlihat cukup baik, ia belum yakin bagaimana konflik akan memengaruhi pertumbuhan. Peningkatan produksi energi domestik, sebagai eksportir minyak bersih, diharapkan bisa mengimbangi tekanan harga minyak.
Proyeksi suku bunga dalam grafik “dot plot” menunjukkan satu pemangkasan pada 2026 dan satu lagi di 2027, meskipun jadwalnya belum jelas. Dari 19 peserta FOMC, tujuh orang memprediksi penurunan suku bunga, menunjukkan kemungkinan kebijakan moneter akan terus berubah sesuai dinamika pasar.